quote of the day :)
and walkers, i wanna show you tuannico's writing. he's awesome. check his --> http://tuannicogarukgarukpala.wordpress.com/ and i heart his entry called
selalu ada sesuatu..
Posted: 7 December 2010 by tuannico in tentang hidup, pertanyaanTags: ada, racauan, twitter
bermula dari sebuah ruang, suatu senja di minggu sore, setelah hampa menemukan artinya. saat ruang kosong itu yang tak lagi sunyi. penuh suara, suara-suara yang tak terdengar. tertumpuk kata, tanpa tanda baca. bertumpuk makna, tak pernah diketahui.
sendiri menggambar sepi di dinding kamar, besar. tak berwarna dengan goresan tak beraturan, melingkar.
sendiri menggambar sepi di dinding kamar, besar. tak berwarna dengan goresan tak beraturan, melingkar.
saat kau menemukanku, mungkin kau tak akan pernah tahu itu siapa.
aku yang mana?
dan sebuah tanya selalu dimulai dari: sini.
aku yang mana?
dan sebuah tanya selalu dimulai dari: sini.
***
ada ubur-ubur di langit. berwarna merah muda. bersirip.
ada pelangi senja di malam buta. melintasi gang sempit di pusat kota.
dan lampu warna warni tampak mati, menggambar sunyi.
ada kerikil tersepak di tepi jalan berdebu, tak terbaca dalam cuaca.
dan dedaunan jatuh, menyusuri jalan yang semu.
dan lampu warna warni tampak mati, menggambar sunyi.
ada kerikil tersepak di tepi jalan berdebu, tak terbaca dalam cuaca.
dan dedaunan jatuh, menyusuri jalan yang semu.
ada potongan sepi berserakan di jalanan dengan marka yang memudar,
di setiap goresan gambar senyuman pada dinding gedung tua, di kamar-kamar.
di setiap goresan gambar senyuman pada dinding gedung tua, di kamar-kamar.
ada bayangan terang tersembunyi di balik redup lampu taman.
penggalan-penggalan tanya yang tergores di kursi-kursi tua. ada gelisah sepertinya.
penggalan-penggalan tanya yang tergores di kursi-kursi tua. ada gelisah sepertinya.
ada lukisan tanpa wajah, menatap hampa.
di sudut rumah itu, di ujung jalan yang buntu.
dan nama nama tak berhuruf, terpaku.
di sudut rumah itu, di ujung jalan yang buntu.
dan nama nama tak berhuruf, terpaku.
ada langkah terseret penuh gaya di antara bangunan megah. mengintip.
ada lirikan tak bertuan, terukir di batang pohon, kamboja, tak berkawan, tak bernyawa.
ada lirikan tak bertuan, terukir di batang pohon, kamboja, tak berkawan, tak bernyawa.
ada bisik-bisik, di deru-deru kebisingan tanpa suara.
ada kata-kata tak terbaca.
dan kotak korek api, seperti petaka di gelap sepi.
ada kata-kata tak terbaca.
dan kotak korek api, seperti petaka di gelap sepi.
ada kotak surat tak terpakai, bersandar malas pada pagar rumah entah milik siapa.
ada pesan tertinggal, tak pernah sampai.
ada pesan tertinggal, tak pernah sampai.
ada pohon tua yang melambai, dedaunan jatuh. memanggil hujan.
padahal kebun kentang sudah siap panen. ada penjaga bergaya keren.
padahal kebun kentang sudah siap panen. ada penjaga bergaya keren.
ada genangan-genangan kecil di jalanan basah, terbuyarkan langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa.
dingin beringsut pindah. hendak ke mana?
dingin beringsut pindah. hendak ke mana?
ada sebuah payung yang tak henti menunggu terlipat.
mengumpat tak henti, dihujam tajamnya titik hujan.
mengumpat tak henti, dihujam tajamnya titik hujan.
ada yang mencari senyum, terlupa bagaimana cara meletakkan di wajah.
ada yang meraba tawa, tak ingat cara menyuarakannya.
ada yang meraba tawa, tak ingat cara menyuarakannya.
ada badut berhidung biru, berpipi merah, malu-malu.
“ini senyuman” sambil menggambar lengkungan di bibirnya, palsu.
