26.12.14

dalam sebuah peraturan yang bernama cinta;
tidak ada tidak dan tidak ada iya,
yang ada hanya angguk yang terjadi setelah bertatapan lama.

dalam sebuah aturan yang bernama cinta;
tidak ada sekarang atau selamanya,
penggalan waktu terbagi ketika sedang bersama atau tidak sedang bersama.
kita terpisahkan bukan dengan jarak,
tapi dengan sampai nanti ketika kita bertemu lagi.

18.12.14

                                 
aku mau lari saja.
sendirian.
mencari tenang.
biar peluh membanjiri tubuh,
sampai mata penuh kunang-kunang.
urat kemudian menegang.
membuat dada sesak rasanya,
 seperti dunia tiba-tiba kehilangan udaranya.
atau
kemudian pingsan.


aku mau lari saja.
sendirian
mencari tenang.
sampai tahu bagaimana caranya mengalahkan,
atau mengalah
dari kenangan yang membeban.






-a really, really beautiful words, written by Try Juandha.-

17.12.14

"kata-katamu sangat dalam, menggambarkan betapa sakitnya luka itu.
secinta itukah kau?
sesayang itu?"

Bukankah kita sudah sama-sama tahu jawabannya, Mi?

sekelebat

"apa yang membuatmu begitu mencintainya?"

aku terdiam. lama berusaha memikirkan jawaban. mengolah kata, merangkainya satu persatu, tapi nihil. Ternyata aku telah jatuh cinta tanpa membutuhkan alasan. Aku mencintaimu dalam sebuah kerumitan yang sederhana... Mengerti? Begitu rumit. Sehingga kubiarkan ia makin merumit. Disitulah kutumbuhkan paradoksnya; ketika ia mencapai titik maksimum, hanya sebuah bongkah sederhana yang akan kau temukan. Namanya cinta.

Bisa sih, kalau kalian mau aku menjabarkan alasan-kenapa dia-dan segala tetek bengeknya. Namun bukankah akan percuma, mendefinisikan suatu perasaan yang membutakan, dimana yang aku pijak, semua beralaskan ketidakrasionalan.

Aku bisa membujuk Sapardi untuk membuatkan puisi yang indah, yang mana isinya adalah keindahan yang menjelma menjadi manusia, bernama kamu.

Aku bisa merajuk Iwan Fals untuk membuatkan lagu bernada pentatonis, dimana eleginya menyenandungkan namamu dengan manis.

Aku pernah mencoba mendefinisikan alasan-alasan ini berdasarkan jumlah bintang yang bertaburan di gelapnya malam. Aku sangat lihai dan lancar melafalkannya; sampai aku kehabisan bintang untuk ditunjuk.


16.12.14

siapapun wanita itu,
aku berharap ia dapat menyamai langkahku.
aku harap ia bersedia menemanimu, tak peduli jam menunjukkan angka 1 pagi.
Disaat kamu merasa sendiri dan hanya ingin hancur menangisi.
akulah yang ada disana. Tidakkah engkau mengerti?

siapapun wanita itu,
aku berharap ia dapat membuatmu tertawa tiada henti.
sudah cukup banyak hal yang memberati punggungmu, sayang.
aku harap wanita itu mengerti.

siapapun wanita itu,
aku berharap ia dapat menemanimu berelegi.
menyanyikan bait yang tak tersampaikan,
seperti yang aku dan kamu biasa lakukan.

siapapun wanita itu, kelak,
yang aku tahu,
pasti bukan aku.
cobalah untuk mengerti.
biarkan aku mencintaimu tanpa harus tersampaikan.

11.12.14

"Supernova, salahkah jatuh cinta?"

"yang salah itu pura-pura tidak jatuh cinta."

----------------------------------------------------------------------------------

Dan seketika, kalimat itu memukul kepala, dan aku tidak mampu berkata-kata.
Aku memang sudah jatuh cinta nyatanya. Entah bagaimana. Sederhana saja.
Aku tidak baru saja jatuh cinta, hanya saja baru menyadarinya. 4 bulan terakhir ini, aku sudah berhasil membodohi diriku sendiri.
Apalagi yang harus ditutup-tutupi?
Saat senyum mengembang dipipiku ketika namamu yang muncul di layar handphone-ku.
Apalagi yang bisa aku bohongi?
Saat jantung ini berdetak tiada henti ketika kamu berdiri di samping sisi.

kamu mengajariku untuk menjadi pembohong yang sangat baik.
Aktris yang memainkan drama diatas irasionalitas bernama cinta.

kamu mengajariku untuk menjadi seseorang yang sangat jujur.
Mencintai kekurangan walau ia menyelimuti sekujur.



