26.12.14

dalam sebuah peraturan yang bernama cinta;
tidak ada tidak dan tidak ada iya,
yang ada hanya angguk yang terjadi setelah bertatapan lama.

dalam sebuah aturan yang bernama cinta;
tidak ada sekarang atau selamanya,
penggalan waktu terbagi ketika sedang bersama atau tidak sedang bersama.
kita terpisahkan bukan dengan jarak,
tapi dengan sampai nanti ketika kita bertemu lagi.

18.12.14

                                 
aku mau lari saja.
sendirian.
mencari tenang.
biar peluh membanjiri tubuh,
sampai mata penuh kunang-kunang.
urat kemudian menegang.
membuat dada sesak rasanya,
 seperti dunia tiba-tiba kehilangan udaranya.
atau
kemudian pingsan.


aku mau lari saja.
sendirian
mencari tenang.
sampai tahu bagaimana caranya mengalahkan,
atau mengalah
dari kenangan yang membeban.






-a really, really beautiful words, written by Try Juandha.-

17.12.14

"kata-katamu sangat dalam, menggambarkan betapa sakitnya luka itu.
secinta itukah kau?
sesayang itu?"

Bukankah kita sudah sama-sama tahu jawabannya, Mi?

sekelebat

"apa yang membuatmu begitu mencintainya?"

aku terdiam. lama berusaha memikirkan jawaban. mengolah kata, merangkainya satu persatu, tapi nihil. Ternyata aku telah jatuh cinta tanpa membutuhkan alasan. Aku mencintaimu dalam sebuah kerumitan yang sederhana... Mengerti? Begitu rumit. Sehingga kubiarkan ia makin merumit. Disitulah kutumbuhkan paradoksnya; ketika ia mencapai titik maksimum, hanya sebuah bongkah sederhana yang akan kau temukan. Namanya cinta.

Bisa sih, kalau kalian mau aku menjabarkan alasan-kenapa dia-dan segala tetek bengeknya. Namun bukankah akan percuma, mendefinisikan suatu perasaan yang membutakan, dimana yang aku pijak, semua beralaskan ketidakrasionalan.

Aku bisa membujuk Sapardi untuk membuatkan puisi yang indah, yang mana isinya adalah keindahan yang menjelma menjadi manusia, bernama kamu.

Aku bisa merajuk Iwan Fals untuk membuatkan lagu bernada pentatonis, dimana eleginya menyenandungkan namamu dengan manis.

Aku pernah mencoba mendefinisikan alasan-alasan ini berdasarkan jumlah bintang yang bertaburan di gelapnya malam. Aku sangat lihai dan lancar melafalkannya; sampai aku kehabisan bintang untuk ditunjuk.


16.12.14

siapapun wanita itu,
aku berharap ia dapat menyamai langkahku.
aku harap ia bersedia menemanimu, tak peduli jam menunjukkan angka 1 pagi.
Disaat kamu merasa sendiri dan hanya ingin hancur menangisi.
akulah yang ada disana. Tidakkah engkau mengerti?

siapapun wanita itu,
aku berharap ia dapat membuatmu tertawa tiada henti.
sudah cukup banyak hal yang memberati punggungmu, sayang.
aku harap wanita itu mengerti.

siapapun wanita itu,
aku berharap ia dapat menemanimu berelegi.
menyanyikan bait yang tak tersampaikan,
seperti yang aku dan kamu biasa lakukan.

siapapun wanita itu, kelak,
yang aku tahu,
pasti bukan aku.
cobalah untuk mengerti.
biarkan aku mencintaimu tanpa harus tersampaikan.

11.12.14

"Supernova, salahkah jatuh cinta?"

"yang salah itu pura-pura tidak jatuh cinta."

