25.2.16

Mungkin memang suatu masa harus bermuara kepada akhirnya.
Tapi tidak ingatanku tentangmu.

Tentang tawa-tawa itu,
dan perbincangan singkat yang terucap dan terabaikan begitu saja.

Gurat wajahmu yang tegas namun menenangkan,
dan tipis senyummu yang memabukkan.

Aku ingat kala pertama kita bertukar tatap.
Siang hari itu, kau terduduk bersama teman-temanmu.

Sejak hari itu, aku baru meyadari satu hal
Tuhan selalu saja punya kejutan,
Ia menyelipkan keajaiban di tempat yang tak dapat aku bayangkan.
Mungkin dalam tiga, dua, atau bahkan satu tahun ke depan,
kamu akan melupakan aku dan segala tentangku.

Namaku tidak lagi menghadirkan memori di kepalamu,
tak lagi membuatmu tertawa-tertawa seperti sekarang, seperti dahulu.

Ternyata memang aku tidak pernah berhenti mengagumimu.

17.2.16

9-13/02/2016.

Lima hari tidak pernah terasa semenyenangkan itu.
Tak pernah terasa selambat--namun sehangat itu.

Selasar-selasar, yang menjadi saksi lalu lalangnya kami.
Tawa, suka, air mata, pertemuan, dan perpisahan.
Ada yang jatuh cintanya, ada pula yang pupus harapannya.
Di selasar-selasar itu kami berjalan. Berlari-larian.
Tak perlu lagi rasanya berkenalan dan saling menanyakan;
karena memang kami, berada disana karena satu tujuan.
Lalu langkah-langkah itu terdiam.
Kala itu senja datang lebih cepat dari biasanya,
dan malampun sudah tak dihiraukan oleh perisaunya.
Mungkin memang hanya di selasar-selasar itu
melukiskan kenangan terasa mudah dan menyenangkan.

Dan di Taman itu, tempat kami membumbungkan harap,
dimana milikku kembali jatuh ke tanah.

Entahlah, Tuhan, aku masih tidak mengerti.

Nasihat-nasihat dan banyaknya perbincangan, sangat disayangkan jika hanya untuk dilupakan.
Saya menikmati seisinya.

Tuhan, bantu aku.