31.12.16

"Pergilah, kurelakan kau bebas. Aku hanyalah seorang yang kau pilih untuk merawat sayap-sayap patahmu, bukan menemanimu terbang."

Bagiku, pertemuan dengan seseorang yang spesial, jika diibaratkan, mungkin cocok dengan hadir dan menghilangnya kembang api yang sangat besar.

Tentu berbeda setiap insan, tapi polanya tidak jauh berbeda.

Melesat, panas, membara, meledak, dan hilang.

Semenyedihkan apapun rasanya melihat kembang apimu habis termakan udara dan waktu,
kembang api itu tetap akan meninggalkan senyum di wajahku.

Terimakasih 2016,
Terimakasih kembang apiku, Ra.

Ajaranmu terlampau banyak.
Semoga selalu sehat, Tuhan memberkatimu.

21.12.16

excerpt from words that move us up until this day--semoga kamu ingat.

it's not about you, nor your inconsistency. No, it's not about you.
It's about me, again i'm sorry it's always about me..
I'm sad, i'm sad to see those pretty eyes of yours; that eventually potray your feelings to her, even more meaningful than your trembling words.
I'm sad that i know you love her that much. I could see. It's my specialization, remember? i'm majoring in psychology. (sombong)

Well, i don't know either. To be honest, aku juga gatau. Aku bener-bener gatau harus gimana. I don't really care about labels or statuses, they can get the fuck off. All i care about is your feeling, i want to know what state are you standing in.

I could see from your eyes, i could hear from your trembling voice. You do love her, you did, and you still are. The only reason why you never think you're ready is because you don't want to be ready. You expect things to be as good as it was the first time you meet her and (i'm going to sound so judgmental i dont care) believe me, it won't. What concrete things have you done to get yourself prepared to start anew? or haven't you ever think about starting--at all?

If it's for myself, i'm sad because i feel like i don't deserve to be loved by anyone; to make it credible, even after 10 months of relationship with my last ex, he told me he never loved me, ever, and don't think that he could, ever. If you ask me what state i'm standing in right now? I guess i'll answer it with, I don't believe in  love. Love is an illusion that human mind created. BEda sama sayang, aku tau sayang itu gimana rasanya. But love? What is love? gaada. Gaada measurementnya.

Aku mau punya suatu hubungan yang sangat loose, yang riang, yang ga nambah-nambahin beban satu sama lain. "When we manage to love without any expectation, things will get easier."

It's hard, this state, i know. But i've been through it, i got through it. I want to make you happy, let's make each other happy. I want to help you--but the question is, apa kamu udah mau keluar dari labirin yang kamu buat sendiri? Kapan kamu mau siap kalo efffort untuk menyiapkan aja gaada?

Sejujurnya, sebelum ketemu kamu, aku udah males banget sama yang namanya memulai hubungan lagi, apalah itu, Aku males harus drown in jealousy lagi. Harus terikat lagi. Dan ketika sekarang aku memutuskan buat membuka diri aku ke kamu, aku mau lepas dari belenggu itu--kecemburuan, semua keribetan yang menjadi konflik utama sebuah hubungan. Tapi bakal beda ceritanya kalo kamu masih memilih berhenti dan terikat di belenggu milikmu. Aku cuma mau kamu tau aku udah lepas dari belenggu itu.

I'm not asking anything from you. Just your time and our togetherness and your laughter. I'm not keeping you from going, I'm not going anywhere either, Rak. Aku ada disini buat kamu, no matter what situation you're at. Aku sayang kamu.

16.12.16

for the center of mine when i spin away.



apa itu rindu?
Kata Dilan, rindu itu berat. Tapi tidak menjawab, ya?

Lalu, apa itu rindu?
Jika rindu adalah tanaman,
mungkin airnya terbuat dari jarak
dan waktu
dan aku dan kamu
yang sedang tidak terduduk bersama
di kedai kopi yang entah namanya apa
pukul 5 sore.

Tenang saja, aku sudah berdamai dan berteman baik dengan rindu
tidak lagi memusuhinya seperti dulu.
Benar kata Barasuara. Menerima dan berdamai dengan itu.

aku tahu
rindu ada agar cangkir-cangkir kopi
dan tawa-tawa
serta cerita-cerita tentang apa saja
di pertemuan kita yang berikutnya,
terasa manis
jauh lebih manis
dari pertemuan yang sebelum-sebelumnya.

Rindu juga berarti doa ku untukmu yang kubisikkan lewat doa-doa kepada Tuhan
sedang berjalan perlahan menujumu,
aku amat senang melihatmu berkembang
akupun sama.

Sudah saatnya mendewasa, dan ya
sekali lagi, aku sudah berdamai dengan perasaan ini
perasaanku terhadapmu
rindu-rindu itu.

Aku sayang kamu, Suryandaru.

Mari berbahagia dan tumbuh menjadi lebih baik lagi.

:)

10.12.16

Sepucuk Surat Untuk bulan Mei.

Halo, kamu. Yang kepalanya dipenuhi tanda tanya, huru hara
yang kesehariannya tidak menentu.
Tidak, aku tidak rindu. Siapa pula aku, tidak punya hak merindukanmu.
Hanya ingin berterima kasih saja, aneh ya.
Tiba-tiba bersyukur kamu pernah menelponku di suatu malam, dan kita pernah tertawa berdua saja
Membicarakan Gema Semesta. Ahmad. Fulan. The Goonies. Pee Wee Gaskins. Meera. Jon Snow. Ika Natassa. Atau masa SMA mu yang kamu lewati mencari gig-gig murah sekedar untuk mendongkrak naik nama band yang kau manageri itu.

Z, aku harap apapun yang kamu laukan sekarang membuatmu setidaknya tidak tersakiti.
Bahagia kata yang berat bukan, untuk orang semacam kita berdua.
Melihatmu yang sudah mengurangi tendensi untuk berbuat hal-hal membahayakan--atau buah dari pemikiran-pemikiran depresifmu--lewat twittermu saja aku sudah senang.

Oh iya, teruslah membuat moodboard dan memotret. Dari dulu aku selalu suka dengan hasil-hasil karyamu.

Teruslah membuat mixtape dan hal-hal yang membuatku jatuh cinta lainnya.
Aku selalu kagum dengan pandangmu yang seluas semesta.

9.12.16

Beberapa hari lagi sampai aku menanggalkan identitas umur tujuh belas.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku masih jatuh cinta pada bulan Desember.
Dan masih menunggu-nunggu tanggal dua puluh, dua satu, dua dua, dua tiga.

Aku senang mengetahui siapa yang masih peduli, masih mau tahu dan masih sempat menyempatkan diri
sekedar mengucapkan, atau memberi bingkisan tangan.

Tahun lalu, aku mendapat banyak kejutan.
Mungkin bisa dibilang, pertama kalinya orang-orang sukses bikin surprise buat gue.
Terimakasih Jasmine, Raudhia, Cica. Langsung nangis seketika.. masih inget banget gue kenapa langsung nangis begitu kalian muncul di dalem kamar gue. Iya, pagi itu gue ditinggal sendirian di rumah. Tanpa hadiah, tanpa kakak-kakak, bahkan Gilang bilang belum tentu bisa ke Bogor karena kerjaan numpuk hari itu. Sempet mikir begini amat gue ultah.. Pas tiba-tiba kalian dateng ya nangis lah. Mengutip Galuh, gaada manusia yang gasuka diberi kejutan.

