Saya pikir saya memang ditakdirkan menjadi seperti ini, sebuah perhentian sementara.
Tak ada, atau mungkin belum, ah persetan dengan optimisme... Tidak ada yang hendak singgah untuk beberapa lama. Pergilah, dengan yang telah lalu. Saya sudah terbiasa.
25.8.16
24.8.16
Untuk Kembang Api yang belum padam.
Di dalam tatap itu, telah aku temukan keindahan.
Ingin kuukir di kepala dan ku abadikan;
kubuatkan laci baru khusus untuk menyimpan.
Dan di dalam perbincangan kita tentang apa saja, telah aku temukan perasaan-perasaan yang tak tersampaikan
perihal perih dan hal-hal yang kita sama tak bisa selesaikan.
Di halus alir senyummu, telah aku temukan kesejukan.
dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bertemu pada jawaban,
namun kita tetap tertawakan dan membiarkan.
Pada waktu yang saat itu berlalu tanpa ada yang memberi tahu.
Kepada kamu.
Terima kasih.
Ingin kuukir di kepala dan ku abadikan;
kubuatkan laci baru khusus untuk menyimpan.
Dan di dalam perbincangan kita tentang apa saja, telah aku temukan perasaan-perasaan yang tak tersampaikan
perihal perih dan hal-hal yang kita sama tak bisa selesaikan.
Di halus alir senyummu, telah aku temukan kesejukan.
dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bertemu pada jawaban,
namun kita tetap tertawakan dan membiarkan.
Pada waktu yang saat itu berlalu tanpa ada yang memberi tahu.
Kepada kamu.
Terima kasih.
9.8.16
Sebuah ode tentang perjalanan dan transisi di sela-selanya.
Setelah berhiatus selama hampir setengah dekade, The Trees and The Wild kembali menyuguhkan kemegahan melalui "Zaman, Zaman". Memilih single dengan materi yang benar-benar baru sebagai track pembuka album, merupakan sebuah langkah yang tepat. Pasalnya, sudah saatnya para pendengar Trees mendapatkan amunisi baru yang menyegarkan, tidak melulu hanya berputar di Empati Tamako, Tuah Sebak, Nyiur, dan atau Saija.
Tidak seperti Tuah Sebak yang bergerak cepat, atau Empati Tamako yang mengalir terbalik dari hilir ke hulu, lagu ini dimulai dengan desingan pelan, seperti dahan pintu yang dibuka perlahan, mengantarkanmu menuju sebuah ruangan yang kosong, gelap, namun menyejukkan. Zaman, Zaman membawamu berjalan berkeliling perlahan. Semakin lama, kamu semakin menyadari isi dari ruangan kosong-yang ternyata tidak benar-benar kosong-adalah ada, kamu tidak sendirian disana. Kamu dan para penghuni ruangan kosong itu berkeliling bersama, membentuk suatu pola.
Lirik yang sengaja dibuat tidak begitu audible, seolah melambangkan suara-suara di kepala yang tidak pernah ada habisnya, dan kamu diminta untuk menerka-nerka. Akan memunculkan begitu banyak interpretasi, memang, namun disanalah letak kemagisannya.
Bising, bising, bising, lalu senyap, dengan cara yang sangat tiba-tiba. Hal ini bukan merupakan suatu kejutan, karena memang Trees dikenal dengan musiknya yang repetitif dan bagian outro berhenti secara tiba-tiba. Sejauh ini, repetisi-repetisi yang dibawakan Trees tidak membosankan. Namun, jika sebagian besar track lain di album ini mengusung corak yang sama, saya rasa bukan tidak mungkin album kedua nanti akan jadi membosankan dan "mudah tertebak".
Secara garis besar, Zaman, Zaman berhasil mengantarkan pesan yang sungguh brilian. Tidak membosankan, dan menyejukkan. Pilihan track pembuka album yang tepat untuk kembali menyiksa kita dengan rasa penasaran.