----------------------------------------------------------------------------------

Dan seketika, kalimat itu memukul kepala, dan aku tidak mampu berkata-kata.
Aku memang sudah jatuh cinta nyatanya. Entah bagaimana. Sederhana saja.
Aku tidak baru saja jatuh cinta, hanya saja baru menyadarinya. 4 bulan terakhir ini, aku sudah berhasil membodohi diriku sendiri.
Apalagi yang harus ditutup-tutupi?
Saat senyum mengembang dipipiku ketika namamu yang muncul di layar handphone-ku.
Apalagi yang bisa aku bohongi?
Saat jantung ini berdetak tiada henti ketika kamu berdiri di samping sisi.

kamu mengajariku untuk menjadi pembohong yang sangat baik.
Aktris yang memainkan drama diatas irasionalitas bernama cinta.

kamu mengajariku untuk menjadi seseorang yang sangat jujur.
Mencintai kekurangan walau ia menyelimuti sekujur.



-terimakasih Manggala, kata-katamu itu sukses membuatku pusing kepala.-

7.12.14


i love the concept of how god created coincidences.
It's just... that i can't help to just smile while i look at this picture that appeared on my screen just now.

the docs looks exactly like yours.
The song, is your favorite arctic monkeys song.

4.12.14



there's something you said, a whirlwind, a voice.
"together", you said.
But I have no choice.
Please stay a while.
God, I love your smile.

I never felt alone;
but here feels like hell
when i am on my own,
and you're all i feel.
Please stay a while.
God, i love your smile.

a rat in a cage
a stone in a stream
i float, far away
i live in a dream..
Please, stay a while.
God, i love your smile.....


mungkin kita sama-sama sudah lupa,
tentang bagaimana dulu kita saling bercerita,
tentang hal yang hanya dimengerti kita berdua.

Kita pernah terduduk dalam sebuah kafetaria,
kau ceritakan tentang perempuanmu, aku tentang lelakiku.
Bukankah ini seperti sebuah lelucon?
Menceritakan seseorang yang kau kira aku cinta,
padahal sesungguhnya terduduk ia dihadapanku.

Kita tidak pernah seutuhnya saling menatap.
Keberanianku belum sebesar itu.

1.12.14

"Saya bisa merasakan bahwa ada mekanisme pertahanan yang biasanya kamu bangun untuk diri kamu sendiri, supaya orang tidak melihat sisi kamu yang lainnya, tetapi jauh-jauh di dalam hatimu saya percaya bahwa kamu itu berbeda. Kamu punya visi. Walaupun pada saat ini mungkin belum kelihatan.

Saya bukan hanya sedang tergila-gila, saya sedang mendoakan kamu setiap hari. Semoga kelak, kita bertemu walaupun saat ini mungkin jalan-jalan kita bercabang."

Saya merupakan pribadi yang sangat bertolak-belakang; semacam berkepribadian ganda, atau lebih, mungkin.
Saya sangat senang tertawa dan menertawai; saya senang berbicara dan bertutur kata.
Saya sangat senang menyendiri, sangat senang pula menuliskan perih dan berpuisi.

Laki-laki bertubuh sedikit gempal dan berkacamata, adalah tipe yang orang lain tahu saya sukai.
Tapi tidak, tidak sampai saya dipertemukan olehmu. Badanmu kecil, tinggi, tidak berkacamata.
Sungguh bertolak belakang, bukan? Saya kepadamu memang bukti konkrit; bahwa cinta itu membutakan.

Sepele, tapi jangan disepelekan. Entahlah, saya tidak pernah se-membingungkan ini sebelumnya. Begitupun kamu, kan?
Saya mungkin telah jatuh cinta dengan penuh kesederhanaan, sesederhana lekukan senyum dan suara hembusan nafasmu. Sesederhana kedipan matamu, sesederhana baris gigi putihmu.

Jika mendoakanmu perlu ukuran waktu, doaku takkan pernah tercatat jam dindingmu.
Melancar ia di setiap menitnya.

Kita tengah berada dalam sebuah buku yang sama, aku percaya.
walaupun selalu berada di halaman yang berbeda.
Setidaknya kita bersama; walau dibatasi oleh bait-bait sangsai tidak bermakna.
Dibatasi oleh jenjang khatulistiwa; kata-kata yang dilukiskan tanpa bercerita.

Tuhan mempertemukan kita bukan untuk dipersatukan;
tetapi untuk saling mengajarkan.
terimakasih telah menjadi guru yang baik.




-aku (tidak pernah berhenti) mencintaimu.