Fahmi Permana! Desember selalu mengingatkan saya padamu, orang yang ulangtahunnya cuma beda 2 hari. Partner ngomongin segala hal. Geli rasanya nginget-nginget awal masuk SMA sempet kagum gitu sama lo gara-gara lo termasuk senior yang oke banget keliatannya di osis (padahal gue osis juga kagak). Terus tiba-tiba lo nanya-nanya di askfm gue, terus tiba-tiba gue gambling chat lo di line. Ah kocak sih debatin game of thrones, sampe gue maki-maki kebodohan lu perihal cinta (yang udah 2 tahun lewat lu masih terjebak dengan orang yang sama, kan?) Pas lo bilang lo punya kado buat gue dan itu berbau starwars, gue ga nyangka aja hadiahnya bakal segitunya. Gue bahagia asli mi, baru ngerasain segitunya punya sahabat yang niat banget beliin kado yang thoughtful. Asli gue lagi pengen banget crewneck dan lo tiba-tiba muncul di depan rumah gue bawa sweater item gambar darth vader tanpa gue minta sama sekali. I couldn't ask for a better best friend. :)

Galuh Ilham. Sampe bosen nyeritain hadiah dari lo gal, karena se-spesial itu buat gue. Kaset, rilisan 35/100. Pick dengan tanda tanganmu. Doa-doamu. Ya semuanya lah Gal, terimakasih sudah menjadi sosok kakak yang baik untuk saya (dan Uti, tentunya) Sebentar lagi gue pindah Gal, nanti gaada perbincangan jam satu pagi di halaman depan rumah gue lagi ya? sama secangkir kopi yang gue bikin sebisanya, melodi gitarmu yang paling isinya efek rumah kaca. Matamu yang lelah, tapi ceritamu tak kunjung sudah-sudah. Ah, pak menteri. Sibuk banget sih. Ayo kita ngebakso lagi! Favoritmu kan. Atau nemenin lo nonton lagi, lama gak ke Botani kan. Mencet-mencetin tombol di mobil lo lagi. Gamau pulang cepet karena belum larut lagi. Udah buruan lulus.

Ya begitulah, alita selalu suka ulang tahun
dan Desember
:)


8.12.16

  • That happiness is a state of mind; and all it takes to be happy is yourself.
  • Too much morons. Don't add up to the amount.
  • Read and re-read. Do read. Whatever, just read.
  • Good things take time.
  • Live and let live.
  •  Focus on improving yourself.

1.12.16

My spinning head, your name that echoes in my ear

"The only place for honesty is when you feel alone. Cause the people around you make you lie to yourself."

That, right up there. Adalah sepenggal dari lirik lagu L'Alphalpha yang berjudul All Birds are Againts the Gravity. Entah kenapa gue sangat amat suka--mungkin karena se-relatable itu ya?

Tapi ternyata keseringan sendiri-keseringan bengong-keseringan jujur sama diri sendiri gak selalu enak ya. Iya, sesepi itu rasanya. Kayak berada di sebuah state dimana pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala lo gabisa terjawab, semua rasa kecemburuan lo gabisa diungkap karena gaada hak dan ga berdasar, saat rasa sakit yang dihadapin cuma bisa dirasain; karena mengerikannya itu adalah bagian dari konsekuensi yang udah lo pilih sendiri. dan seterusnya, dan seterusnya.

Jika saja hidup selucu itu buat bisa sekedar di tertawakan. Jika saja kepala saya yang sederhana tapi rumit ini bisa bersanding dengan kepala yang jauh lebih sederhana. Jika saja masa lalu kita tidak pernah ada. Jika saja jarak dan waktu bisa dipermainkan oleh tangan-tangan gemetar kita. Jika saja cuaca teman baik kita. Jika saja saya lebih baik dari versi saya sekarang ini, saat Tuhan mempertemukan kata aku dan kamu.

ah, gue ngetik ini sambil denger album L'Alphalpha yang ke-2 itu jadi maaf ya kalo ada interupsi sedikit. Liriknya setaitai itu soalnya. Dan tiba-tiba keinget jalanan ke kampung awan sama Galuh, yang di perjalanannya berisi selingan ceritanya tentang mantannya yang sampe detik ini masih dia kenang (emang brengsek ye) dan soal John Mayer dan Game of Thrones kesukaan gue yang dimaki-maki sama dia gara-gara itu 2 hal yang menjadi favorit mantannya juga. Alphalpha hanya satu dari sekian nama yang gue dan galuh sama-sama suka.

"Can you tell me, where will we be? 
We always have the question about it,
But we never know the answer.
We will always wonder, when will our life truly starts?"

 Gue masih dalam taraf harus mencoba mengerti; kalo ga semua tanda tanya harus terjawab. Ga semua permintaan harus dituruti. Dan semua konsekuensi harus dibayar setimpal.

25.11.16



Please don't get tired of me writing about you;
it's just that you're so adorably unforgettable, you, and the things you do.
It hurts me watching you breaking, it hurts me to see you drowned in your sadness
All i want to do is to save you,
to make you happy.
I hope i could make you happy.

You make me happy,
just as simple as how your smile grows
or how your laugh sounds,
or how your eyes blink
or how your arms smell.

I hope i could make you happy;
despite of my brokenness too.

This afternoon, i just realized something
Maybe it's dangerous for both of us but,
i do love you. And again i can't stand seeing you sad and depressed like that..
at least I knew how it feels being you when you see me sad or depressed
like that.

Let's be happy.

15.11.16

23-11-23-12

"So why don't we go, somewhere only we know?
To the meadows, through the forests
Embracing the ocean, fighting over the winds.

As long as you hold my hand,
I'm sure i'm sure
I'll be alright
as I never was before."
          

           Ingin bicara lagi, gaada yang larang kan, ya? Hmm..  Beberapa hari ini, gue ngerasa totally a mess banget. ya bukan hal baru sih gue tau, tapi gue sadar kalo ini gabisa terus-terusan di biarin.. Mau sampe kapan kayak gini terus? Harmful-both for me or for him or for us. Iya gue sadar gue se harmful itu. Dan tingkatnya udah sangat super melampaui batas rasional, kayaknya cuma malaikat yang mau settle for less dan merawat gue dan segala keharmfulan gue ini. Dan 2 malam yang lalu, gue juga remind myself kalo Rakha seberharga itu buat sekedar filling my missing parts and scarred because of my sharp edges.
          Ini bahasan emang gaada habis-habisnya ya... Sekarang jadi keinget obrolan kita, yang gue inget dibahas lewat chat ketika gue masih di commuter, otw bogor. "I wish  i could hug you so hard your broken pieces would stick back together, Rak." "I wish i could hug you so tight that i'd fill your missing parts,  Ta." and at that time i realize that i know, you know, we know, bahwa aku dan kamu sama aja. Tapi ya hal-hal kayak begitu yang terus menerus membuat gue memilih buat bertahan. Eventhough a friend of mine told me (kalo kamu baca jangan ngambek ya Rak karena aku juga kesel banget dengernya) jangan terlalu percaya Rakha karena he's a poet and is good at crafting words. Then what? berarti kalo kayak gitu omongan gue juga gabisa dipegang? Terkadang emang membiarkan orang lain--yang tidak relevan--masuk ke suatu hubungan yang (supposedly) consists of 2 person membuat kemunculan prejudice yang ada-ada aja deh.
            Gatau deh Rak ini aku nulis apa.. Ya intinya aku udah decide aku mau berubah jadi orang yang jauh lebih dewasa, yang jauh lebih ga cranky, ga clingy dan ga demanding.. Mungkin belum keliatan sekarang tapi i effin swear to god i'm trying my best, okay?