Tidak seperti Tuah Sebak yang bergerak cepat, atau Empati Tamako yang mengalir terbalik dari hilir ke hulu, lagu ini dimulai dengan desingan pelan, seperti dahan pintu yang dibuka perlahan, mengantarkanmu menuju sebuah ruangan yang kosong, gelap, namun menyejukkan. Zaman, Zaman membawamu berjalan berkeliling perlahan. Semakin lama, kamu semakin menyadari isi dari ruangan kosong-yang ternyata tidak benar-benar kosong-adalah ada, kamu tidak sendirian disana. Kamu dan para penghuni ruangan kosong itu berkeliling bersama, membentuk suatu pola.
Lirik yang sengaja dibuat tidak begitu audible, seolah melambangkan suara-suara di kepala yang tidak pernah ada habisnya, dan kamu diminta untuk menerka-nerka. Akan memunculkan begitu banyak interpretasi, memang, namun disanalah letak kemagisannya.
Bising, bising, bising, lalu senyap, dengan cara yang sangat tiba-tiba. Hal ini bukan merupakan suatu kejutan, karena memang Trees dikenal dengan musiknya yang repetitif dan bagian outro berhenti secara tiba-tiba. Sejauh ini, repetisi-repetisi yang dibawakan Trees tidak membosankan. Namun, jika sebagian besar track lain di album ini mengusung corak yang sama, saya rasa bukan tidak mungkin album kedua nanti akan jadi membosankan dan "mudah tertebak".
Secara garis besar, Zaman, Zaman berhasil mengantarkan pesan yang sungguh brilian. Tidak membosankan, dan menyejukkan. Pilihan track pembuka album yang tepat untuk kembali menyiksa kita dengan rasa penasaran.
6.8.16
Gabisa tidur #2 padahal harus bangun jam 4 pagi.
Saya sedang tidak merasakan apa-apa, lebih tepatnya tidak ingin merasakan apa-apa.
Mungking saya takut untuk merasakan hal yang sama,
atau bahkan trauma.
Atau saja, saya yang memang payah dan menolak keluar dari lingkaran setan buatan saya sendiri.
Saya akui, saya ternyata masih menginginkan dia.
Sosok paling sempurna untuk saya,
menurut saya.
Mungkin menurut Tuhan berbeda.
Mungkin menurutnya juga beda.
Susah ya jadi manusia yang susah melangkah tapi mudah terjatuh.
Begitulah saya,
susah melangkah
mudah terjatuh.
Untuk kamu, si self-proclaimed pengidap distantophobia,
saya rindu.
Saya harap kamu baik-baik saja.
Semoga skripsinya cepat selesai ya.
Boleh kan saya tetap menyimpan rasa?
Sampai saya bertemu satu yang sama sepertimu lagi.
Semoga hidupmu tenang dan bahagia.
Saya selalu berusaha mendoakanmu,
z.
Mungking saya takut untuk merasakan hal yang sama,
atau bahkan trauma.
Atau saja, saya yang memang payah dan menolak keluar dari lingkaran setan buatan saya sendiri.
Saya akui, saya ternyata masih menginginkan dia.
Sosok paling sempurna untuk saya,
menurut saya.
Mungkin menurut Tuhan berbeda.
Mungkin menurutnya juga beda.
Susah ya jadi manusia yang susah melangkah tapi mudah terjatuh.
Begitulah saya,
susah melangkah
mudah terjatuh.
Untuk kamu, si self-proclaimed pengidap distantophobia,
saya rindu.
Saya harap kamu baik-baik saja.
Semoga skripsinya cepat selesai ya.
Boleh kan saya tetap menyimpan rasa?
Sampai saya bertemu satu yang sama sepertimu lagi.
Semoga hidupmu tenang dan bahagia.
Saya selalu berusaha mendoakanmu,
z.
4.8.16
Kertas kaku itu masih kusimpan dengan rapi,
bersama tumpukan-tumpukan kenangan yang lain.
Sengaja yang darimu kupisahkan, karena kurasa paling menyakitkan.
Tak ada yang lebih menyedihkan,
dari cerita-cerita yang ditinggalkan tanpa terselesaikan.
Tak ada yang lebih aku rindukan,
selain percakapan kita yang tak kunjung berhenti walau gelap sudah semakin pekat.
Ajari aku bagaimana cara menghapuskan namamu,
yang bahkan bukan kau yang menulisnya di pikiranku.
bersama tumpukan-tumpukan kenangan yang lain.