-terimakasih Manggala, kata-katamu itu sukses membuatku pusing kepala.-

7.12.14


i love the concept of how god created coincidences.
It's just... that i can't help to just smile while i look at this picture that appeared on my screen just now.

the docs looks exactly like yours.
The song, is your favorite arctic monkeys song.

4.12.14



there's something you said, a whirlwind, a voice.
"together", you said.
But I have no choice.
Please stay a while.
God, I love your smile.

I never felt alone;
but here feels like hell
when i am on my own,
and you're all i feel.
Please stay a while.
God, i love your smile.

a rat in a cage
a stone in a stream
i float, far away
i live in a dream..
Please, stay a while.
God, i love your smile.....


mungkin kita sama-sama sudah lupa,
tentang bagaimana dulu kita saling bercerita,
tentang hal yang hanya dimengerti kita berdua.

Kita pernah terduduk dalam sebuah kafetaria,
kau ceritakan tentang perempuanmu, aku tentang lelakiku.
Bukankah ini seperti sebuah lelucon?
Menceritakan seseorang yang kau kira aku cinta,
padahal sesungguhnya terduduk ia dihadapanku.

Kita tidak pernah seutuhnya saling menatap.
Keberanianku belum sebesar itu.

1.12.14

"Saya bisa merasakan bahwa ada mekanisme pertahanan yang biasanya kamu bangun untuk diri kamu sendiri, supaya orang tidak melihat sisi kamu yang lainnya, tetapi jauh-jauh di dalam hatimu saya percaya bahwa kamu itu berbeda. Kamu punya visi. Walaupun pada saat ini mungkin belum kelihatan.

Saya bukan hanya sedang tergila-gila, saya sedang mendoakan kamu setiap hari. Semoga kelak, kita bertemu walaupun saat ini mungkin jalan-jalan kita bercabang."

Saya merupakan pribadi yang sangat bertolak-belakang; semacam berkepribadian ganda, atau lebih, mungkin.
Saya sangat senang tertawa dan menertawai; saya senang berbicara dan bertutur kata.
Saya sangat senang menyendiri, sangat senang pula menuliskan perih dan berpuisi.

Laki-laki bertubuh sedikit gempal dan berkacamata, adalah tipe yang orang lain tahu saya sukai.
Tapi tidak, tidak sampai saya dipertemukan olehmu. Badanmu kecil, tinggi, tidak berkacamata.
Sungguh bertolak belakang, bukan? Saya kepadamu memang bukti konkrit; bahwa cinta itu membutakan.

Sepele, tapi jangan disepelekan. Entahlah, saya tidak pernah se-membingungkan ini sebelumnya. Begitupun kamu, kan?
Saya mungkin telah jatuh cinta dengan penuh kesederhanaan, sesederhana lekukan senyum dan suara hembusan nafasmu. Sesederhana kedipan matamu, sesederhana baris gigi putihmu.

Jika mendoakanmu perlu ukuran waktu, doaku takkan pernah tercatat jam dindingmu.
Melancar ia di setiap menitnya.

Kita tengah berada dalam sebuah buku yang sama, aku percaya.
walaupun selalu berada di halaman yang berbeda.
Setidaknya kita bersama; walau dibatasi oleh bait-bait sangsai tidak bermakna.
Dibatasi oleh jenjang khatulistiwa; kata-kata yang dilukiskan tanpa bercerita.

Tuhan mempertemukan kita bukan untuk dipersatukan;
tetapi untuk saling mengajarkan.
terimakasih telah menjadi guru yang baik.




-aku (tidak pernah berhenti) mencintaimu.

30.11.14

sepucuk surat untuknya beberapa tahun kedepan yang entah kapan.


Halo!

Masih ingatkah kamu kepadaku? Aku perempuan lugu yang kau temui, hari itu hari Minggu, 10 Agustus 2014. Aku sih, masih ingat jelas. Kamu memakai kaus hitam bergambar arctic monkeys, dengan kemeja warna maroon. Senada dengan sepatu docmartmu yang berwarna maroon juga saat itu. Sedikit eye-catching. Dan aku menggumam pelan karena itu pertama kalinya aku bertemu denganmu, tentunya kita sudah sering berinteraksi di instagram saat itu.
"alita" kataku pelan, dan kamu pun menyebutkan nama panggilanmu yang tersohor itu, dan kita berjabat tangan sebentar.

Tidak lama waktu yang dibutuhkan bagi kita untuk menjadi akrab. Ya, karena sebagian temanmu adalah sahabatku juga. Lucu ya jika dipikir-pikir... Kita bernyanyi ditengah hiruk pikuk kota, tidak memedulikan bagaimana kita di mata penduduk sekitar. Darisana pun sudah terlihat kalau kamu memang dikenal banyak orang, tetapi sulit untuk mengenal orang baru. Aku belum terlalu memedulikanmu waktu itu. Bahkan aku lupa bagaimana akhir dari pertemuan pertama kita tersebut.

