Satu minggu yang lalu.
Aku tidak pernah suka menyombongkan diri,
pun aku bukan orang congkak yang hobi menggembar-gemborkan satu dan lain hal.
Tapi kali ini berbeda.
Aku ingin bercerita, sekalian pamer saja,
tentang ceritaku satu minggu yang lalu.
Yang kuhabiskan bersama ibu, kakak, tante, dan kamu.
Kamu-ku.
Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa didefinisikan, sebab aku belum pernah merasakannya sebelumnya.
semuanya.
Semua bagiannya.
aku yakin kamupun tidak akan tahu apa namanya
perasaan yang tiba ketika melihat pasanganmu tertawa-tawa dengan kakakmu.
Percayalah, itu benar-benar sebuah perasaan yang baru.
Sekarang aku mau bercerita tentang malam mingguku.
Di atas kereta yang bergerak searah, yang kaca-kacanya memantulkan cahaya dari lampu-lampu kota Kuala Lumpur.
Kita berdiri saling mengaitkan tangan, menertawakan hal-hal lucu yang tidak ada di negeri kita berasal.
Kala itu hujan gerimis, awalnya. kita memasuki sebuah pusat perbelanjaan.
dan masih saling bergandeng tangan.
Aku suka waktu kamu mengajakku memasuki sebuah galeri lukisan di sana
Kita sok tahu
tapi tak apa, karena kamu bersamaku.
Lalu dua jam pun berlalu,
ah,
betapa waktu cepat melaju, kala kuhabiskan denganmu.
Kita duduk di atas kereta yang terus melaju
sambil sedikit kebasahan, kurebahkan kepalaku di bahumu.
Aku senang, kamu menerima lagu kesukaanku waktu itu.
St. Patrick's Day-nya Mr. Mayerku.
Kamu yang terlelap sebentar, dan aku yang tersenyum memandangimu.
Ku tutup hari itu sambil terus tersenyum, dan tak melepaskan genggamanku darimu.
dan kucium pipi kananmu yang lucu.
Aku sangat suka kamu
aku
dan Kuala Lumpur milik kita.
7.11.15
10.10.15
Ugh.
Ah, hi.
I've just finished reading Critical Eleven by my one and only favorite author, Ika Natassa.
To be honest, the book is really full of angst and hatred. Even halfway through of it and more.
My favorite is still Antologi Rasa, though.
Ika Natassa's writing taught me that every single relationship has their own disguised problem nobody knows.
I remembered a phrase from Critical Eleven, "be careful what you wish for, for you don't know what you're really wishing." We are all, at times, wish to have a happy go lucky relationship like those people you follow on instagram. Wishing to have a relationship as cute and as easy as they seem to have.
But what do we know?
What do we undertand?
We only look at the surface.
Saya, sama terlukanya seperti Keara, ketika Harris melakukan hal yang membuat semua kecewa, ketika sedang menghabiskan waktu berdua dengan Keara di Singapura.
Saya, sama terlukanya seperti Anya, ketika Ale mengatakan rentetan kata yang menghunus dada ketika mereka sama kehilangan Aidan.
Tapi Tuhan, i don't have the same courage as K had, or the same dissapointment as Anya had.
Saya tidak sekeras K yang begitu saja menganggap Harris musnah bagai kapur barus yang mengendap di sudut lemari.
Bukan juga Anya yang berpendirian kuat mendiamkan Ale beratus-ratus hari.
Dan kamu-pun bukan Harris ataupun Ale, yang rela memperjuangkanku habis-habisan seperti keduanya memperjuangkan wanita-wanita itu.
Mungkin aku hanya butuh waktu, sama seperti K dan Anya.
Aku butuh waktu untuk mencerna menyembuhkan luka yang walaupun sudah seminggu berlalu,
Darahnya masih terus menetes.
Masih basah.
Mungkin satu,
Dua,
Tiga,
Atau delapan bulan sekalian.
Sayang, kamu bukan Aldebaran.
Aku ingin sekali menghapuskan ingatan biadab itu.
Tidak seperti Anya yang ingin memindahkan Ale-nya ke Hypocampus--aku ingin ingatan itu dihapus dan mampus saja.
