28.7.16

Gabisa Tidur. #1


Random talk of the day "Ma, kayaknya kalo aku anak ipa, aku milih masuk Desain Interior deh."
dan dilanjutkan dengan ceracau mengenai betapa bodohnya saya di bidang hitung-hitungan dan betapa saya tidak akan survive di sana. Ya begitulah mama saya, suka ngedebatin hal yang bahkan bakal kejadian juga enggak.

So what's up with Desain Interior? Not much, really. Hidup jadi orang yang ga passionate-passionate amat memang sulit. Bukan ga pasionate sih, more like, i really don't know what i'm super good at. I'd say i'm pretty good at drawing. Writing. Playing guitar. Photography. School lessons (of course). Talking to people. Spreading networks to even older people. But that's it.. I'm just pretty good at it. Not super good.

Yaaaa, dan akhir-akhir ini lagi suka aja liat desain-desain grafis, di feed-feed instagram orang. Mulai dari warna-warna pastel sampe warna-warni berani. Sumpah, ngidam banget gue bisa jago adobe illustrator. Salah satu skill yang pengen banget gue achieve sekarang. Pengen memulai, tapi takut gak kepake. Gue suka desain, demen gambar-gambar. Tapi ya itu masalah gue.. ga jago-jago amat. To sum it up, keahlian gue banyak tapi yang gue jago banget? paling cume ngomong ngalor ngidul aja. Sisanya... yaudah standar.

Sampe detik ini, gue ngejalanin hidup dengan asas yaudahlah jalanin aja siapa tau berguna siapa tau berguna siapa tau berguna. Bahkan sebenernya tanda tanya besar masih ada kok di hati gue, tentang psikologi. Jujur alesan gue milih siko ya gara-gara fleksibel aja hasil akhirnya. Tinggal liat nanti tiba-tiba gue pengennya jadi apa. Tuh kan, tinggal liat nanti lagi. Entah gue mau bikin sekolah charity khusus buat anak-anak gak mampu kah, atau gue mau jadi psikiater kah, atau gue mau jadi head of HRD di Bank Indonesia kah, atau bahkan gak semuanya sama sekali, gue masih gatau. Hidup gue ya itu aja, terbangun dengan 2 buah tanda tanya di kepala gue. Yang satu tanda tanya besar soal plan hidup, yang satu tanda tanya kecil tentang plan hari itu.

Hari itu, gue lewat depan gedung komunikasi. Tempat hits yang selalu dijadikan latar foto teman-teman gue yang sudah sukses selesai sidang. Iyaaaa setua-tua itu memang kenalan gue. Godaannya berat banget, ditambah pertanyaan "yaudah, kenapa gak kom aja?" yang bertubi-tubi ditanyakan ke gue. Sumpah, jangan tanya gitu. Makin merasa bersalah aja gue sama diri gue sendiri. "Ditentang dari mana-mana." lah yang jadi jawaban gue selama ini. Ya iya gue tau ini hidup hidup gue, gue juga tau. Tapi gue sendiri gatau apa yang terbaik buat gue. Jadi sampai detik ini, i guess i'll still give the wheel to other people.

Yang bisa gue lakuin sekarang ya cuma ngejalanin apa yang udah gue dapet sekarang dengan sebaik-baiknya. Gaada waktu buat nyeselin apa-apa.. Toh jalan yang gue pilih ya ini.

.....tetapi gue masih tetep pengen bisa Adobe Illustrator. Tolong.

27.7.16

bandung, someday in 2016, with you little monkey, i hope so.



Saturday 22.30 A.M

Midnight rolls around, with your car's window down. Your eyes still wide awake, and the lamp lights outside reflected from them. I tilted my seat down, trying to shut my eyes while humming to whatever song you'd chosen. You smiled and run your finger through my head, then going back again to focus driving mode. I told you not to put Citizen on the player but, you insisted, you said it's okay, perfectly okay.

Long meadows and black trees are running fast outside, it felt like they left us behind. I started talking about my dreams, how it was destroyed, rebuild, and reform again. I told you about heartbreaks, and how it got me depressed. You nodded and held my hand as the night pass by, i really could see the universe from your eyes. It showed sincerity, the purest, from all i've seen.

You told me that it's always okay not to be okay, that everytime is the perfect time to be not okay, or just okay. You told me about your suicidal thoughts, about god, about what's not. It's never going to be enough you said, never.

17.7.16

Untuk Osr.

 

sudah berpuluh-puluh malam waktu itu, kuhabiskan entah di jok belakang motormu atau di kursi depan rumahku. Jika tidak sempat, kita bercengkrama di telepon, sampai lewat tengah malam. Aku entah ingin menamainya apa, kita berjalan seiringan tapi tak pernah tahu akan kemana.