Sengaja yang darimu kupisahkan, karena kurasa paling menyakitkan.
Tak ada yang lebih menyedihkan,
dari cerita-cerita yang ditinggalkan tanpa terselesaikan.
Tak ada yang lebih aku rindukan,
selain percakapan kita yang tak kunjung berhenti walau gelap sudah semakin pekat.
Ajari aku bagaimana cara menghapuskan namamu,
yang bahkan bukan kau yang menulisnya di pikiranku.
A long story about my muse.
Sebenernya udah lama mau nulis tentang ini tapi gatau cara nulisnya gimana. Hmm...
So yup, hi. Hari ini pengen cerita soal muse gue. More like.. orang yang hampir 3 tahun ke belakang selalu jadi orang yang berada di kepala gue, sadar gak sadar, dan selalu jadi pelarian gue kalo gatau lagi mau nanya tentang be it masalah hidup or even galau jurusan.
Ngomongnya kayak yang kenal deket ye, padahal mah... Yaaa buat temen-temen deket gue pasti langsung tau deh siapa. Muse gue yang lahir bulan Februari, yang bahkan di hp gue sampe gue bikin 1 folder sendiri buat nyimpen foto-foto dia, yang in the end notice gue dan.... jadi temenan. Yup, temenan. Bahkan gue sendiri gatau gimana ngedeskripsiinnya.
gue ga bakal sebut namanya siapa sih, but pasti hampir semua orang tau dia siapa. ga juga deng. Hehehe. Pertama tau dia dari answeran presiden askfm. Langsung tertarik banget-banget-banget sama cara dia answer pertanyaan, background hidupnya, dan segala macem. Circa 2013-an lah, jamannya dia belum terlalu femes dan masih jawab answer dengan nawaitu. Literally everything yang bikin gue pusing gue tanya ke dia. Rekomen film, musik, Liverpool, bahkan how to overcome broken hearts. Tiap hari gue ga pernah absen scrolling timeline dia, sampe akhirnya suatu sore.....
hahahahaha he asked me a question! Sebenernya itu bukan kali pertama dia notice gue... Long long ago before dia notice gue di snapchat dan kita pernah snapchatan sampe nama gue muncul di bestfriendnya dia hehehehe meyjeyk. Gue lupa kapan pertama kali dia notice gue dan mulai manggil gue pake "Ta" setiap dia answer question gue.
Pertama ketemu dia Desember. Nonton Feast. Sebelum Feast manggung, gue sempet liat di makan dan ngobrol sama tetehnya, gue gemeteran asdfghjlddsalfhaslkjfsah gatau harus gimana. He frickin stood behind me. Ohiya, gue emang udah kenal sama bassistnya feast karena dengan sebuah ketidaksengajaan gue dipertemukan di salah satu grup buat instameet gitu. Sungguh semesta itu baik. Gue nonton mereka manggung dan bersama teman gig paling terkenal di skenanya alias vino, gue berhasil dapet setlist dan menyusup ke backstage hehehhee.
Gue lupa persisnya gimana yang jelas, he called my name and said "akhirnya ketemu juga ya" or something like that. Gue banyak ngobrol sih, ditawarin makanan minuman and yup everything went very lovely that night.
From a stranger to a friend even in Path. Awalnya gue ga berani ngeadd karena gue tau dia tipe orang yang bener-bener ngebatasin privasi, eh taunya diaccept dan gila gue seneng banget sih.... Bahkan dia ngekepoin path gue sampe setaun ke belakang gitu hahahahahaha ngapain dah lu bas.
"Bas, lagi sibuk?" "Lagi nyetir sih ini, ada apa neng?" "Pengen minta pendapat... If you were given a chance to study management in unpad or psychology in ui, which one would you choose?"
Iya, gue nanya pilihan hidup yang cukup besar ke orang ga dikenal ini. A stranger. Yang buat gue bukan stranger, again, he's my muse.
he chose psychology, and seperti seorang dia, his logical reason drove me here, in the path i'm walking now.
Gue juga ngucapin makasih ke dia setelah gue buka hasil snmptn gue.