Aku benar-benar membutuhkan jasa Lacuna Inc. di dunia nyata.
25.9.15
Terkadang, saya merasa kemarahan dan kekecewaan adalah dua bayi kembar
yang berteriakan menangis karena kehausan,
atau entah karena mencari perhatian.
Jika keduanya dimuntahkan, sama-sama memekakkan.
Memusingkan.
Dan kesedihan adalah rasa kelaparan dalam perut anak-anak terlantar di pinggir jalan.
Yang menggerogotimu dari dalam secara perlahan.
Sama, ia meronta, meminta diperhatikan.
Tangisi sajalah, paling hanya membengkakkan.
Walau sama memusingkan.
Kebahagiaan adalah rerintik hujan yang muncul perlahan lalu deras kemudian.
sampai akhirnya kamu memutuskan membuka payung dan memilih pulang.
yang berteriakan menangis karena kehausan,
atau entah karena mencari perhatian.
Jika keduanya dimuntahkan, sama-sama memekakkan.
Memusingkan.
Dan kesedihan adalah rasa kelaparan dalam perut anak-anak terlantar di pinggir jalan.
Yang menggerogotimu dari dalam secara perlahan.
Sama, ia meronta, meminta diperhatikan.
Tangisi sajalah, paling hanya membengkakkan.
Walau sama memusingkan.
Kebahagiaan adalah rerintik hujan yang muncul perlahan lalu deras kemudian.
sampai akhirnya kamu memutuskan membuka payung dan memilih pulang.
15.9.15
A non-existent conversation i've just had in my head.
"Hello sunshine, or what's your name today? Well, you look so graceful, but I'm not faithful..
Do you really want to be with me?"
- I wasn't sunshine at all.
"Hello summer, or should I say goodbye? Well, it's been so long but I'm still thinking..
If its worth another try?"
If its worth another try?"
- He...llo? It was really worth it, I wished it lasted longer.
"Well I've got a lot to talk about if you still want to listen, or if you even care."
- You were always a talkative you. I would've listened to every word you said, believe me, I cared.
"I'm just trying to find my place in this world and I know, it's not so right to feel this way about a girl."
- Me too. Our axis aligned somehow. What was so wrong about it?
"But if you stay, or if you go, I'm right there with you, but you know that I'm looking for more than a pretty smile.. and, if I'm lucky, you can stay for a while. But if you stay or if you go, I'm just hanging on again."
- :)
"Hello stranger, we haven't had a past, but now I learn so much; time's gone by so fast."
- Did you realize that time expands everytime we're together? I love spending my hours with you.
"I love to say that I'm so glad I found my place in this world, and it's alright to feel this way about a girl."
- me too.
"Now if you stay or if you go, I'm just hanging on again."
10.9.15
"What is bad for your heart is good for your art."
Jika susunan kata diatas adalah berhala, saya penyembah paling setianya.
entah, saya memang seperti ini.
baru produktif berkarya malah ketika sedang terluka.
mengerti, kan, kenapa dinamakan "happy ending"?
Bukan, bukan karena memang sudah ending.
Penulisnya gatau, apa yang harus dituliskan begitu muara suatu cerita sudah terhenti di titik bahagia.
Bahagia bukan berarti stagnansi, hanya saja, ritme yang semenjak dulu dibangun, sudah jadi lebih teratur.
Ritme yang fluktuasinya seperti detak jantung atlet yang sehabis lari, berganti menjadi detak jantung orang yang hampir mati.
Bahagia itu menyenangkan, dan tentunya menenangkan.
Hidup bagai berjalan di atas garis lurus yang langkahnya tegap dan pasti, tidak takut tergoyah angin.
Dan saya akui, saya bahagia.
Jika kamu merupakan salah satu orang terdekat saya, yang sering saya rutuki ketika kesal karena semalam beradu mulut dengannya,
percayalah,
saya tidak pernah sepenuhnya emosi kepadanya.
Saya tidak mau menjadi bodoh dan menyesal nantinya.
Saya tidak tahu apakah pada akhirnya, dia satu-satunya,
tetapi, untuk saat ini, saya hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya.
Jika susunan kata diatas adalah berhala, saya penyembah paling setianya.
entah, saya memang seperti ini.
baru produktif berkarya malah ketika sedang terluka.
mengerti, kan, kenapa dinamakan "happy ending"?