Denganmu dulu, walau hanya sebentar saja, aku merasa menjadi perempuan paling disayangi sedunia. Jujur, mungkin baru pertama kali aku diperlakukan seperti itu. Seperti waktu kamu muncul di depan pintu rumahku, membawakan 2 bungkus dimsum yang kau tahu merupakan makanan kesukaanku.

Atau seperti sore kala aku ingin pergi ke sebuah acara dii restoran dekat rumahku, kamu dengan senang hati menemani, walaupun sama sekali tidak mengerti.
Atau kamu yang sudah entah berapa kali rela meninggalkan kegiatanmu sekedar hanya untuk mengantar dan menjemputku.

Aku tidak tahu apa yang memukul kepala dan dadaku waktu itu. Di malam kamu menangis dan menelponku. "Sayang banget sama Alit. Sayang, terlalu sayang. Gabisa bayangin kalo Alit pergi. Alit jangan pergi, gabakal pergi kan?" Aku terdiam, pun menangis. Menangisi diriku sendiri, yang tega melukai orang yang sesayang itu kepadaku. Yang pada akhirnya memilih untuk beranjak dan pergi meninggalkanmu.

Perlu kamu tahu, aku tidak pernah menghapus lagu-lagu yang kamu nyanyikan untukku, hampir setiap malam selama 4 bulan kita bersama. Terutama lagu yang kamu khusus buatkan untukku. Aku juga tidak pernah lupa kaos kaki hijau tua milikmu itu, walaupun aku tidak pernah suka.

Kamu yang sangat benci cicak. Rambut halusmu yang mengalahkan rambut bayi adik sepupuku. Mata sipitmu. Kalung kura-kura aneh yang suka kuberi makan takut mati kelaparan. Lagu-lagu kesukaan kita. Motor Scoopy-mu yang menjadi saksi banyak tempat di kota kita ini; siomay legendaris, pom bensin mawar, gig angsa dan serigala, warung roti bakar, atau jalan-jalan yang kita lewati sekadar untuk mengulur waktu dan memperpanjang malam.

Dan pelukanmu itu, yang sudah hampir aku lupa. Pelukan yang singkat dan tiba-tiba, yang tidak pernah kuceritakan pada siapa-siapa. Pelukan yang pertama, namun sayangnya pun untuk yang terakhir kalinya.

Aku berterima kasih, sekurang ajar ini ya setaun kemudian baru minta maaf ke kamu, ndi. Maafkan Summer Finn versi gembul dan jelek ini ya.

Saya harap kamu bahagia sekarang, dan tidak lagi dinomorduakan.

Kamu pantas, sangat pantas untuk bahagia.

Saya tidak.

7.7.16

Mungkin, bukan kata-kata yang dibutuhkan untuk mendefiniskan "cinta" dengan sempurna.
Bagiku, tidak semudah itu. Cinta terlalu luar biasa, dan rangkaian kata-kata seindah apapun juga tidak akan mampu mendefinisikannya.
Lagipula, apa pernah kita menemukan arti nyatanya?
Cinta membuatmu bergantung dengan orang lain-terkadang terlalu.
Ia membutuhkan sentuhan orang lain untuk menjelma menjadi nyata, dan menjadi terasa.
Terkadang berhasil dan berujung bahagia.
Tak jarang gagal dan malah pahit yang terasa.
Seringkali, kau terlanjur mengerti definisinya, tetapi kehilangan makna dibaliknya.
Kehilangan sosok yang membantumu mengartikannya.

4.7.16

Ternyata saya merindukanmu, merindukan waktu singkat itu.
Mungkin hanya 2 bulan, saja, dan bagimu tidak berarti apa-apa.
Saya rindu percakapan yang panjangnya seperti cerita pendek- mengenai apa saja..
Game of Thrones, Pee Wee gaskins, The Goonies, Submarine, Ika Natassa, Descendents, tentang keseharianmu, kebiasaanmu, tentang kamu yang terbiasa mandi sebelum tidur, entah jam berapapun itu.. Tentang kecintaanmu akan kopi, tentang Bedchamber, tentang The Trees and The Wild, tentang Harris, Ruly, Keara, Denise.
Jika saja cerita kita tertulis di lembar yang sama, ya.
Jika saja.

3.7.16

I often look myself in the mirror deep into my own hazel eyes,
"where did I go wrong?", I asked, with a trembling voice
Restraining my knuckles from punching out the walls.

I often close my eyes, late at night, trying so hard to fall asleep but
I always end up failing
"what if it worked out, you and me?", I thought, with a dizzy head
Abandoning the tears that hit the pillowcase.