Please don't get tired of me, yet.

Saya sayang kamu, Rak.

13.11.16

I guess it's about you again, Ra. Always you.

     

             Modern Baseball lagi, dan kembali dengan kepala yang entah isi pikirannya dimana. Lelah, tapi gatau lelahnya kenapa. Pulang terlalu cepat ke kostan membuat saya sedikit gila. Tapi terlalu lama menghabiskan banyak waktu di kampus juga bukan hal yang sedang saya butuhkan sekarang-sekarang ini.  Saya sedang mencapai titik dimana karena terlalu banyak hal yang berlalu di kepaa saya, saya lebih memilih untuk memasukkan pikiran-pikiran itu ke dalam kantong kresek hitam dan menyimpan--bahkan membuangnya ke tong sampah sekalian. Ugh, mengerti? Gaperlu dingertiin juga sih.

           Teruntuk Rakha, terimakasih sudah mau menjadi tujuan rutukan-rutukan sampah saya tentang dunia yang berakhir selalu tanpa konfirmasi saya akan hal apa yang mau saya perbuat untuk mengubah ini semua. Saya berhutang banyak sekali padamu. Oh iya, saya juga mau berterimakasih untuk salah satu malam minggu terbaik saya, kemarin malam. Baru pertama kali ngerasain menjadi Sid-Nancy walaupun saya dan kamu ga seekstrim itu kan ya. Terimakasih untuk ID Cardnya yang membuat saya mampu merasakan Free Access dan motret Nabi Yusuf versi postrock dari jarak beberapa cm saja. Terimakasih untuk kejujuran kamu kepada saya, yang anehnya membuat saya makin sayang saja padamu. Jangan terlalu sering mengutuki dirimu sendiri ya, ini berlaku untuk saya juga, untuk kita berdua. Mungkin kita bisa menjadi bukti konkrit negatif bertemu negatif menjadi positif, kan ya? Siapa yang tahu. Terimakasih lagi sudah mengenalkan saya ke beberapa temanmu--membiarkan saya masuk lebih jauh ke kehidupanmu. Saya sangat mengapresiasi itu. Sejujurnya, saya tidak terlalu peduli seberapa jelek teknis yang mendukung penampilanmu malam itu. Terbias ya? Biarkan saja. Saya bahagia melihat orang yang saya sayangi bahagia menjalani hobi-hobinya. Saya senang berada di posisi support system milikmu.

           Saya sudah terlalu banyak merepotkanmu, Rak. Tapi sungguh sederet rapi gigimu yang putih itu terlalu sulit untuk tidak saya pandangi paling tidak satu minggu sekali. Atau senyum tipismu yang sering sekali saya tangkap secara tidak sengaja. Ya semuanya lah, apapun itu, termasuk waktu-waktu yang kita habiskan hanya untuk bermalas-malasan, menyesap kopi dan menonton video di YouTube. Entah bagaimana, tapi rasanya membagi masalah saya kepadamu mengurangi masalah itu sendiri walaupun yang kita bicarakan bukan tentang bagaimana menyelesaikannya. Saya senang didengarkan-apalagi jika kamu yang mendengarkan. 

             I have to admit: I'm a sucker for hand-holdings and slight-hugs. And your scent, also your smile. Mungkin sampai saya tua saya akan tetap mengingat kapan pertama kali saya mengenali telapak tangan yang besarnya hampir dua kali lipat telapak tangan saya--di suatu siang yang kita habiskan di Truk Kuning. Atau setiap saat kamu merangkul saya tanpa sebab. Atau bahkan sesederhana mata saya yang menangkap wajahmu yang tersenyum memandangi, saat saya kelelahan dan tertidur untuk beberapa detik di meja suatu kafe sore itu.

               Rak, jujur intensi awal saya menulis ini bukan ingin menulis tentangmu. Tapi kamu ternyata memang benar menjadi yang paling memenuhi isi kepalaku. Jika bukan sebuah "kita" yang kau cari, saya tidak apa-apa. Terkadang menjadi naif itu tidak buruk, Rakha, asalkan saya merasa bahagia. Aku dan kamu saja sudah cukup. Asalkan saya masih bisa menyesap ratusan cangkir kopi-kopi itu bersamamu. Asalkan saya masih bisa menjadi supporting system yang kamu butuhkan. Asalkan saya masih bisa menemani malam-malam kurang tidurmu yang kau habiskan memaki-maki asisten dosen yang kau kesalkan, Asalkan saya masih bisa menemanimu jalan kaki tiap-tiap si motor berplat Yogyakarta itu ngambek di jalan.



Sekarang saya harus mencoba menutup laptop karena ini hari Minggu pukul 10 malam dan saya harus mulai bersiap menghadapi kenyataan bahwa besok Senin.

Selamat beristirahat, Rakha Suryandaru.

27.10.16


Bogor, 27 Oktober 2016.
Lucu ya, disaat aku berpuluh-puluh kilometer jauhnya darimu, aku malah sangat semakin teringat denganmu.
Dengan kita.
Dengan saat itu, siang yang kita habiskan bercerita sambil menyesap kopi dan menertawakan apa saja.
Kamu bercerita tentang Radiohead-mu, dan aku tentang Modern Baseballku.
Tentang lagu ini yang kau ceritakan dengan ceria, bagaimana 9 tahun lalu lagu ini sudah tercipta.
Aku rindu senyummu, bahkan sedetik setelah kita bertemu.

Aku bahkan tidak tahu menulis apa... Aku telah jatuh rupanya.

4.10.16

"I'm happy to know you, and to know more about you. There's no reason for me to leave you."
You said, after i told you aboout things i never told anyone to. Things that have been hanging in my head for months. I don't even know why i got the courage to tell you those things.

It's always confusing, this state. I'm happy to be a part of your everyday; to be able to tell you sweet nothings. To be able to send you good mornings. Or simply to remind you to eat breakfast and go take a bath.

untuk suryandaru.

Hai, kamu.
Setiap kali aku mendengar--atau membaca--namamu, aku selalu mengasosiasikannya dengan cuaca.
Iya, kamu sudah kuanggap sebagai cuaca.
Aku tidak bisa memprediksimu, hmm, mungkin lebih tepat jika kusebut aku memang tidak ingin memprediksimu.