Pertemuan kedua kita hanya selang 2 hari, hmm, 12 agustus ya?
Sepulang dari pertemuan pertama kita, aku diminta untuk memasukkanmu ke grup, kau ingat?
dan obrolan kitapun memanjang dari sana. Kamu mengajakku hunting, di daerah jalan baru.
Entah kenapa aku mau-mau saja waktu itu.

Kamu memakai baju olahraga waktu itu, terduduk diatas motormu yang dihiasi stiker-stiker kuning, aku menyebutnya dengan stiker motor mainstream, hahaha.
Kita saling menyapa layaknya sahabat lama. Dan aku sedikit kaget ketika kamu bilang kita hanya akan hunting berdua.

Tempatnya hanya sepetak, dengan tembok merah sebagai latarnya. Pertemuan kita pun singkat, mungkin tidak lebih dari 2 jam. Kamu mengantarkanku sampai ke depan pintu rumahku. Aku benci sekali dengan motormu, yang meninggalkan bekas lebam biru di kakiku.

Obrolan kita pun terus berlanjut, panjang sekali........ Kau ingat PidPid dan PudPud? Hahaha. Bodoh memang kita.
Aku senang berbincang bersamamu. Entah itu di dunia nyata atau hanya lewat layar kaca. Kau lucu, dungu, bodoh. Ingat, saat kita terjaga sampai pukul tiga?
Tadinya kamu sudah izin untuk tidur padaku, tapi sayang sekali gagal. Kita mengirimkan pesan suara dengan lagu-lagu kesukaan kita disana. Payung Teduh, kebanyakan.
Hah, aku sangat merindukan kala itu.

Seingatku, kita pernah kehilangan kontak. tidak begitu lama,

sampai akhirnya kita dipertemukan kembali di suatu sore.

Aku masih sangat menyukai tawamu yang konyol itu.

Dan nyatanya... apa yang kurasa ini tidak pernah selesai.




Bahkan sampai saat ini.
Kau tahu?
Aku tidak pernah menyalahkan sesiapa; apalagi kamu.

Aku ikhlas walau harus seperti ini;
menjadi sebuah pilihan ketika bosan.
Tolong, Tuhan, biarkan.

Terimakasih, Tuhan, ini sudah sangat menyenangkan.

Indah; bagaimana jatuh cinta bisa mengajarkan sedalam ini konsep keikhlasan.

Kamu tidak perlu merasa bersalah.
Tidak, kamu tidak perlu membalas perasaanku yang tak terarah.

Hei, jika di suatu pagi kamu terjaga dan mendapati dirimu sendu sendiri,
ingatlah aku. Yang menyelimuti tidurmu dengan bait doa.
Yang tersenyum dalam diam ketika mendengarmu berbahagia.

aku mencintaimu,
aku mencintai kekuranganmu.
aku mencintaimu,
aku mencintaimu,
aku mencintaimu.

ukulele mini bersenar 5.

Mecintai dalam diam adalah salah satu bentuk keikhlasan.
Tidak pernah menuntut balasan;
apalagi belas kasihan.

Aku mau mencintaimu dalam diam.
Menimbun harap dengan banyak doa yang kurekam.

Aku mau terluka karenamu dalam diam.
Biarkan membusuk sakit tidak terperi,
aku mau mencintaimu dalam diam.

Aku mau memperhatikanmu dalam diam,
Menerka dari kejauhan.
aku mau mencintaimu dalam diam.

Aku mau memikirkanmu dalam diam.
Mensyukuri hadirmu dalam keheningan...
aku mau mencintaimu dalam diam.

#2.

"hahaha, dasar." celetuknya sambil mengelus kepalaku perlahan.
Waktu saat itu berjalan dengan cepat. Kita sedang menikmati rintik hujan dari dalam mobilmu.

Saat itu kita baru saja menonton sebuah film yang menurutku tidak begitu seru. Tetapi tentu menyenangkan; karena itu denganmu.
Aku memang tidak begitu suka adegan yang kena tanggung; dan sering marah-marah sendiri karenanya.
"Kenapa? Gemes ya?" dan kamu tertawa sambil terus memperhatikanku.

Studio tidak begitu ramai sore itu. Aku khawatir obrolan kita terdengar jelas sampai ke penjuru ruangan. Kau mengenakan kaos berwarna putih, yang lucunya kau beli dari mall yang sama.
"Kaos ini nyarinya susah. Tinggal satu lagi. Keren kan 3d 3d gitu?" aku hanya tersenyum mengiyakan. dalam hati sedikit merutuk mendengar harga selembar kain itu.

Muka seriusmu sangat lucu. Aku suka memperhatikannya dari kegelapan.

Sahabatku ini memang paling mengerti, walaupun hanya terkadang.