“ini senyuman” sambil menggambar lengkungan di bibirnya, palsu.
ada kekusutan, dan setrika rusak yang tak lagi berfungsi.
katanya di bulan ada puisi? di mana?
tapi di bulan ada pesta kunang-kunang, tengah hari.
monster kentang berlari-lari, cari mencari.
katanya di bulan ada puisi? di mana?
tapi di bulan ada pesta kunang-kunang, tengah hari.
monster kentang berlari-lari, cari mencari.
ada pertanyaan yang tak terjawab, tak pernah.
ada malam-malam terlalui tanpa spasi.
ada mimpi-mimpi yang tak bertitik. tak berkutik.
ada malam-malam terlalui tanpa spasi.
ada mimpi-mimpi yang tak bertitik. tak berkutik.
ada racauan tanpa makna, ada caci maki tanpa henti.
ada suara-suara tanpa kata, ada gurauan tanpa arti.
ada yang hilang, di sini.
ada suara-suara tanpa kata, ada gurauan tanpa arti.
ada yang hilang, di sini.
ada yang selalu sama, dan tak pernah berubah.
memaki sepi. mencintai sunyi.
ada yang hilang, selalu ada yang hilang.
memaki sepi. mencintai sunyi.
ada yang hilang, selalu ada yang hilang.
hentikan. bilang pada cermin: hentikan!
ada yang bertanya, ada yang semakin bingung, sendirian.
sekian.
sekian.
***
katanya semalam ada hujan meteor. ramai. di mana? di hatiku.
apa rasanya hujan meteor, tuan?
seperti rasa selai kacang nanas, dalam roti yang panas.
apa rasanya hujan meteor, tuan?
seperti rasa selai kacang nanas, dalam roti yang panas.
dan katanya hujan tak berhenti. di mana?
di sudut lorong kecil tak berujung ini. tempat ubur-ubur merah muda bersembunyi. seperti pohon mati yang tak menghijau lagi. tak tersenyum, tak tertawa. tak lagi bicara. segenggam api, memeluk, tak henti menunjuk.
dan kapan terakhir kali kita berkata tentang rindu?
di sudut lorong kecil tak berujung ini. tempat ubur-ubur merah muda bersembunyi. seperti pohon mati yang tak menghijau lagi. tak tersenyum, tak tertawa. tak lagi bicara. segenggam api, memeluk, tak henti menunjuk.
dan kapan terakhir kali kita berkata tentang rindu?
ah hentikan, sudah.
racauan gila ini tak akan pernah usai, selesai.
racauan gila ini tak akan pernah usai, selesai.
[catatan (mungkin) penting : rangkaian racauan di twitter, 5-7 desember, dan bergabung dengan kata-kata di tempat ini. bukan sesuatu yang harus kau mengerti, meski sesuatu itu selalu ada, pasti.]
can you feel his? let's check more.
terjerat: berawaL kebosanan, berakhir di peLukan. .
Posted: 18 August 2010 by tuannico in tentang hidup, sahabatTags: teman, bosan, twitter, fiksi, kita, anjinggombaL, tweet, terjerat
aku mengamatimu sore itu. daLam jemu yang kau rasakan, daLam bosan yang membuatmu tenggeLam.
aku memperhatikanmu.
dan kita berbincang, daLam kata yang tak berawaL, daLam geLisah yang tak tersangkaL. kukirimkan potongan-potongan kata yang terangkai menjadi bait-bait kerinduan di antara kita. aku dan kamu. harus bertemu. saat ini.
aku memperhatikanmu.
dan kita berbincang, daLam kata yang tak berawaL, daLam geLisah yang tak tersangkaL. kukirimkan potongan-potongan kata yang terangkai menjadi bait-bait kerinduan di antara kita. aku dan kamu. harus bertemu. saat ini.
***
aku:
kamu bosan?
LihatLah ke Langit, LaLu amati awan keLabu itu.
dan temukanLah senyumku di situ. untukmu.
kamu bosan?