Hari ini kamu hujanku. Menyejukkan dan menyenangkan, hujan yang tanpa badai.
Kamu selalu menjadi cuaca yang menyenangkan.
Bisa saja besok kamu menjadi terikku. Menghangatkan dan menerangkan, terik yang tidak mengundang intrik.
Kamu selalu menjadi cuaca yang menyenangkan.
Mungkin lusa kamu menjadi berawanku. Meneduhkan dan menenangkan, awan yang tanpa sambaran. Kamu akan selalu menjadi cuaca yang menyenangkan.

25.8.16

Saya pikir saya memang ditakdirkan menjadi seperti ini, sebuah perhentian sementara.
Tak ada, atau mungkin belum, ah persetan dengan optimisme... Tidak ada yang hendak singgah untuk beberapa lama. Pergilah, dengan yang telah lalu. Saya sudah terbiasa.

24.8.16

Untuk Kembang Api yang belum padam.

Di dalam tatap itu, telah aku temukan keindahan.
Ingin kuukir di kepala dan ku abadikan;
kubuatkan laci baru khusus untuk menyimpan.

Dan di dalam perbincangan kita tentang apa saja, telah aku temukan perasaan-perasaan yang tak tersampaikan
perihal perih dan hal-hal yang kita sama tak bisa selesaikan.

Di halus alir senyummu, telah aku temukan kesejukan.
dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bertemu pada jawaban,
namun kita tetap tertawakan dan membiarkan.

Pada waktu yang saat itu berlalu tanpa ada yang memberi tahu.
Kepada kamu.

Terima kasih.

9.8.16

Sebuah ode tentang perjalanan dan transisi di sela-selanya.

Setelah berhiatus selama hampir setengah dekade, The Trees and The Wild kembali menyuguhkan kemegahan melalui "Zaman, Zaman". Memilih single dengan materi yang benar-benar baru sebagai track pembuka album, merupakan sebuah langkah yang tepat. Pasalnya, sudah saatnya para pendengar Trees mendapatkan amunisi baru yang menyegarkan, tidak melulu hanya berputar di Empati Tamako, Tuah Sebak, Nyiur, dan atau Saija.

Tidak seperti Tuah Sebak yang bergerak cepat, atau Empati Tamako yang mengalir terbalik dari hilir ke hulu, lagu ini dimulai dengan desingan pelan, seperti dahan pintu yang dibuka perlahan, mengantarkanmu menuju sebuah ruangan yang kosong, gelap, namun menyejukkan. Zaman, Zaman membawamu berjalan berkeliling perlahan. Semakin lama, kamu semakin menyadari isi dari ruangan kosong-yang ternyata tidak benar-benar kosong-adalah ada, kamu tidak sendirian disana. Kamu dan para penghuni ruangan kosong itu berkeliling bersama, membentuk suatu pola.

Lirik yang sengaja dibuat tidak begitu audible, seolah melambangkan suara-suara di kepala yang tidak pernah ada habisnya, dan kamu diminta untuk menerka-nerka. Akan memunculkan begitu banyak interpretasi, memang, namun disanalah letak kemagisannya.

Bising, bising, bising, lalu senyap, dengan cara yang sangat tiba-tiba. Hal ini bukan merupakan suatu kejutan, karena memang Trees dikenal dengan musiknya yang repetitif dan bagian outro berhenti secara tiba-tiba. Sejauh ini, repetisi-repetisi yang dibawakan Trees tidak membosankan. Namun, jika sebagian besar track lain di album ini mengusung corak yang sama, saya rasa bukan tidak mungkin album kedua nanti akan jadi membosankan dan "mudah tertebak".

Secara garis besar, Zaman, Zaman berhasil mengantarkan pesan yang sungguh brilian. Tidak membosankan, dan menyejukkan. Pilihan track pembuka album yang tepat untuk kembali menyiksa kita dengan rasa penasaran.

6.8.16

Gabisa tidur #2 padahal harus bangun jam 4 pagi.

Saya sedang tidak merasakan apa-apa, lebih tepatnya tidak ingin merasakan apa-apa.
Mungking saya takut untuk merasakan hal yang sama,
atau bahkan trauma.

Atau saja, saya yang memang payah dan menolak keluar dari lingkaran setan buatan saya sendiri.

Saya akui, saya ternyata masih menginginkan dia.
Sosok paling sempurna untuk saya,
menurut saya.
Mungkin menurut Tuhan berbeda.
Mungkin menurutnya juga beda.

Susah ya jadi manusia yang susah melangkah tapi mudah terjatuh.
Begitulah saya,
susah melangkah
mudah terjatuh.

Untuk kamu, si self-proclaimed  pengidap distantophobia,
saya rindu.
Saya harap kamu baik-baik saja.
Semoga skripsinya cepat selesai ya.

Boleh kan saya tetap menyimpan rasa?
Sampai saya bertemu satu yang sama sepertimu lagi.

Semoga hidupmu tenang dan bahagia.
Saya selalu berusaha mendoakanmu,

z.

4.8.16

Kertas kaku itu masih kusimpan dengan rapi,
bersama tumpukan-tumpukan kenangan yang lain.
Sengaja yang darimu kupisahkan, karena kurasa paling menyakitkan.

Tak ada yang lebih menyedihkan,
dari cerita-cerita yang ditinggalkan tanpa terselesaikan.
Tak ada yang lebih aku rindukan,
selain percakapan kita yang tak kunjung berhenti walau gelap sudah semakin pekat.

Ajari aku bagaimana cara menghapuskan namamu,
yang bahkan bukan kau yang menulisnya di pikiranku.

A long story about my muse.

Sebenernya udah lama mau nulis tentang ini tapi gatau cara nulisnya gimana. Hmm...
So yup, hi. Hari ini pengen cerita soal muse gue. More like.. orang yang hampir 3 tahun ke belakang selalu jadi orang yang berada di kepala gue, sadar gak sadar, dan selalu jadi pelarian gue kalo gatau lagi mau nanya tentang be it masalah hidup or even galau jurusan.

Ngomongnya kayak yang kenal deket ye, padahal mah... Yaaa buat temen-temen deket gue pasti langsung tau deh siapa. Muse gue yang lahir bulan Februari, yang bahkan di hp gue sampe gue bikin 1 folder sendiri buat nyimpen foto-foto dia, yang in the end notice gue dan.... jadi temenan.  Yup, temenan. Bahkan gue sendiri gatau gimana ngedeskripsiinnya.

Hey, hi, ao, hi. Ugh.
gue ga bakal sebut namanya siapa sih, but pasti hampir semua orang tau dia siapa. ga juga deng. Hehehe. Pertama tau dia dari answeran presiden askfm. Langsung tertarik banget-banget-banget sama cara dia answer pertanyaan, background hidupnya, dan segala macem. Circa 2013-an lah, jamannya dia belum terlalu femes dan masih jawab answer dengan nawaitu. Literally everything yang bikin gue pusing gue tanya ke dia. Rekomen film, musik, Liverpool, bahkan how to overcome broken hearts. Tiap hari gue ga pernah absen scrolling timeline dia, sampe akhirnya suatu sore.....

hahahahaha he asked me a question! Sebenernya itu bukan kali pertama dia notice gue... Long long ago before dia notice gue di snapchat dan kita pernah snapchatan sampe nama gue muncul di bestfriendnya dia hehehehe meyjeyk. Gue lupa kapan pertama kali dia notice gue dan mulai manggil gue pake "Ta" setiap dia answer question gue.