Bukan, bukan karena memang sudah ending.
Penulisnya gatau, apa yang harus dituliskan begitu muara suatu cerita sudah terhenti di titik bahagia.
Bahagia bukan berarti stagnansi, hanya saja, ritme yang semenjak dulu dibangun, sudah jadi lebih teratur.
Ritme yang fluktuasinya seperti detak jantung atlet yang sehabis lari, berganti menjadi detak jantung orang yang hampir mati.
Bahagia itu menyenangkan, dan tentunya menenangkan.
Hidup bagai berjalan di atas garis lurus yang langkahnya tegap dan pasti, tidak takut tergoyah angin.
Dan saya akui, saya bahagia.
Jika kamu merupakan salah satu orang terdekat saya, yang sering saya rutuki ketika kesal karena semalam beradu mulut dengannya,
percayalah,
saya tidak pernah sepenuhnya emosi kepadanya.
Saya tidak mau menjadi bodoh dan menyesal nantinya.
Saya tidak tahu apakah pada akhirnya, dia satu-satunya,
tetapi, untuk saat ini, saya hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya.
30.7.15
"I never make a good liar. All people know that.
I never found any good listeners than a blank of paper and a healer than the warmth of sunrise.
Yes, it sounds too lonely. But I think that is who I really am.
Solitary is the best word to describe. As dry and windy as my elementary school field when all kids went home earlier. And all I can do is take a deep breath with a blank stare.
I want to go somewhere far alone, making peace with all the feelings that have been growing quite long. Say some deep wishes and prayers to those loved fellows, then close my eyes, and take a deep breath.
There is a phase that I think everybody will face. The time when old photos are the things that you seek for. When the weather, the smell, the feeling of the moments captured in the pictures easily come into the nerves of your body. When your head is like a busy metropolitan city that you can’t get rid of. And when you feel that you just want to be with nobody and leave all of your responsibilities behind."
2.7.15
"...you're: my favorite December.
and i'm January, but we're on the same calendar."
Hai Lola,
baikkah kabarmu?
Tidakkah kau rindu keberadaanku?
Saat kita masih menertawakan kesamaan,
bukan meratapi perpisahan.
Lola,
katamu semua karena ini rahasia kita.
Lola, Lola.
Kau masih saja senang mengumbar janji yang belum pasti.
Seperti saat ini aku terdiam menunggu kabar darimu,
kau bilang iya, nanti, pasti aku beri tahu.
Tahukah kamu, Lola, terkadang aku berpikir
kita adalah sejiwa yang terbagi dalam dua raga.
Begitu banyak kesamaan yang tak disengaja.
Begitu banyak persamaan yang bahkan kita tak menyadari sebelumnya.
Kau gemar mempermaikanku rupanya, Lola.
Aku selalu mengalah dan memilih percaya.
Lola yang tidak suka beradaptasi,
Lola tidak suka memaksakan diri.
Lola,
Kita sama-sama suka hujan,
pun sama tidak suka kehujanan.
Hujan-pun yang mempertemukan kita bukan?
Lola,
Kita sama-sama gila akan merdu elegi, suara waloni
ataupun lengking indah vokal utami.
kau rela menghabiskan sepenuh hari, mencari-cari nada dan kunci.
Lola,
Kita sama-sama tidak suka sepatu putih.
maupun merdu ode ramondo.
Jaga dirimu, Lola.
Jaga selalu.
Sampai aku yang bisa menjaganya untukmu.
Mungkin di pertemuan selanjutnya
Mungkin dengan perantara doa
Mungkin dalam wujud selimut yang kau peluk saat kau nyaris mati beku, seperti waktu itu.
Mungkin tidak sekarang atau nanti
tetapi pasti,
Lola.
5.6.15
Pengar kepalaku
Terbangun dan memandang ke sekeliling kamar.
Mencoba mencari jejakmu yang kupikir tadi malam singgah sebentar.
Aku merasa sudah tidak perlu menengok keluar;
terlalu hingar,
Macam di pasar.
Aku bukan seperti wanita-wanitamu yang mencintai bingar.
Kupikir aku lebih cocok disandingkan dengan kesunyian, dengan sedikit petikan gitar.
Aku pernah mencoba menatap ke dalam mataku sendiri.
Nanar.
Bukan karena kosong,
tapi karena kamu masih berada disana.
Dan hanya ada disana.
Terbangun dan memandang ke sekeliling kamar.
Mencoba mencari jejakmu yang kupikir tadi malam singgah sebentar.
Aku merasa sudah tidak perlu menengok keluar;
terlalu hingar,
Macam di pasar.
Aku bukan seperti wanita-wanitamu yang mencintai bingar.
Kupikir aku lebih cocok disandingkan dengan kesunyian, dengan sedikit petikan gitar.
Aku pernah mencoba menatap ke dalam mataku sendiri.
Nanar.
Bukan karena kosong,
tapi karena kamu masih berada disana.
Dan hanya ada disana.
2.6.15
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap detik yang telah kita habiskan berdua.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap nada yang pernah kita nyanyikan dibawah hujan.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap kata yang kau labuhkan kedalam jiwa, menghangatkanku disaat dunia sedang gila.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap tawa yang lepas dan mengukung bebas, membuat aku terhempas.
Dan aku jatuh cinta.
pada setiap detik yang telah kita habiskan berdua.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap nada yang pernah kita nyanyikan dibawah hujan.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap kata yang kau labuhkan kedalam jiwa, menghangatkanku disaat dunia sedang gila.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap tawa yang lepas dan mengukung bebas, membuat aku terhempas.
Dan aku jatuh cinta.
18.5.15
Foxes, Geese, and Black Metal.
Kamu berlari memasuki warung tempatku terduduk sudah cukup lama.
Kau berbincang dengan teman yang menemaniku saat itu.
Aku hanya mengulum senyum dan langsung memalingkan wajah.
Tak begitu spesial.
Kamu mengenakan celana jeans biru tua,
Warna sepatu yang senada,
dengan kemeja kemerahan.
Jam tanganmu hitam, dengan banyak tali melingkar dibelakangnya.
Duniaku terhenti ketika kamu tertawa.
Kamu jauh lebih tinggi daripadaku. Tubuhmu tegap dan suaramu ramah, lucu.
Dibawah derasnya hujan, kita berbincang tentang nama-nama yang banyak orang tidak kenali.
Aku senang kamu menikmati apa yang kunikmati.
20.4.15
What Ifs are the saddest.
How about a cup of coffee, and small talks with light laughs in a faraway coffee shop?
I'm not a fan of americano, but i'd give it up for an espresso.
How about a pint of alcohol, and weird discussions, about god and if it's true, about universe and if it's parallel, in a small bar with a deep scent of cigarettes?
It's forbidden for me to consume alcohol but darling, you're the one that's so intoxicating.
How about a mug of hot tea, or if you love hot chocolate better, let's have it for two,
and deep talks about our hearts, with long thoughts, and silence inbetween?
Actually it's never silence, we're just too in love with the sound of the raindrops.
How about a botttle of mineral water, in each hand.
taking long walks along the pavement. with our eyes looking straight ahead, but our mind tied with each other's?
It could be a long and winding road, but you'll be the spark that always lit me.
How about me chewing snickers and you smoking your cigarettes, laying on top of highest highland, watching the moon hooking up with the stars?
We'd catch a cold together, and i'll find it cute.
How about as long as we could, not forever?
I'm not a fan of americano, but i'd give it up for an espresso.
How about a pint of alcohol, and weird discussions, about god and if it's true, about universe and if it's parallel, in a small bar with a deep scent of cigarettes?
It's forbidden for me to consume alcohol but darling, you're the one that's so intoxicating.
How about a mug of hot tea, or if you love hot chocolate better, let's have it for two,
and deep talks about our hearts, with long thoughts, and silence inbetween?
Actually it's never silence, we're just too in love with the sound of the raindrops.
How about a botttle of mineral water, in each hand.
taking long walks along the pavement. with our eyes looking straight ahead, but our mind tied with each other's?
It could be a long and winding road, but you'll be the spark that always lit me.
How about me chewing snickers and you smoking your cigarettes, laying on top of highest highland, watching the moon hooking up with the stars?
We'd catch a cold together, and i'll find it cute.
How about as long as we could, not forever?
So today I realized how hard it is to say goodbye.
Even to the simplest things, like raindrops and the sound of it's drop dripping on the rooftop.
the pitters and the patters. Falling towards each other.
I was thinking about leaving.
Because one day, we'll all be. eventually.
So what do I worry? what do we all worry in general?
Now can you tell me, why is it even harder to say goodbye to things that have made so many bad impacts on you?
tell me, why is it so hard to say goodbye to things that caused so much pain inside you?
"We're all stories in the end, everything has to end sometime. Otherwise, nothing would ever get started. If it's time to go, remember what you're leaving.
remember the best."
15.4.15
aku enggan menjadi rintik air hujan,
yang singgah mebasahi namun sekejap menghilang pergi.
aku enggan menjadi sebait kata,
yang sekedar melintas dalam kepala.
hilang tidak terbaca, menjadikannya tiada.
aku enggan menjadi api.
berkobar sekali, padam ia tiada kembali.
aku ingin menjadi senja.
Semburat jingga yang menenangkan jiwa.
hanya sekelebat,
namun indahnya mendekap hangat.
aku ingin menjadi harmoni,
berdenting sekali,
namun nadanya merasuki.
Berputar di kepala, tiada henti.
yang singgah mebasahi namun sekejap menghilang pergi.
aku enggan menjadi sebait kata,
yang sekedar melintas dalam kepala.
hilang tidak terbaca, menjadikannya tiada.
aku enggan menjadi api.
berkobar sekali, padam ia tiada kembali.
aku ingin menjadi senja.
Semburat jingga yang menenangkan jiwa.
hanya sekelebat,
namun indahnya mendekap hangat.
aku ingin menjadi harmoni,
berdenting sekali,
namun nadanya merasuki.
Berputar di kepala, tiada henti.
12 Maret, 22:45.
Kehabisan kamu, akupun kehabisan bahan untuk menulis. Harusnya memang tidak boleh seperti ini, dan memang tidak baik seperti ini.
Tetapi kamu. Menjadi memori paling jelas di dalam kepalaku, sabtu lalu.
Bahkan seorang jelmaan malaikat seperti Remedy Waloni saja seketika terhapus ketika aku kembali bertatap mata denganmu.
Kamu tidak banyak berubah, ya.
Hanya saja, kali ini, aku tidak seberani dahulu tertawa sambil melihat kedalam matamu.
kali ini, aku bahkan tidak bisa memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan basa-basi mu.
Aku sangat senang bertemu denganmu malam itu,
Meski ketika berdiripun aku harus menjaga jarak cukup jauh darimu.
Kita terbiasa berdiri berdampingan dan saling menyentuh, ingat?
Tapi tak apa. Aku sudah mampu berdiri sendiri.
Cukup lama ya, ternyata, kita tidak bertemu?
Kau menanyakan mengapa aku memotong rambutku.
Dan sungguh, aku tahu alasanku memotong tak lain karena bosan,
tetapi mengapa yang terlintas di pikiranku saat itu, adalah kamu?
Seorang kawan pernah mengkhawatirkanku, berlebihan memang.
Ia bertanya apakan alasanku memotong rambut adalah karena ingin memulai sesuatu yang baru--
yaitu bersamaan dengan aku memotong rambutku--aku juga menghapuskan namamu dari kepala.
Mungkin, iya. Mungkin juga tidak.
Pikiranku memang mudah membohongi diriku sendiri.
Lihat, aku sebuah sistem yang sangat kompleks, bukan?
Sungguh, d. Aku tidak membutuhkan apa-apa.
Aku tidak menginginkan kamu. Sungguh.
Aku hanya ingin masih menjadi bagian dari hidupmu.
Terlepas dari seberapa dalam aku terluka karena mencintaimu, aku tetap mengagung-agungkan tawa saat kita masih bersama. Aku pernah bahagia. Lebih dalam dari aku terluka.
Dan aku merindukanmu,
segala hal tentang aku dan kamu.
----semoga kamu berjalan terus melaju. Sesekali, tengoklah ke belakang. aku masih berdiri di tempat yang sama.--
Tetapi kamu. Menjadi memori paling jelas di dalam kepalaku, sabtu lalu.
Bahkan seorang jelmaan malaikat seperti Remedy Waloni saja seketika terhapus ketika aku kembali bertatap mata denganmu.
Kamu tidak banyak berubah, ya.
Hanya saja, kali ini, aku tidak seberani dahulu tertawa sambil melihat kedalam matamu.
kali ini, aku bahkan tidak bisa memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan basa-basi mu.
Aku sangat senang bertemu denganmu malam itu,
Meski ketika berdiripun aku harus menjaga jarak cukup jauh darimu.
Kita terbiasa berdiri berdampingan dan saling menyentuh, ingat?
Tapi tak apa. Aku sudah mampu berdiri sendiri.
Cukup lama ya, ternyata, kita tidak bertemu?
Kau menanyakan mengapa aku memotong rambutku.
Dan sungguh, aku tahu alasanku memotong tak lain karena bosan,
tetapi mengapa yang terlintas di pikiranku saat itu, adalah kamu?
Seorang kawan pernah mengkhawatirkanku, berlebihan memang.
Ia bertanya apakan alasanku memotong rambut adalah karena ingin memulai sesuatu yang baru--
yaitu bersamaan dengan aku memotong rambutku--aku juga menghapuskan namamu dari kepala.
Mungkin, iya. Mungkin juga tidak.
Pikiranku memang mudah membohongi diriku sendiri.
Lihat, aku sebuah sistem yang sangat kompleks, bukan?
Sungguh, d. Aku tidak membutuhkan apa-apa.
Aku tidak menginginkan kamu. Sungguh.
Aku hanya ingin masih menjadi bagian dari hidupmu.
Terlepas dari seberapa dalam aku terluka karena mencintaimu, aku tetap mengagung-agungkan tawa saat kita masih bersama. Aku pernah bahagia. Lebih dalam dari aku terluka.
Dan aku merindukanmu,
segala hal tentang aku dan kamu.
----semoga kamu berjalan terus melaju. Sesekali, tengoklah ke belakang. aku masih berdiri di tempat yang sama.--
25.2.15
This is a wasteland and you're such a waste of time.
So fuck you.
I hope you step on a lego, I hope you suck at football and there's this random fat-ass boy yelling at you, telling you that you're a disgrace and that you're a dumbass motherfucker who doesn't even know how to play football properly. I hope you get into a long-lasting relationship with your current stupid girlfriend just to find out later that i'm better than her and then you spend the rest of your life griefing, drown in your miseries, asking god why didn't you chose me back then. I hope you choke on your un-chewed food until you can hardly breath. I hope your mother finds out your shitty exam score and gives you some punishments. I hope you get struck by a lightning so hard you'll come back to me (sounds like adhitia sofyan's eh)
Fuck you. Fuck you. Fuck you. Fuck you and every single little thing you told me. Fuck you.
So fuck you.
I hope you step on a lego, I hope you suck at football and there's this random fat-ass boy yelling at you, telling you that you're a disgrace and that you're a dumbass motherfucker who doesn't even know how to play football properly. I hope you get into a long-lasting relationship with your current stupid girlfriend just to find out later that i'm better than her and then you spend the rest of your life griefing, drown in your miseries, asking god why didn't you chose me back then. I hope you choke on your un-chewed food until you can hardly breath. I hope your mother finds out your shitty exam score and gives you some punishments. I hope you get struck by a lightning so hard you'll come back to me (sounds like adhitia sofyan's eh)
Fuck you. Fuck you. Fuck you. Fuck you and every single little thing you told me. Fuck you.
1.2.15
Tidak usah dicari, nanti juga datang sendiri.
Nikmatin aja dulu apa yang ada, nikmatin apa yang diterima.
Nikmatin yang datang, nikmatin juga yang pergi.
Some people are so busy searching for what's not there,
they forget to appreciate what's there from the first time.
Nikmatin yang datang, nikmatin juga yang pergi.
Some people are so busy searching for what's not there,
they forget to appreciate what's there from the first time.
25.1.15
22.1.15
11.1.15
people keep asking the reason why i'd choose him all over again, above anything.
little did they know, i was asking myself too. I keep asking why, but every time I tried to ask myself, the reason was always there was no reason behind it. I love him sincerely, unintentionally, and at also a time, deeply.
My mind always wanders back to you everytime I daydream.
Until i came to the realisation,
that the only reason why I loved you,
was because you are real.
i love you because you're far more better than the guy i'd always dreamed of;
i love you because, you are real.
little did they know, i was asking myself too. I keep asking why, but every time I tried to ask myself, the reason was always there was no reason behind it. I love him sincerely, unintentionally, and at also a time, deeply.
My mind always wanders back to you everytime I daydream.
Until i came to the realisation,
that the only reason why I loved you,
was because you are real.
i love you because you're far more better than the guy i'd always dreamed of;
i love you because, you are real.
10.1.15
❝ Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.❝
—Dewi Lestari, Rectoverso.
------------------------------------------------------------------------------------------
malam ini malam yang indah. aku sedang terduduk dalam sebuah gelanggang olahraga bersama seorang kawan lama, menikmati alunan musik yang merdu dan syahdu dari payung teduh. Iya, payung teduh. Untuk yang ke-dua kalinya. Dan sama-sama di kota kesayanganku ini.
hanya saja, sedikit berbeda.
tidak ada tawa kita di jeda antar nada yang dilantunkan Bang Is dengan manis.
tidak ada acara tebak-menebak judul ketika intro baru dimulai dengan 2 petikan gitar.
tidak ada kekecewaan yang tergambar di wajah kita ketika acara itu telah selesai.
tidak ada lanjutan konser independen di dalam mobilmu.
tidak ada kekhawatiranmu akan sodoran pertanyaan dari ibuku.
tidak,
tidak ada kamu.
dan lagu favoritku, karena kau pernah menyanyikannya untukku, pun sedang dilantunkan Bang Is dengan manis.
Disaat yang sama, handphone-ku menyala.
satu buah pesan singkat dari seorang kawan diterima.
membawa kabar bahagia yang untukku kabar duka,
dan seketika, runtuh duniaku. luruh, menyeluruh.
jatuh secara utuh, bergemuruh.
dan aku terdiam. menutup mata. mencoba menerka.
mencoba meraba-raba dan mencari, tapi tak ada.
air mataku jatuh bersamaan dengan duniaku.
---------------------------------------------------------------------------------------------
-(semoga kalian bahagia.)
8.1.15
sedikit celoteh tentang ambisi

Kemarin, saya kembali terduduk di sebuah ruangan yang terasa penuh ambisi. Sudah terbiasa memang melewati atmosfir seperti ini, dengan pulpen, dan terkadang pensil di genggaman, se-abrek kertas diatas meja, dan tatapan-tatapan tajam yang sangat serius memperhatikan tanpa sempat menengok sedetikpun.
Tidak mudah berada terkungkung dalam sebuah ruangan, dicekoki materi-materi pelajaran selama hampir 9 jam non-stop, disaat anak-anak 'normal' yang lain sedang berlibur dan bercengkrama bersama keluarganya, entah di rumah atau mungkin di pusat perbelanjaan besar di tengah kota.
Tapi mungkin disanalah letak perbedaannya, semua hal sulit akan terasa mudah apabila kita menikmati prosesnya. Jika dibayangkan, terduduk kaku dari jam 9 pagi sampai nanti sore menjemput dan matahari telah pergi, sangat membosankan. Bagi saya, itu tak lebih dari sebuah permainan. Saya menikmatinya.
Saya menikmati ritme-nya, alur detik-nya, bahkan bunyi detak-nya.
Namun, menganggapnya sebagai sebuah permainan adalah sebuah kesalahan rupanya. Menjadi yang paling tidak serius diantara manusia-manusia ambisius dapat menjadi nilai minus.
Tapi saya percaya, Tuhan Maha Baik.
Tanpa saya sadari, 'pekerjaan' ini telah membawa saya ke banyak tempat.
'pekerjaan' ini telah membawa saya ke tengah kota depok untuk berguru disana.
'pekerjaan' ini telah membawa saya ke ujung kota Bandung selama 2 hari satu malam, berjuang melawan ratusan yang memiliki mimpi jauh lebih tinggi daripada saya, yang hanya menganggap ini sebagai sebuah permainan.
'pekerjaan' ini telah mengantarkan saya menaiki kereta yang membawa saya ke kota Yogyakarta selama 3 hari, di dalam sebuah kamar hotel bersama 3 orang asing yang tidak sama sekali kukenali. 'pekerjaan' ini mempertemukanku dengan sebuah universitas yang mulai diam-diam meracuni otakku, meronta memintaku untuk memasukinya 2 tahun lagi.
namun satu hal yang paling pasti, 'pekerjaan' ini memberikanku kesempatan untuk membuka kembali mata. bahwa ternyata ambisi adalah salah satu bahan bakar penting untuk kita merasa hidup. Walaupun kau anggap ini sebuah permainan, bukankah alangkah lebih menyenangkan jika kamu yang keluar sebagai juaranya?
Saya kembali memperhatikan sekeliling kelas, masih mata-mata yang sama. kerut jidat yang sama.
hanya materi yang berbeda, he he.
Tuhan, terimakasih untuk banyak kesempatan yang telah Engkau berikan kepada saya.
Jangan bosan-bosan, ya Tuhan?
Tahun ini finish line-nya di yogyakarta. Bolehkah saya ikut ke sana, Tuhan?
5.1.15
to the boy with brownish parka
His hair is Hazel brown, so do his glowing eyes. With the height of maybe 170-ish, or less, i'm not capable to state exactly how much--because i haven't met him in real life.
He loves to play guitar, he even takes part as a lead guitar on his band. I just can't get through a day withouth listening to his band's songs.
He has that kind of a slight mustache that i've always adored, that's one of so many little things i found so cute on him. like a black mark on his right eye's eyelids.
hey you know, maybe someday, we could just bump into each other in a small coffe shop nowhere near where we are now. Even though i'm a hundred percent sure you won't even want to waste your time glancing at me. I know who I am, i'm not your type of girl but, hey, at least that laugh i used to admire through some shitty platform could turn into a real remedy for me.
Let's accidentaly meet somewhere we don't know.
i'm getting excited for something that isn't even likely to happen.
He loves to play guitar, he even takes part as a lead guitar on his band. I just can't get through a day withouth listening to his band's songs.
He has that kind of a slight mustache that i've always adored, that's one of so many little things i found so cute on him. like a black mark on his right eye's eyelids.
hey you know, maybe someday, we could just bump into each other in a small coffe shop nowhere near where we are now. Even though i'm a hundred percent sure you won't even want to waste your time glancing at me. I know who I am, i'm not your type of girl but, hey, at least that laugh i used to admire through some shitty platform could turn into a real remedy for me.
Let's accidentaly meet somewhere we don't know.
i'm getting excited for something that isn't even likely to happen.
4.1.15
"Even though, nobody knows what will I really be. It is just okay, I have learned that His plan is a thing nobody ever knows. However, thank you for becoming one of my superior motives in my effort from now on. And if someday you find a nice girl, have her beside. it is okay as long as she fits you best. Because the past three months have taught me that it is no more about possession, it is more about being wise.
And the long talk,
After highlands,
where will they go tomorrow?
I am looking forward to have the talks for more."
And the long talk,
After highlands,
where will they go tomorrow?
I am looking forward to have the talks for more."
(this was taken from ariefsyakur's)
it was a saturday, and like it used to be, it was raining hard.
You and your ciggarettes, me and my wandering thoughts.
sitting in silence in your car that was turned off, we savor the joy of the falling rain.
it was almost 4, and we liberately stuck ourselves in one virgin highland on the top of our city.
you took my hand as you laughed at it. I was resting bitch face but deep down there, no, you don't have any idea what was going on in me. It was a butterfly riot, i think.
then we drive off of the hill. You stroke my head as I told you a-not-so-funny joke, and i couldn't help but smiling in silence.
i just, really, deeply, simply, love you that way.
the way you talk nonsense but i found it so exciting,
the way you listen carefully to things i know that you don't know,
the way you smile in silence,
the way you smell,
the way you confuse me,
the list will keep on going, the list will keep on growing.
even i love the way you hurt me over and over again.
Langganan:
Postingan (Atom)