LihatLah ke Langit, LaLu amati awan keLabu itu.
dan temukanLah senyumku di situ. untukmu.
kamu:
aku bosan, makin bosan jika harus memandang langit.
awannya terlalu kelabu, mataku meraba untuk menemukan senyummu di baliknya.
aku bosan, makin bosan jika harus memandang langit.
awannya terlalu kelabu, mataku meraba untuk menemukan senyummu di baliknya.
aku:
sebosan itu kah. ah, awan itu memang terLaLu mengganggu.
baikLah, tungguLah hujan turun.
aku akan menemuimu.
sebosan itu kah. ah, awan itu memang terLaLu mengganggu.
baikLah, tungguLah hujan turun.
aku akan menemuimu.
kamu:
bosan sebosan-bosannya pluto yg kesepian jauh dari matahari.
hujan? di sini terlalu sepi, terlalu kering..
aku ragu hujan bisa mengatasi bosanku.
aku:
kesepianmu membuatku bingung.
sudahLah, ikut aku saja ke samudera.
tapi mungkin hujan juga tak hadir di sana.
kesepianmu membuatku bingung.
sudahLah, ikut aku saja ke samudera.
tapi mungkin hujan juga tak hadir di sana.
kamu:
samudera?
aku tidak peduli kemana tujuan kita,
asalkan selama perjalanan kau janji tidak akan pernah melepaskan genggamanmu di jiwaku.
samudera?
aku tidak peduli kemana tujuan kita,
asalkan selama perjalanan kau janji tidak akan pernah melepaskan genggamanmu di jiwaku.
aku:
kita akan terus saLing bergenggaman. berLarian keciL di baLik awan.
menjeLma jadi hujan dan menari di haLaman.
kita akan terus saLing bergenggaman. berLarian keciL di baLik awan.
menjeLma jadi hujan dan menari di haLaman.
kamu:
dengan genggammu, jangankan menari, dikucilkan dunia pun aku siap.
aku siap menjadi hujan yang teduhkan panasmu.
aku siap, asal ada kamu.
dengan genggammu, jangankan menari, dikucilkan dunia pun aku siap.
aku siap menjadi hujan yang teduhkan panasmu.
aku siap, asal ada kamu.
aku:
daLam genggaman ini, kita menyepi merangkai dunia miLik sendiri.
asaLkan bersama, kita bisa menjadi apa saja.
bagaimana jika ke angkasa?
daLam genggaman ini, kita menyepi merangkai dunia miLik sendiri.
asaLkan bersama, kita bisa menjadi apa saja.
bagaimana jika ke angkasa?
kamu:
dalam genggamanmu aku percaya. percaya menitipkan jiwaku di sakumu.
ke angkasa?
apakah angkasa yg kau maksud bernama masa depan?
dalam genggamanmu aku percaya. percaya menitipkan jiwaku di sakumu.
ke angkasa?
apakah angkasa yg kau maksud bernama masa depan?
aku:
aku akan memeLuk jiwamu setiap hari dan berbagi semua kehangatan daLam genggaman ini.
ah! ya, masa depan, tempat semua impian.
aku akan memeLuk jiwamu setiap hari dan berbagi semua kehangatan daLam genggaman ini.
ah! ya, masa depan, tempat semua impian.
kamu:
adamku.. pegang hatiku, aku percayakan masa depanku di genggamanmu.
jadikan aku hawamu, agar aku bisa hangatkan di tiap detik langkahmu menuju abu-abu.
adamku.. pegang hatiku, aku percayakan masa depanku di genggamanmu.
jadikan aku hawamu, agar aku bisa hangatkan di tiap detik langkahmu menuju abu-abu.
aku:
hatimu ‘kan kupegang erat dan kuLetakkan di tempat terbaik di hatiku ini.
seperti masa depan,
kita jaLani dengan Langkah yang beriringan.
hatimu ‘kan kupegang erat dan kuLetakkan di tempat terbaik di hatiku ini.
seperti masa depan,
kita jaLani dengan Langkah yang beriringan.
kamu:
dan jiwamu akan kujahit menyatu dengan jiwaku.
bukan untuk mengikat tapi agar saling ingat.
di mana pun ragamu, yakinlah ada aku.
dan jiwamu akan kujahit menyatu dengan jiwaku.
bukan untuk mengikat tapi agar saling ingat.
di mana pun ragamu, yakinlah ada aku.
aku:
pikiran kita pun tersatukan, daLam ruang yang penuh kata.
berbisik peLan, meLantunkan cinta.
di mana pun ragaku, seLaLu ada kamu.
pikiran kita pun tersatukan, daLam ruang yang penuh kata.
berbisik peLan, meLantunkan cinta.