Pertama ketemu dia Desember. Nonton Feast. Sebelum Feast manggung, gue sempet liat di makan dan ngobrol sama tetehnya, gue gemeteran asdfghjlddsalfhaslkjfsah gatau harus gimana. He frickin stood behind me. Ohiya, gue emang udah kenal sama bassistnya feast karena dengan sebuah ketidaksengajaan gue dipertemukan di salah satu grup buat instameet gitu. Sungguh semesta itu baik. Gue nonton mereka manggung dan bersama teman gig paling terkenal di skenanya alias vino, gue berhasil dapet setlist dan menyusup ke backstage hehehhee.



Gue lupa persisnya gimana yang jelas, he called my name and said "akhirnya ketemu juga ya" or something like that. Gue banyak ngobrol sih, ditawarin makanan minuman and yup everything went very lovely that night.

From a stranger to a friend even in Path. Awalnya gue ga berani ngeadd karena gue tau dia tipe orang yang bener-bener ngebatasin privasi, eh taunya diaccept dan gila gue seneng banget sih.... Bahkan dia ngekepoin path gue sampe setaun ke belakang gitu hahahahahaha ngapain dah lu bas.

"Bas, lagi sibuk?" "Lagi nyetir sih ini, ada apa neng?" "Pengen minta pendapat... If you were given a chance to study management in unpad or psychology in ui, which one would you choose?"

Iya, gue nanya pilihan hidup yang cukup besar ke orang ga dikenal ini. A stranger. Yang buat gue bukan stranger, again, he's my muse.

he chose psychology, and seperti seorang dia, his logical reason drove me here, in the path i'm walking now.
Gue juga ngucapin makasih ke dia setelah gue buka hasil snmptn gue.

Masih banyak banget hal tentang dia yang ugh i can't tell because i just don't know how.

mungkin ini kali ya, kerandoman yang terjadi beberapa hari lalu ke gue, saat ada kumpul kecil-kecilan psikologi. "Lit, elo yang temennya baskara itu bukan sih?" "Haaaaah? Bukan temen, kenal-kenal doang, hehehe" Gue shock. Out of nowhere ada yang ngomong gitu. Gue kira selama ini gue ngobrol di pagenya dia gaada yang notice gue.

Not only he brouhgt me answers to all of my unanswered questions... He brought me friends, acquintances, and deeper understanding of life.

Thanks to you, Bas.

long live.

10:24

28.7.16

Gabisa Tidur. #1


Random talk of the day "Ma, kayaknya kalo aku anak ipa, aku milih masuk Desain Interior deh."
dan dilanjutkan dengan ceracau mengenai betapa bodohnya saya di bidang hitung-hitungan dan betapa saya tidak akan survive di sana. Ya begitulah mama saya, suka ngedebatin hal yang bahkan bakal kejadian juga enggak.

So what's up with Desain Interior? Not much, really. Hidup jadi orang yang ga passionate-passionate amat memang sulit. Bukan ga pasionate sih, more like, i really don't know what i'm super good at. I'd say i'm pretty good at drawing. Writing. Playing guitar. Photography. School lessons (of course). Talking to people. Spreading networks to even older people. But that's it.. I'm just pretty good at it. Not super good.

Yaaaa, dan akhir-akhir ini lagi suka aja liat desain-desain grafis, di feed-feed instagram orang. Mulai dari warna-warna pastel sampe warna-warni berani. Sumpah, ngidam banget gue bisa jago adobe illustrator. Salah satu skill yang pengen banget gue achieve sekarang. Pengen memulai, tapi takut gak kepake. Gue suka desain, demen gambar-gambar. Tapi ya itu masalah gue.. ga jago-jago amat. To sum it up, keahlian gue banyak tapi yang gue jago banget? paling cume ngomong ngalor ngidul aja. Sisanya... yaudah standar.

Sampe detik ini, gue ngejalanin hidup dengan asas yaudahlah jalanin aja siapa tau berguna siapa tau berguna siapa tau berguna. Bahkan sebenernya tanda tanya besar masih ada kok di hati gue, tentang psikologi. Jujur alesan gue milih siko ya gara-gara fleksibel aja hasil akhirnya. Tinggal liat nanti tiba-tiba gue pengennya jadi apa. Tuh kan, tinggal liat nanti lagi. Entah gue mau bikin sekolah charity khusus buat anak-anak gak mampu kah, atau gue mau jadi psikiater kah, atau gue mau jadi head of HRD di Bank Indonesia kah, atau bahkan gak semuanya sama sekali, gue masih gatau. Hidup gue ya itu aja, terbangun dengan 2 buah tanda tanya di kepala gue. Yang satu tanda tanya besar soal plan hidup, yang satu tanda tanya kecil tentang plan hari itu.

Hari itu, gue lewat depan gedung komunikasi. Tempat hits yang selalu dijadikan latar foto teman-teman gue yang sudah sukses selesai sidang. Iyaaaa setua-tua itu memang kenalan gue. Godaannya berat banget, ditambah pertanyaan "yaudah, kenapa gak kom aja?" yang bertubi-tubi ditanyakan ke gue. Sumpah, jangan tanya gitu. Makin merasa bersalah aja gue sama diri gue sendiri. "Ditentang dari mana-mana." lah yang jadi jawaban gue selama ini. Ya iya gue tau ini hidup hidup gue, gue juga tau. Tapi gue sendiri gatau apa yang terbaik buat gue. Jadi sampai detik ini, i guess i'll still give the wheel to other people.

Yang bisa gue lakuin sekarang ya cuma ngejalanin apa yang udah gue dapet sekarang dengan sebaik-baiknya. Gaada waktu buat nyeselin apa-apa.. Toh jalan yang gue pilih ya ini.

.....tetapi gue masih tetep pengen bisa Adobe Illustrator. Tolong.

27.7.16

bandung, someday in 2016, with you little monkey, i hope so.



Saturday 22.30 A.M

Midnight rolls around, with your car's window down. Your eyes still wide awake, and the lamp lights outside reflected from them. I tilted my seat down, trying to shut my eyes while humming to whatever song you'd chosen. You smiled and run your finger through my head, then going back again to focus driving mode. I told you not to put Citizen on the player but, you insisted, you said it's okay, perfectly okay.

Long meadows and black trees are running fast outside, it felt like they left us behind. I started talking about my dreams, how it was destroyed, rebuild, and reform again. I told you about heartbreaks, and how it got me depressed. You nodded and held my hand as the night pass by, i really could see the universe from your eyes. It showed sincerity, the purest, from all i've seen.