Masih banyak banget hal tentang dia yang ugh i can't tell because i just don't know how.
mungkin ini kali ya, kerandoman yang terjadi beberapa hari lalu ke gue, saat ada kumpul kecil-kecilan psikologi. "Lit, elo yang temennya baskara itu bukan sih?" "Haaaaah? Bukan temen, kenal-kenal doang, hehehe" Gue shock. Out of nowhere ada yang ngomong gitu. Gue kira selama ini gue ngobrol di pagenya dia gaada yang notice gue.
Not only he brouhgt me answers to all of my unanswered questions... He brought me friends, acquintances, and deeper understanding of life.
Thanks to you, Bas.
long live.
10:24
So yup, hi. Hari ini pengen cerita soal muse gue. More like.. orang yang hampir 3 tahun ke belakang selalu jadi orang yang berada di kepala gue, sadar gak sadar, dan selalu jadi pelarian gue kalo gatau lagi mau nanya tentang be it masalah hidup or even galau jurusan.
Ngomongnya kayak yang kenal deket ye, padahal mah... Yaaa buat temen-temen deket gue pasti langsung tau deh siapa. Muse gue yang lahir bulan Februari, yang bahkan di hp gue sampe gue bikin 1 folder sendiri buat nyimpen foto-foto dia, yang in the end notice gue dan.... jadi temenan. Yup, temenan. Bahkan gue sendiri gatau gimana ngedeskripsiinnya.
![]() |
| Hey, hi, ao, hi. Ugh. |
hahahahaha he asked me a question! Sebenernya itu bukan kali pertama dia notice gue... Long long ago before dia notice gue di snapchat dan kita pernah snapchatan sampe nama gue muncul di bestfriendnya dia hehehehe meyjeyk. Gue lupa kapan pertama kali dia notice gue dan mulai manggil gue pake "Ta" setiap dia answer question gue.
Pertama ketemu dia Desember. Nonton Feast. Sebelum Feast manggung, gue sempet liat di makan dan ngobrol sama tetehnya, gue gemeteran asdfghjlddsalfhaslkjfsah gatau harus gimana. He frickin stood behind me. Ohiya, gue emang udah kenal sama bassistnya feast karena dengan sebuah ketidaksengajaan gue dipertemukan di salah satu grup buat instameet gitu. Sungguh semesta itu baik. Gue nonton mereka manggung dan bersama teman gig paling terkenal di skenanya alias vino, gue berhasil dapet setlist dan menyusup ke backstage hehehhee.
Gue lupa persisnya gimana yang jelas, he called my name and said "akhirnya ketemu juga ya" or something like that. Gue banyak ngobrol sih, ditawarin makanan minuman and yup everything went very lovely that night.
From a stranger to a friend even in Path. Awalnya gue ga berani ngeadd karena gue tau dia tipe orang yang bener-bener ngebatasin privasi, eh taunya diaccept dan gila gue seneng banget sih.... Bahkan dia ngekepoin path gue sampe setaun ke belakang gitu hahahahahaha ngapain dah lu bas.
"Bas, lagi sibuk?" "Lagi nyetir sih ini, ada apa neng?" "Pengen minta pendapat... If you were given a chance to study management in unpad or psychology in ui, which one would you choose?"
Iya, gue nanya pilihan hidup yang cukup besar ke orang ga dikenal ini. A stranger. Yang buat gue bukan stranger, again, he's my muse.
he chose psychology, and seperti seorang dia, his logical reason drove me here, in the path i'm walking now.
Gue juga ngucapin makasih ke dia setelah gue buka hasil snmptn gue.
Masih banyak banget hal tentang dia yang ugh i can't tell because i just don't know how.
mungkin ini kali ya, kerandoman yang terjadi beberapa hari lalu ke gue, saat ada kumpul kecil-kecilan psikologi. "Lit, elo yang temennya baskara itu bukan sih?" "Haaaaah? Bukan temen, kenal-kenal doang, hehehe" Gue shock. Out of nowhere ada yang ngomong gitu. Gue kira selama ini gue ngobrol di pagenya dia gaada yang notice gue.
Not only he brouhgt me answers to all of my unanswered questions... He brought me friends, acquintances, and deeper understanding of life.
Thanks to you, Bas.
long live.
10:24
Langganan:
Postingan (Atom)