"Yaudah gue kesana, kasian lu kalo sampe keujanan." aku kembali tersenyum, ia selalu tahu bagaimana cara mengembalikan moodku yang rusak.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Walau ku terlambat
kau tetap yang terhebat
melihatmu, 

mendengarmu,
kaulah yang terhebat."

selalu ada sedikit senandung yang terselip dalam pembicaraan kita. Walaupun aku sedikit heran, mengapa hari itu kita tidak mendengarkan lagu dari handphonemu. 
But you can never go wrong with Prambors, don't you? hahaha.
Kesal tidak kesal, jalanan kota waktu itu lengang. Padahal aku ingin menghabiskan waktu sendiri bersamamu lebih banyak.

Hei, kau tahu. Diam saja kamu bisa membuatku bahagia.
I do reminisce your scent. Your parfume. Even you car's scent; it's glued to my mind.

"Heart beats fast,
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone....
All of my doubt,
Suddenly goes away somehow."



aku sedikit ingin menampar pembawa acara Prambors saat itu. Terjebak hujan bersamamu dengan lagu seperti itu; dan kita berdua menikmatinya sambil bersenandung.....
ah tidak, mungkin akan kukirimkan peluk dan kecup saja ke pembawa acara tersebut.



"Kemana kau selama ini,
bidadari yang kunanti?
kenapa baru sekarang
kita dipertemukan?"




-untuk kepala rusa-

12.11.14

"Karena sepasang kacamata dan intelegensia, tak pernah gagal membuatku bertekuk lutut."
Mungkin kamu diciptakan ketika tuhan sedang tersenyum.

Keindahanmu membuatku kelu,
ngilu,
Aku tak pernah percaya dengan konsep kesempurnaan,
sampai aku dan kamu dipertemukan.

-----------------------------------------------------------------------

Jumat sore, pukul 3.
Aku hanya anak SMA yang bahkan keberadaannya saja mungkin kau tidak peduli.
Kamu terduduk dengan wajah mengkerut,
mengenakan kaos berwarna biru tua dengan sepasang celana jeans.
Rambutmu lucu, kekinian.
Aku jatuh cinta dengan sepatumu yang berwarna gradasi, biru muda ke biru tua.

Tubuhmu sedikit gempal dan pipimu chubby.
Tatapan matamu selalu tajam walau kadang kosong,
jidatmu hampir selalu menunjukkan kerut.
Jika teman-temanku melihatmu tentunya mereka takut.

Namun setelah kuperhatikan,
kamu tidak jauh berbeda dari yang lainnya.
Seorang anak konyol yang suka bercanda dan bercengkrama.

Kamu lucu saat tertawa lepas seperti itu.
Kamu lucu saat tersenyum tipis, ah, susah didefinisikan, hanya kamu yang bisa memraktekkan.
Kamu lucu saat memasang wajah serius seakan dunia hendak meletus.
Kamu lucu.






-terimakasih, yogyakarta, dan kamu, avi.-


5.11.14


"kemari, kesini
menyanyi, menari,
kita taklukkan bumi"

hei, gigi dibalik pagar besi.

aku selalu ingin menghabiskan keseharianku denganmu, 
walau hanya lewat barisan kata darimu di layar kaca.
aku selalu ingin menghabiskan keseharianku denganmu,
walau hanya mendengar suara tawamu lewat linimasa.

aku selalu ingin berjalan jauh entah kemana,
bersama kamu dan kita berdua. 
aku selalu ingin menuju antah berantah,
sejauh manakah? entah.

aku selalu ingin menjadi sosok dalam pikirmu,
yang mengisi kepalamu saat matamu menatap kosong.
aku selalu ingin menjadi jelma dari doamu,
yang menjadi "dia" dalam setiap lirik yang kau nyanyikan.
aku selalu ingin menjadi jejak dalam langkahmu,
menjadi penopang yang menjagamu dalam keseimbangan.

aku ingin menjadi seseorang yang kau cari kembali,
saat kau tak tahu harus kemana lagi berlari.

3.11.14

and it's haunting me but i feel fine,
war of words in real time
better off signing a truce that's drawn up in your name.
well, i hope you go home and admit you were wrong for the stress you put me through
bring me back the anchor
depart these seas
and let me do what i have to do.

- the story so far - placeholder

good song and good lyric, executed with nice tones.
I'm in love with american pop punk even more.
way to go, the story so far.



"satu malam aku menginginkanmu, namun di satu malam berikutnya aku berharap tidak pernah menemuimu. aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan kita. entah karena memang aku yang terlalu bodoh atau memang kita yang tak pernah sebenarnya ada."
"Serius banget bacanya. Biasa aja dong."
dia menyikutku. Tersenyum sambil memperhatikanku yang sedang tenggelam dalam layar handphone miliknya. Aku tertawa sambil membalas tatapannya.