di mana pun ragaku, seLaLu ada kamu.
kamu:
jiwaku tersenyum memandang hangat cintamu yang tak sekedar kata-kata.
hadirmu menyulap nyata melebihi indahnya mimpi.
jiwaku tersenyum memandang hangat cintamu yang tak sekedar kata-kata.
hadirmu menyulap nyata melebihi indahnya mimpi.
aku:
kurangkai senyum itu menjadi singgasana, tempat aku memuja dan menyerahkan hidup padamu.
kamu adaLah nyata di baLik mimpi-mimpi kita.
kurangkai senyum itu menjadi singgasana, tempat aku memuja dan menyerahkan hidup padamu.
kamu adaLah nyata di baLik mimpi-mimpi kita.
kamu:
kuabdikan tiap detikku di singgasanamu.
ku jadikan senyummu sebagai matahariku, kubalut dindingnya dengan hangatmu.
hatimu, rumah nyata bahagiaku.
kuabdikan tiap detikku di singgasanamu.
ku jadikan senyummu sebagai matahariku, kubalut dindingnya dengan hangatmu.
hatimu, rumah nyata bahagiaku.
aku:
singgasana ini adaLah tempat terindah, berbagi rasa,
daLam rumah bahagia bernama masa depan.
aku akan menjadi apa pun: untukmu.
singgasana ini adaLah tempat terindah, berbagi rasa,
daLam rumah bahagia bernama masa depan.
aku akan menjadi apa pun: untukmu.
kamu:
maka jadilah adamku. ‘kan kubuat duniamu seperti surga
sebagai ucapan terimakasih atas tulang rusukmu yang membuat aku ada.
maka jadilah adamku. ‘kan kubuat duniamu seperti surga
sebagai ucapan terimakasih atas tulang rusukmu yang membuat aku ada.
aku:
biarkan aku menjadi adammu dan kamu sebagai hawaku.
kini aku teLah menemukan tuLang rusukku yang hiLang,
dan kita tak ‘kan terpisahkan.
biarkan aku menjadi adammu dan kamu sebagai hawaku.
kini aku teLah menemukan tuLang rusukku yang hiLang,
dan kita tak ‘kan terpisahkan.
kamu:
kamu adam. aku hawa.
ini surga?
kamu adam. aku hawa.
ini surga?
aku:
ya, iniLah surga. surga yg terbuat dari cinta kita.
senandung kata indah akan seLaLu kita temukan.
seLama kita berpegangan tangan.
ya, iniLah surga. surga yg terbuat dari cinta kita.
senandung kata indah akan seLaLu kita temukan.
seLama kita berpegangan tangan.
kamu:
jika benar ini surga, maka jauhkanlah aku dari dosa yg bisa mengusirku dari sini.
jadikan aku halal untukmu. adamku..
jika benar ini surga, maka jauhkanlah aku dari dosa yg bisa mengusirku dari sini.
jadikan aku halal untukmu. adamku..
aku:
kuambiLkan cincin saturnus dan kuLingkarkan di jari manismu.
kita berjanji tentang setia.
kemariLah,
peLuk aku erat,
seLamanya.
kuambiLkan cincin saturnus dan kuLingkarkan di jari manismu.
kita berjanji tentang setia.
kemariLah,
peLuk aku erat,
seLamanya.
***
kita, adaLah kerinduan yang meLebur daLam waktu. mengaLirkan rasa. menjerat kata ketika segaris wajah murung menjadi ceria. kita mencari masa depan bernama impian dan merasakan cinta di udara, di angkasa.
kita adaLah: satu.
kita adaLah: satu.
[seLasa, 17/08/10 16:33 - rabu, 18/08/10 22:22]
***
***
[ catatan (mungkin) penting: kumpuLan kata ini adaLah saLing berbaLas kata 140 karakter di twitter dengan tante ekaotto (sebagai: kamu). sesuai permintaan, kata-kata miLiknya tidak saya tuLis daLam 'L' kapitaL (ini permintaann yang mengerikan!)
berawaL dari kebosanan, berakhir di peLukan. terimakasih ya.
kunjungi juga bLognya disisayappatah dan postingan versi tante ekaotto di "dia.. menyapa bosan dengan peLukan."]
yeahs. i know, whereas, my tears start dropping. enjoy ;')

Tidak ada komentar:
Posting Komentar