You told me that it's always okay not to be okay, that everytime is the perfect time to be not okay, or just okay. You told me about your suicidal thoughts, about god, about what's not. It's never going to be enough you said, never.

17.7.16

Untuk Osr.

 

sudah berpuluh-puluh malam waktu itu, kuhabiskan entah di jok belakang motormu atau di kursi depan rumahku. Jika tidak sempat, kita bercengkrama di telepon, sampai lewat tengah malam. Aku entah ingin menamainya apa, kita berjalan seiringan tapi tak pernah tahu akan kemana.

Denganmu dulu, walau hanya sebentar saja, aku merasa menjadi perempuan paling disayangi sedunia. Jujur, mungkin baru pertama kali aku diperlakukan seperti itu. Seperti waktu kamu muncul di depan pintu rumahku, membawakan 2 bungkus dimsum yang kau tahu merupakan makanan kesukaanku.

Atau seperti sore kala aku ingin pergi ke sebuah acara dii restoran dekat rumahku, kamu dengan senang hati menemani, walaupun sama sekali tidak mengerti.
Atau kamu yang sudah entah berapa kali rela meninggalkan kegiatanmu sekedar hanya untuk mengantar dan menjemputku.

Aku tidak tahu apa yang memukul kepala dan dadaku waktu itu. Di malam kamu menangis dan menelponku. "Sayang banget sama Alit. Sayang, terlalu sayang. Gabisa bayangin kalo Alit pergi. Alit jangan pergi, gabakal pergi kan?" Aku terdiam, pun menangis. Menangisi diriku sendiri, yang tega melukai orang yang sesayang itu kepadaku. Yang pada akhirnya memilih untuk beranjak dan pergi meninggalkanmu.

Perlu kamu tahu, aku tidak pernah menghapus lagu-lagu yang kamu nyanyikan untukku, hampir setiap malam selama 4 bulan kita bersama. Terutama lagu yang kamu khusus buatkan untukku. Aku juga tidak pernah lupa kaos kaki hijau tua milikmu itu, walaupun aku tidak pernah suka.

Kamu yang sangat benci cicak. Rambut halusmu yang mengalahkan rambut bayi adik sepupuku. Mata sipitmu. Kalung kura-kura aneh yang suka kuberi makan takut mati kelaparan. Lagu-lagu kesukaan kita. Motor Scoopy-mu yang menjadi saksi banyak tempat di kota kita ini; siomay legendaris, pom bensin mawar, gig angsa dan serigala, warung roti bakar, atau jalan-jalan yang kita lewati sekadar untuk mengulur waktu dan memperpanjang malam.

Dan pelukanmu itu, yang sudah hampir aku lupa. Pelukan yang singkat dan tiba-tiba, yang tidak pernah kuceritakan pada siapa-siapa. Pelukan yang pertama, namun sayangnya pun untuk yang terakhir kalinya.

Aku berterima kasih, sekurang ajar ini ya setaun kemudian baru minta maaf ke kamu, ndi. Maafkan Summer Finn versi gembul dan jelek ini ya.

Saya harap kamu bahagia sekarang, dan tidak lagi dinomorduakan.

Kamu pantas, sangat pantas untuk bahagia.

Saya tidak.

7.7.16

Mungkin, bukan kata-kata yang dibutuhkan untuk mendefiniskan "cinta" dengan sempurna.
Bagiku, tidak semudah itu. Cinta terlalu luar biasa, dan rangkaian kata-kata seindah apapun juga tidak akan mampu mendefinisikannya.
Lagipula, apa pernah kita menemukan arti nyatanya?
Cinta membuatmu bergantung dengan orang lain-terkadang terlalu.
Ia membutuhkan sentuhan orang lain untuk menjelma menjadi nyata, dan menjadi terasa.
Terkadang berhasil dan berujung bahagia.
Tak jarang gagal dan malah pahit yang terasa.
Seringkali, kau terlanjur mengerti definisinya, tetapi kehilangan makna dibaliknya.
Kehilangan sosok yang membantumu mengartikannya.

4.7.16

Ternyata saya merindukanmu, merindukan waktu singkat itu.
Mungkin hanya 2 bulan, saja, dan bagimu tidak berarti apa-apa.
Saya rindu percakapan yang panjangnya seperti cerita pendek- mengenai apa saja..
Game of Thrones, Pee Wee gaskins, The Goonies, Submarine, Ika Natassa, Descendents, tentang keseharianmu, kebiasaanmu, tentang kamu yang terbiasa mandi sebelum tidur, entah jam berapapun itu.. Tentang kecintaanmu akan kopi, tentang Bedchamber, tentang The Trees and The Wild, tentang Harris, Ruly, Keara, Denise.
Jika saja cerita kita tertulis di lembar yang sama, ya.
Jika saja.

3.7.16

I often look myself in the mirror deep into my own hazel eyes,
"where did I go wrong?", I asked, with a trembling voice
Restraining my knuckles from punching out the walls.

I often close my eyes, late at night, trying so hard to fall asleep but
I always end up failing
"what if it worked out, you and me?", I thought, with a dizzy head
Abandoning the tears that hit the pillowcase.

25.6.16

Perihal Tinder dan Mahameru.

tolong jangan tertawakan saya yang hina ini, kembali ke dunia per-tinderan.

It's been a while, and i've recovered, walaupun sedikit demi sedikit.
Sekitar satu bulan yang lalu, saya melihat tagar #UninstallPath di twitter. Ketika itu, saya berpikir, apa yang salah dari platform ini?

Beberapa waktu lalu,-puncak rasa frustasi saya, lebih tepatnya-saya memutuskan untuk hiatus dan uninstall path saja. Selain menghindari update-an mantan yang bakalan lebih sering nyakitinnya, mencari ketenangan juga. Rasanya udah cukup hidup saya dikepoin orang-orang yang gak begitu saya kenal.

Kemarin, saya mencoba untuk menginstall kembali path. Begitu saya log in, post pertama yang saya lihat, seorang teman meng-upload foto dirinya sedang mejeng di jalan, dengan caption "akhirnya nemu filter yang pas biar kayak anak kekinian." yaa atau serupa itu lah. begitu saya scroll lagi, teman yang lain pamer sedang makan di tempat mewah ini, dengan beberapa temannya yang tentu tidak saya kenal.

Tidak butuh waktu lama untuk saya kembali men-disable account, menutup, dan meng-uninstall path saya lagi.

Kembali ke Tinder.

Malam ini, akhirnya saya bertemu seseorang yang, bisa dibilang kaku, tetapi berhasil membuat saya tersenyum kembali. (akirnya, ya, lit.)

Mahameru namanya. Lucu, ya?
dia tidak memasang foto apa-apa. hanya tangannya yang menggenggam salah satu rilisan the penguin books, dan profilenya sesimpel "Ad astra per aspera".
Iseng sih, men-swipe dia ke kanan. Sudah beberapa hari yang lalu juga.

"Bocah 17 taun baca Elon, well done."
sesederhana itu chat pembukanya, tetapi Meru sukses menjadi orang pertama yang menggunakan Elon Musk sebagai pick-up line-or whatever you name it-diantara 130an match di Tinder saya.
Obrolan pun terus mengalir, perihal Tesla, Paypal, SpaceX, SolarCity.
Awalnya saya tertohok membaca kata "tercoreng", seakan ika natassa sehina itu.
Tetapi argumentasinya memenangkan ego saya. (biarkan itu menjadi rahasia kami)

"hmm, what should i call you?"
"Meru. Panggil saya Meru -- tanpa kak atau abang. Don't get me wrong. Saya kagum, di usia 17 tahun kamu sudah membaca Elon. Hanya perlu pelatuk yang tepat untuk melontarkan kamu ke karya2 sastra yang bermutu: pram, mochtar lubis, subagio sastrowardoyo, you name it."

Tuhan dan semesta selalu menyimpan kejutan di laci mejanya. Untuk hari yang baru, terbuka satu laci yang baru. Jika ini pertama dan terakhir kalinya saya diperkenankan berbincang dengan Meru, Tuhan, terima kasih,
kejutan hari ini sangat menyenangkan.

:)

18.6.16



"Girls are taught a lot of stuff growing up. If a guy punches you he likes you. Never try to trim your own bangs and someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, Every story we're told implores us to wait for it, the third act twist, the unexpected declaration of love, the exception to the rule. But sometimes we're so focused on finding our happy ending we don't learn how to read the signs. How to tell from the ones who want us and the ones who don't, the ones who will stay and the ones who will leave. And maybe a happy ending doesn't include a guy, maybe... it's you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future. Maybe the happy ending is... just... moving on. Or maybe the happy ending is this, knowing after all the unreturned phone calls, broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment you never gave up hope."

"Terkadang, nonton satu film yang sama, bakal beda maknanya kalo nonton di umur yang beda juga."

Itu kata-katamu yang paling aku ingat, dari obrolan kita kemarin malam. Jika bicara kesamaan, sudahlah, ini entah sudah keberapa-ratus-kali ucapanmu aku aminkan, atau sebaliknya.

Kata-katamu itu bukan sesuatu yang baru, karena aku tahu, memang seperti itu hukumnya.
Sore ini, aku menonton lagi salah satu film dari salah satu novel kesukaanku, Perahu Kertas. Jauh sebelum filmnya keluar, aku telah menjadi penggemar berat Kugy dan Keenan. Seingatku, aku membelinya di tahun 2009; dan habis kubaca hanya dalam waktu 4 jam.

Di tahun 2012-kali pertama aku menonton filmnya-aku merasa Kugy menjatuhkan pilihan yang tepat, mengejar Keenan sampai ambang batas. Tapi tadi sore, pandanganku sudah jauh berbeda dibandingkan 4 tahun yang lalu. Bagaimana bisa sosok sesempurna Remigius Aditya dicampakkan begitu saja?

Pernah aku membaca, "The older you get, the more you understand Summer Finn's choices."
Well, yes, i think i get the idea, now.

11.6.16

Yet another song thaht rips my heart to fucking pieces. (I hope you see this, G.)

   

Didn’t watch your ex’s set
I just left and thought about you;
like when your teeth graze those lips,
when you begin to smile


Later, you took my hand.
You lead us to the doorway,
but you let go of me
once you saw all your friends.


And I’ve known you forever  
At least that’s what I tell Jake,  
when I’m too drunk to walk home,
when your brother is away.


You suggested I write a song about the first time we met
But I can’t seem to remember where or when.


Couldn’t watch your ex’s set
Instead I wrote this song about you
Thought, "would you show your kids, if you found the time was right?”

You’d tell them where and when.
  You never thought I’d leave the east coast
We were young and full of sin
And I too dumb to understand


Yet I’ve loved you forever
At least that’s what I tell Holt
When I’m too drunk to lie, too drugged to be alone


You suggested I write a song about the first time we met
Well I don’t wanna remember there or then.
 


  So, is this the hook you wanted?
Is it stuck inside your head?
Can you sing it with your friends, or alone?


So, am I what you needed?
Say you love me to my face
Grin and gossip, walk away and then go…


“So is this the hook you wanted?
To sing about me to my friends?
Well you’re just stuck inside your head, all alone


Oh, You were all I needed
Said I loved you to your face,
But you just laughed and walked away..

9.6.16

The Front Bottom - Twin Size Mattress. (a.k.a the background song of that heartbreaking night.)


Perihal Kegagalan.


"Ih enak banget ya keterima undangan"
"Hebat ih Alita keterima di UI."
"Seneng dong ya keterima undangan?"

Iya, terima kasih, dan iya. Hanya segelintir dari ucapan-ucapan yang bertubi-tubi dilontarkan kepada saya.
Sebagian yang lain, mungkin, terbesit di kepala-kepala yang menatapku dengan wajah iri di hari pengumuman itu.
Tatapan-tatapan kecewa.

Mungkin tak sedikit yang berpikir perjuanganku biasa saja.
Malah hampir tidak ada.

Sesungguhnya, langkah beratku dimulai sejak Desember tahun lalu.
Ketika aku mulai menaruh harap dan menggantungkan niat di salah satu universitas besar di negeri tetangga.
Rangkaian demi rangkaiannya, ritmenya, alurnya... Aku menikmatinya.  
"Ini belum apa-apa... sungguh jauh lebih berat nanti, di Malaysia sana." 
Percayalah si cengeng ini baru ngeberesin berkas aja udah ada drama nangis-nangis segala.

3 jenis tes sudah dilewati. Teman-teman dekatku sudah mulai menyusun berbagai rencana untuk menyambut masa depanku di Malasysia sana. Orangtuaku sudah mulai berbangga-bangga. Bahkan orangtutanya, dia, kamu, orang itu... sampai mendoakanku segala.

Mimpi buruk itupun tiba.
Rasanya remuk, harapanku terhenti begitu saja.
Rasanya... ingin menghilang saja.
Kau tahu perih itu apa?
Ketika kamu tidak memiliki kekuatan untuk menjawab tidak, ketika sahabatmu berkata
"Lit gimana? Keterima kan? Asik nanti gue main ya!" kepadamu.
Kamu tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat, dan cara yang tepat untuk menyampaikan kenyataan yang seburuk itu.

Kenyataan yang bukan hanya menghancurkan harapanmu, tetapi juga orang-orang di sekitarmu.

Semua pilihan kembali ke tanganku. Pada akhirnya.

Dan aku memilih untuk terus berharap.

Dan memenangkan perlombaan ini,

pada akhirnya.

30.5.16

Hi, Lang.
It's been a while, ya.
Ternyata tidak mudah ya, membodohi perasaan masing-masing.
Aku pun sama sepertimu.

Dan lagi kita berkelit perihal waktu.
Di lain masa lagi mungkin, maksudmu?

27.5.16

To you, Z.


"Alita" only one word came up from my phone screen. I literally freaked out, when i found out that it was you who sent the message. "Ya, Z?" i couldn't even think properly.
"Ta, can i talk to you? Tapi agak maleman, i'm still in a meeting." my heart beats faster by then. I know where this conversation would lead us to.
"About what? I could if i'm still up. Just buzz me up later."
"There's something that bother me lately. Wait ya, ta :)"
Same here, Z, i felt the same too.

2 weeks before this was the last time we catch up with each other, those fun chit and chats.
And you disappeared just like that, gone with the wind.
I prayed to God since then. Prayed for you, every-fucking-single day.
And He listened to my prayers anyway. He granted my wishes.

"Ta, still up?'
"Sure."

Z is calling you...

and my hands trembled. I couldn't even feel my skin anymore.. I'm as nervous as i'd never been before.
To finally hear your voices through the phone.. I'd never even dreamt about this thing before for i knew this is impossible. But sometimes, miracles do exist, right?

"Hi, ta, gue ganggu, gak?"
I'd literally give up anything just to talk to you, Z. I just really miss your voice. Even if i could, i would hunt Xavier down and ask him to stop the whole world except mine and yours, just so we could talk in peace.


At first, it was hard for me to put myself together and talk normally to you. Especially when we talk about the things, silly silly things that has been going on between our relationship these past weeks. It's awkward i should admit.. But I could make it. We made it. We talked each other's heart out.

And, God, if this gift is given for only once in my lifetime, i'd remember every second of it.
The way he laughs, the way he sounds
even the way he breaths.

2 hours and 15 minutes of talking about movies, my favorite and yours. How we laughed about your Fulan and Ahmed joke when i told you a glimpse of Submarine. And how you explained thoroughly about The Goonies and i could just tell that you love that movie so much, by your excitement and your voice.

about music, our favorite ones. And how you used to be a manager for this high school band, how you filled up the silence with talking about all of your cds, cassettes, and records collection. We talked about The Trees and The Wild, how we accidentally have the same Rasuk record from them (jeez, even i could only name a few people who own that), how we laughed at how silly Remedy and Iga's fight is. And just how we went to the same concert, 6 years ago.

about art exhibition that you went to that i've been dying to come to. And of course about Gema Semesta, my favorite artist, that you happened to like too (this is getting weird. Really. Who the fuck knows Gema Semesta?). About darbotz, and other artists

about books. Have i told anyone lately that we share this same amount of admiration towards Ika Natassa? I love how we discussed about who should be Ruly and who should be Harris. And how we worried about the disappointment we'd get if the movie turned out crap. (dude, really, i love Antologi Rasa that much. THAT much.)

about Game of Thrones, of course. How i love it everytime you told me about your theories. About how Jon is possiby Meera's twin brother. How annoying Petyr Baelish was and how Ramsay would die in this season. I personally would grant the title of "game of thrones walking encyclopedia" to you.

and how we just talked about our lives.
Talked about how each other's feeling now.
About your ex,
about mine,
about how we both ended our relationship in a very-very shitty way.
About your distantophobic attitude.

I swear, i fucking swear, i'll remember all of these, Z.

all of these.

and how you told me,

how funny it is that

"We accidentally have so many things in common, Ta."

"Kapan balik ke Bogor lagi?" tanyaku, sambil menatap ke dalam matamu yang sedang memandangi atap di atas kita. "Mungkin masih lama." jawabmu datar. Kita sedang menghabiskan waktu di sebuah kedai kopi, malam itu. Bersama dua temanku yang baru saja kau kenali. Aku senang menghabiskan waktu denganmu... selalu membuat kita sama-sama lupa waktu.

Sore itu, pada akhirnya, aku menemanimu, menonton film kesukaanmu. Salah satu seri favoritmu, lebih tepatnya. Kukira, kau akan mengenakan kaos berwarna hitam--seperti biasanya. Tapi ternyata kali ini berbeda, kamu mengenakan kaos lengan penjang berwarna putih dan coklat... dan terlihat menawan--seperti biasanya. Oh iya, tidak lupa juga bandana serupa sapu tangan merahmu itu, yang selalu setia bergantung di saku belakang celanamu. Bahkan ketika bertamu ke rumahku, yang hanya berjarak 10 meter dari rumahmu, kamu tetap tidak lupa membawa si merahmu itu.

Aku tidak tahu apakah kamu selalu seperti ini? Sungguh... Aku sangat menikmati detik-detik yang aku lalui bersamamu. Candu. Tidak ada perdebatan-kemarahan-kekesalan, hanya tawa dan pembicaraan menyenangkan saja yang mengisi udara di sekeliling kita hari itu.

Kamu rumahku untuk pulang, pak menteri...
Aku akan selalu ingat caramu membuat siapapun tertawa dengan celotehan-celotehan bodohmu.

Apakah kamu selalu seperti ini? membiarkan siapa saja menghapus noda bekas makanan yang terjatuh di kaos putihmu, sangat teledor memang. Apakah kamu selalu membiarkan siapa saja mencandu tawamu yang mengadiksi itu? Matamu yang menyipit dan barisan behel yang menghiasi gigimu-aku tahu ini terdengar sangat bodoh-dan tentu saja, sepasang lesung di pipimu itu.

Apakah aku, rumahmu?

9.5.16

Tidak memiliki siapapun disaat kamu merasakan bahagia yang teramat sangat, rasanya sangat menyakitkan.
Kebahagiaan yang disimpan sendirian, ternyata juga menyiptakan keheningan di dalam aku.

8.5.16

Mungkin terlihat seperti aku baik-baik saja, dan dengan mudahnya mencinta.
Ya, aku memang baik-baik saja.
Aku cukup bodoh untuk memercayaimu malam itu,
Lebih dari cukup, bahkan, bodoh sekali.

Semua tentangmu, palsu, dan ku harap begitu saja melulu.

Tidak, aku tidak akan menguburmu dalam kebencian.
Aku menguburmu dalam semua ketidakpastian yang kau ciptakan sendiri.
Aku menguburmu dalam janji-janji yang sampai detik ini tidak sempat kau kau tepati.
Aku menguburmu, bersamaan dengan menderasnya hujan, semakin dalam.
Aku menguburmu, menginjak-injak kenangan tentangmu, berdansa dan tertawa bersama orang baru.

Pergi, dan tak usah menengok lagi.
Aku sudah merasa cukup, memilikimu sebentar saja.

Tak usah repot-repot berjalan kembali,
Aku sudah berhenti menatap ke arahmu.

 
and i solemnly swear to myself,
that there will come a day,
I will be brave enough to say what i always meant,
and to hold on to things i've always believed.
To fall in love without having to worry about anything;
weightlessly. aimlessly. cluelessly.
 
I will fall in love with someone that feels the same too;
we'll be holding hands, not everytime but only at times we want to
 we'll have midnight drivings, and short getaways,
accompanied with songs from emo bands, and of course, punks, yay!
 
We'll talk about our favorite bands,
well sometimes we'd argue about each other's favorite tracks
We'll argue about who sings better, Brendan or Jake?
and in the end, it'll always end up the same,
singing out loud to Modern Baseball's "The Weekend"
 
You'll nod your head and smile, while listening to me trying to sing some scream part
 I will be laughing too, everytime I hear you hum to every words from La Dispute
 
I will love you every night and day, through every glimpses and moments,
I will love you like you love Descendents,
and you will love me like I love The Story So Far.
 
Someday.