Dia sahabatku. Tidak bisa dibilang sahabat lama, karena kami baru berkenalan kurang lebih 6 bulan yang lalu.
Kami sangat cocok dalam berbagai hal. Musik, karya seni, dan segala hal yang hanya kami berdua mengerti.

"Hujan turun, kantuk pun datang. Abang mau tidur duluan ya neng."
Dia selalu sukses membuatku tertawa dengan segala hal yang dilakukannya. Baik lewat platform, atau di depan mata. Lucunya, seringkali, dia sudah berpamitan untuk tidur. Tapi ternyata ia tetap menemaniku terjaga sampai 2 atau 3 jam kemudian.

Memang rumahku dan dia letaknya sangat berjauhan. Tapi ia selalu mengantarkanku sampai ke depan pintu rumahku tanpa perlu diminta. Waktu mengobrol di perjalanan adalah waktu paling menyenangkan menurutku. Bersahutan dengan kendaraan yang melintas, tertawa dengan lepas. Rasanya tidak ingin kemana-mana, ingin berdua saja.

"Mau kemana lagi ya.... Eh gue laper nih. Makan dulu yuk, yang deket-deket sini aja."
Dia selalu berpura-pura tidak mau mentraktirku. Tapi sesaat aku lupa, Dia malah mengingatkanku dan mengajakku makan. Heran, tapi tak apa. Aku suka.

Dia sosok pribadi yang bebas. Berprinsip semaunya, asal Dia senang.
Dia bepergian tanpa ingat waktu, bagai tidak punya aturan. Akupun tidak berhak untuk mengaturnya. Dia sangat tidak suka jika perempuannya mengikat kebebasannya. Punya hak apa aku jika perempuannya saja sampai ia benci?

Dia tinggal di rumah besar berlantai dua. Rumah yang padahal hanya ditempati oleh dia dan adiknya. Adiknya lucu, mirip sepertinya. Hanya saja adiknya lebih gendut dan pendek.

Dulu dia sangat kurus dan berponi. Aku tertawa tidak berhenti ketika melihat dia yang masih seperti itu.

Dia suka memakai sepatu dari kulit yang tingginya melebihi mata kakinya. Dia merawat sepatu itu lebih lihai daripada merawat perempuannya.
"Ini sepatu yang bisa awet sampe lu nikah nanti. Sampe lu jadi kakek nenek dan diapake sama cucu lu juga masih bisa. Suwer."  itu yang dia katakan tentang sepatu itu padaku. Dengan wajah yang sangat serius. Dia bahkan menyuruhku untuk membeli sepatu yang sama, entah mengapa. Aku membayangkan bepergian dengan sepatu yang sama dengannya...

Terkadang ia memakai sepatu bersol berwarna hitam pekat seluruhnya. Badan, tali, sol, semua berwarna hitam. Entah kenapa aku sangat suka melihatnya.

Dia tidak pernah ragu untuk bertanya tentang hal yang tidak dia tahu kepadaku. Tentu aku senang, dan selalu menjawab semampuku.

Aku suka mobilnya yang berwarna abu-abu tua. Aku suka mesin roda duanya yang dipenuhi sticker mainstream, hahaha.

Jika sedang terjaga, kami seringkali bertukar Voice Note. Entah itu aku menceritakan cerita bodoh kepadanya, entah itu dia menyanyikan lagu sok manis untukku.

"tak terasa gelap pun jatuh, diujung malam dia malu kali ini. Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya."

Itu ketika entah apa yang sedang dia pikirkan.

Ketika dia sudah mulai putus asa menyuruhku untuk tidur, dia menyanyikanku lirik ini sambil tertawa. Aku sangat suka suara merdunya.

"Tidurlah
Malam terlalu malamTidurlahPagi terlalu pagi"


-Kepada Dia yang sangat menyukai kepala radio, dan monyet antartika.-

1.11.14

kepada alas kaki merah keunguan.

It's nice meeting you again this afternoon.
It's nice knowing that you'd planned your future better than the last time you told me.
It's nice knowing that after all that went inbetween, we're still the same us.
It's nice seeing you laugh
It's nice watching you talk
It's nice hearing your voice.
We're still the same us,
that laugh at lame jokes
that sleep past night
that talk about nothing and everything at the same time
that like bands
that like shoes
that like arts.


29.10.14

"ada masa dimana kamu merasa sendiri, entah mengapa dan bagaimana, entah kenapa dan apa sebabnya. Kau berusaha berlari dan mencari, tapi tak pernah kau temui jawabnya. Kau terduduk diam dan menangisi, kau tak tahu apa."

"It's odd how one thing could be the cause of so many contrary feelings."

Sometimes I like crowds,
but sometimes I appreciate silence.
I'm a "people" kind of person at day,
and suddenly changing to an individualist at dawn.

I love staying up late.
I love how my mind shouts at my ears, telling me so many things.
it's quiet and noisy at the same time.

One day i'm listening to accoustic-folk songs,
they soothe me.
One day i'm screaming at the top of my lungs, to post-hardcore and metalcore songs
they somehow, entertain and calm me in a funny way.

Some days i'm a lazy-ass. Totally unproductive.
But some days i'm working my ass off.

Most nights I crave to be at my own. Thinking that I'd be better and perfectly okay when i'm alone.
but the other nights, I crave someone's literal presence.
Because it's true in the end.... Being alone is okay, but when you start to feel lonely... That's when something's wrong.

I'm a total contradiction.... Right?

22.10.14

untuk kuda besi yang abu-abu tua.


"tak terasa gelap pun jatuh, diujung malam menuju pagi yang dingin... hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya"

kau tertawa setelah menyanyikan bait-bait manis itu untukku. aku hanya mampu terdiam dan terkubur dalam senyumku sendiri. tak pernah sebelumnya aku merasa seistimewa ini.

saat itu pukul dua pagi. 2 jam melewati batas janji waktu tidurmu.
kita bertukar cerita; tentang apa saja yang mengusik jiwa. 
dengan sesekali diselipi canda yang hanya aku dan kamu yang mengerti apa maksudnya.



"i like her cause she's smart, headstrong and independent. she puts me in my place, but i don't know where i stand. and if only i could find the words, or muster up the nerve to tell her, i'll never forget her and she'll always have a part of me."

kita tertawa setelah menyanyikan lagu milik Neck Deep itu, setengah berteriak di dalam mobilmu. aku hanya bisa mengulum senyum sambil memperhatikan jalan.

saat itu pukul 4 sore. jalanan padat, kau memintaku untuk menemanimu sebentar, 
aku mengiyakan karena penat memang sedang berbayang dalam pikirku. kamu heroin, yang membuatku sejenak lupa akan hal-hal yang seharusnya tak kulupa.



"Baby i'm yours, and i'll be yours until the stars fall from the sky. yours, until the rivers all run dry. in other words.. until I die"

aku tersenyum sambil menyenandungkan lirik yang indah itu, memutarnya berulang kali sambil menunggu unduhannya selesai.

aku pribadi yang sangat benci band yang menyanyikan lagu itu sebelumnya.
sampai kamu menyuruhku mendengarkan lagu itu.


---

saat itu pukul setengah empat sore; pertama kalinya aku bertemu denganmu sedekat itu.
kamu adalah sebuah penyesalan yang indah.


untuk sepasang mata yang terkunci dibalik 2 gelas kaca.

dan kita masih berjalan berkeliling dalam satu rotasi
aku dan kamu; sama-sama diam berjalan
tak ada yang mencoba melawan arus.
kita berjalan berdampingan
tapi tak pernah saling bergandeng tangan.

waktu itu pernah aku bertemu dengan kamu yang lain
ia berjalan dari arah yang berlainan
ia terhempas menuju aku,
kita berpapasan. berhadap-hadapan.
kami sempat terdiam lama.
namun kamu tidak berhenti, kamu terus berjalan.
sampai aku jauh engkau tinggalkan.

singkat cerita, kamu yang lain melanjutkan perjalanannya
dan kami tidak pernah bertemu lagi.
aku terus berusaha mengejarmu yang sekarang entah berada dimana.
hanya sesekali punggungmu terlihat dari kejauhan.

baru aku sadari.
berdampingan untuk selamanya jauh lebih indah dari sekedar berpapasan untuk sementara.

dan aku masih berjalan berkeliling dalam satu rotasi
mencoba mengukur jarak yang tercipta karena waktu mencoba memisahkan kita.
aku tak ingin berbalik arah untuk berpapasan denganmu.
kesementaraan bukan sesuatu yang ingin aku habiskan saat denganmu.

biarkan aku berjalan perlahan dibelakangmu.
setidaknya, kita selamanya.

21.10.14

cadburry's hot chocolate, and how you simply love it.



it's 22nd of October.
12.30 am, to be exact.
and i'm wondering how was your day
was it great? did everything went well?
and i'm wondering, what dreams are you dreaming now...
is it cool? is there any me?

funny that i just found out that you look exactly like James Dean.
Remember James Dean? I used to call you by that name and you called me Audrey Hepburn..
simply because we love Sleeping With Sirens' "If I'm James Dean You're Audrey Hepburn" that much.
well not exactly, but Dean's glasses frame somehow reminds me of yours.

It's late at night, and today is your birthday. i'm writing this while listening to our favorite songs from back then. Do you remember? the Pierce The Veil thingy... we used to sing their songs out loud together.

Dean, you grow bigger and taller really fast. I almost couldn't recognize the hands i used to hold; the body i used to hug; and the face that i used to adore. you seemed to change that much....

but do you still the same James Dean that i love?
the one that went to bed so early,
the one that drink cadburry's hot chocolate in rainy days, and shared some with me
the one that fell asleep so easily in my balcony
the one that laughed with me at silly jokes and not-so-funny videos
the one that called me just to hear me talking about nothing and everything..
the one that sang and played guitar for me eventhough we both know that you couldn't do both
the one that with pure sincerity reads me fairytale through the phone until i fell asleep
the one that encouraged me to do what i thought i couldn't do
the one that still chasing me eventhough i had tell him to stop
the one that accepted me as i am, no more and no less
the one that i love so much it hurts...

i'm starting to talk nonsense.



happy 16th birthday, my very own James Dean.

7.10.14

aku ingin menemuimu,
di sebuah ujung cerita yang bahagia.
tanpa harus bertanya mengapa?
cukup kita berdua.

aku ingin menemuimu,
dalam sebuah kepastian.
tanpa harus bertanya kapan?
cukup berjalan tanpa harus berlarian.

-

Banyak yang ingin aku sampaikan
kepada keramaian
ingin aku teriakkan
akan kuceritakan tentang kekosongan.

Banyak yang ingin aku sampaikan
kepada sebongkah sepi
ingin aku bisiki
elegi tentang hati yang selalu sendiri.

Banyak yang ingin aku sampaikan
kepada Tuhan
kepada daun yang berjatuhan
kepada doa yang tak tersampaikan
kepada air mata yang berjatuhan
kepada sebuah hati yang hancur berantakan


1.10.14

Ini adalah sebuah cerita tentang air mata
yang mengalir lembut diiringi hela dan doa.
Mengapa bunda titikkan air mata?

Jika waktu menjebakmu dalam usia, bunda,
Biarkanlah aku menua bersamamu.
Fana hanyalah akal bulus milik manusia;
kita selamanya.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana, bunda.
Sesederhana tawa anak kecil di pematang senja.
Begitu lepas, bebas.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana, bunda.
Sesederhana aksara,
Sesederhana satu, dua, dan tiga.

Doamu yang mengantarkanku terlelap menuju mimpi;
pun doamu yang membangunkanku untuk menyambut pagi.

Doamu yang mengantarku pergi menjalani hari;
pun doamu yang menjemputku pulang untuk kembali.

Bunda,
Dalam gelap aku menemukanmu,
menuju terang aku dituntunmu.

Terekam oleh mata,
terbaca oleh lidah,
terdengar oleh telinga,
dan teresap oleh jiwa.
Begitu definisi cintaku pada sosokmu.

Ini adalah sebuah ode tentang hati yang lirih.
Enggan berkata lelah walau raganya mulai meletih.
Mengapa bunda tak pernah bersedih?




26.9.14




"Sepi… 
sepi dan sendiri aku benci.
Ingin bingar
aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja engkau pekat
Seperti berjelaga,
jika kusendiri."

10.9.14

sekelumit.





ini aku menuliskan tentang sesuatu yang aku tak tahu;
sepuluh september, lima belas menit sebelum hari baru.

aku sedang duduk dan menikmati suara layur yang mengcover sebuah lagu dari band favorit kita.

ya, the trees and the wild.
kita dahulu hanya dua cerita berlawanan yang tidak saling mengenal.
Terhempas ke arah satu sama lain secara tidak disengaja.

aku ingat, aku dulu tidak suka sama sekali dengan band ini.
namun caramu menceritakan mereka, walaupun aku tidak melihatmu kala itu, membuatku mengerti bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekedar musik dibalik band ini.

singkat cerita,
kita tumbuh mencintai mereka bersama-sama.
konyol, masih ingatkah tentang impian membawa mereka ke kota hujan kita yang indah ini, bersama-sama?
walaupun masih belum terlaksana, dan aku yakin kamu lupa.

ingatkah saat kita terjaga, waktu itu pukul dua.
entah apa yang kau pikirkan saat itu; kita memang sangat berbeda. 4 tahun itu tidak dekat.

perbedaan itu ternyata tak mengganggu, apabila kita tidak mengganggapnya sebagai benalu.

aku ingat, ketika kita sama-sama mendukung tim sepakbola yang sama pula. 
Bangau Merah.
kita berdebat panjang tentang siapa yang harus mengisi posisi mana. permainan tolol mereka pada musim paceklik gol saat itu.

aku ingat, kamu seorang pemain drum,
yang memiliki cita-cita jadi gitaris. haha, kau sekonyol itu dulu.

aku ingat, dibalik sosokmu yang kuat dan tegar,
dibalik matamu yang memandang jauh dan tajam,
dibalik tawamu yang keras dan susah padam,




waktu itu pukul tiga pagi, vat.
dan aku tahu kamu hampir menangis;

biar Tuhan, dan Aku yang tahu mengapa.




-ini hanya cerita orang asing tentang orang asing lainnya-

4.9.14


I'm writing this 168 hours away from the night we spent together.
You know, that night, when you chose to come back and pick me up with your pathetic motorcycle?
I smiled everytime I remember why I chose not to ask you the reason why you come back.
It was raining so hard, and our home is about 11 kilometres away.
But you didn't complain about it
at all.

I smiled everytime I remember how you eat the fried rice, edaciously.
I smiled everytime I remember the way you glanced at me.

hey, I wonder if you felt the same
It was all perfect, wasn't it?
Even if i was soaked and wet
and was so close to catch a cold,
I still thanked god for that little time of our togetherness.

It was all perfect, wasn't it?
How we laugh helplessly
endlessly
to the jokes that only we could understand,
to the stupid thing we've done,
and we didn't do
back then.

It was all perfect, wasn't it?
the way we enjoyed every second alone, together

Hey, G, If God could grant me any wish that night
i'd ask him to give me the abillity to stop time
and be immortal with you.
To always reminisce the way you laugh,
or the way you talk,
or the way you felt guilty toward me,
or the way you lend me your jacket.

or maybe, the way that you will hurt me all over again?
that's alright.

Or maybe the very next day.
the day when we were standing side by side
talking about nothing
and everything
at once.
I remember the look on your face
how you did barely good on hiding your feeling
I knew, it was love.
I remember the look on your face
the way you rumble when everything went not as what you've planned
and how i laughed at how paranoid you were.

it's funny how we turned out knowing we loved each other as much,
but we still chose to part ways.

I still remember the day you chose to break the silence between us.
I wasn't expecting things to be as complicated as we are in, right now.


Hey, G.
Everything was perfect.
simply perfect.
if only we weren't that selfish.

It was all perfect,
until you come back.



22.8.14


I will shape myself into your pocket
Invisible, do what you want, do what you want
I will shrink and I will disappear
I will slip into the groove and cut me up, and cut me up
There's an empty space inside my heart
Where the weeds take root
And now I'll set you free
I'll set you free

Slowly we unfurl
As lotus flowers
'Cause all I want is the moon upon a stick
Just to see what if
Just to see what is
I can't kick your habit
Just to feed your fast ballooning head
Listen to your heart

We will shrink and be quiet as mice
While the cat is away; do what we want
Do what we want.

29.5.14

Sepatah kata untuk dua bola mata yang menghilang ketika tertawa.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana.
Sesederhana tawa anak-anak di pematang senja,
Begitu lepas, bebas.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana.
Sesederhana sebuah gerhana.
Kesabaran matahari dan bulan,
yang saling mencintai walau terpisahkan ketidak masuk akalan.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana.
Sesederhana aksara.
Sesederhana satu dua dan tiga.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana.

Aku ingin menjadi hayal dalam pikirmu.
Yang selalu menjadi benalu,
Mengakar hebat
dan menjalar dengan kuat.

Aku ingin menjadi wujud dalam kehampaanmu,
yang selalu kau agungkan
walau dalam ketiadaan.

Aku ingin menjadi nyata atas kebahagiaanmu
yang selalu membuatmu tersenyum,
walau dalam kesedihan yang meranum.




-Ad.

1.4.14

Being an Oh-So-Called Secret Admirer.

I bet you've heard and comprehence what a secret admirer is. And earlier today, i came to the realization of how hilarious one secret admirer can be. Living in the simplest happiness.
How can I say they have the simplest happiness?

Ever met someone and by admiring their existence, could make up your whole day?
Ever met someone and by hearing him talking to his friends, could make you smile for whole day?
Ever met someone and by him walking pass through you, could make your heart pumps and jumps out?
Ever met someone and by looking straight to his eyes, you died inside?
Ever met someone and by looking to his smile, could create butterflies riot inside your tummy?

It's about how you enjoy falling in love alone.
How you stare alone.
How you think of someone alone.
How you smile alone.
How you dream of someone alone.
How you pray for someone alone.

and how you do that  with pure sincerity;
you don't expect a feedback.

because you don't need to,

you fall in love alone.
There are always those things you wish you'd have,
those words you wish you'd say.
But even the smallest thing like "i don't want to hurt him"
can beat the biggest guts to spew those things.

Have you ever thought just how funny things turned out to be?
Like how can oneself forgets what the other remembers,
How can the sky looks so blue, but still you feel the bluest?
How can candies taste so sweet, but still left bitter taste in the end?
How can someone looks so okay in the daytime, but cry themselves to sleep?
How can the poor laughs louder than the rich?
How can you struggle for something so hard but end up in vain?

How can you love someone so much but end up destroying them?









-alt