Kehabisan kamu, akupun kehabisan bahan untuk menulis. Harusnya memang tidak boleh seperti ini, dan memang tidak baik seperti ini.
Tetapi kamu. Menjadi memori paling jelas di dalam kepalaku, sabtu lalu.
Bahkan seorang jelmaan malaikat seperti Remedy Waloni saja seketika terhapus ketika aku kembali bertatap mata denganmu.
Kamu tidak banyak berubah, ya.
Hanya saja, kali ini, aku tidak seberani dahulu tertawa sambil melihat kedalam matamu.
kali ini, aku bahkan tidak bisa memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan basa-basi mu.
Aku sangat senang bertemu denganmu malam itu,
Meski ketika berdiripun aku harus menjaga jarak cukup jauh darimu.
Kita terbiasa berdiri berdampingan dan saling menyentuh, ingat?
Tapi tak apa. Aku sudah mampu berdiri sendiri.
Cukup lama ya, ternyata, kita tidak bertemu?
Kau menanyakan mengapa aku memotong rambutku.
Dan sungguh, aku tahu alasanku memotong tak lain karena bosan,
tetapi mengapa yang terlintas di pikiranku saat itu, adalah kamu?
Seorang kawan pernah mengkhawatirkanku, berlebihan memang.
Ia bertanya apakan alasanku memotong rambut adalah karena ingin memulai sesuatu yang baru--
yaitu bersamaan dengan aku memotong rambutku--aku juga menghapuskan namamu dari kepala.
Mungkin, iya. Mungkin juga tidak.
Pikiranku memang mudah membohongi diriku sendiri.
Lihat, aku sebuah sistem yang sangat kompleks, bukan?
Sungguh, d. Aku tidak membutuhkan apa-apa.
Aku tidak menginginkan kamu. Sungguh.
Aku hanya ingin masih menjadi bagian dari hidupmu.
Terlepas dari seberapa dalam aku terluka karena mencintaimu, aku tetap mengagung-agungkan tawa saat kita masih bersama. Aku pernah bahagia. Lebih dalam dari aku terluka.
Dan aku merindukanmu,
segala hal tentang aku dan kamu.
----semoga kamu berjalan terus melaju. Sesekali, tengoklah ke belakang. aku masih berdiri di tempat yang sama.--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar