"Bukan perihal dia yang terbaik bagimu.
Bukan perihal dia yang sempurna, atau sedikit kurangnya.
Melainkan dia yang terbaik untuk melengkapi hidup,
akupun bisa menjadi yang terbaik untuk melengkapinya.
Agar ada yang sempurna.
ada hitam lalu putih,
ada air lalu api,
ada baik lalu buruk.
Apakah kebaikan saja bisa kamu sebut sempurna?
Tidak lupa kusemogakan hal barusan itu padamu."
:) thanks, G.
21.4.16
entah bagimu aku apa,
namun bagiku kamu menjelma menjadi segala.
Hangatmu yang tak tersampaikan-tak sengaja disampaikan,
selalu menyelimuti tawaku. Setiap harinya.
Kamu terhebat. Paling hebat. Paling tegar. Kamu, paling.
Tawamu yang selalu terselip di setiap perbincangan kita,
yang hanya sekedar tanyamu yang kujawab seadanya,
aku tak bisa tidak menahan senyum setiap mendengarnya.
namun bagiku kamu menjelma menjadi segala.
Hangatmu yang tak tersampaikan-tak sengaja disampaikan,
selalu menyelimuti tawaku. Setiap harinya.
Kamu terhebat. Paling hebat. Paling tegar. Kamu, paling.
Tawamu yang selalu terselip di setiap perbincangan kita,
yang hanya sekedar tanyamu yang kujawab seadanya,
aku tak bisa tidak menahan senyum setiap mendengarnya.
8.4.16
6.4.16
2.4.16
Si Sibuk.
Hai, kamu.
Terimakasih sudah berkunjung ke mimpiku semalam.
Hadirmu menghangatkan walau hanya sekejap dan tak dapat tersentuh.
Tatapmu yang sama tidak berubah, yang berbeda hanya...
Kepalaku di pundakmu, dan tawa kita terdengar lebih sering daripada waktu-waktu yang terdahulu.
Kamu tersenyum dan mengelus pelan rambutku.
Menciumi dahiku dan pipiku yang merah padam menahan senyum.
Tidak pernah aku menemui seseorang yang amat menghargai orang lain, sepertimu.
Hal-hal kecil yang mudah terabaikan, bahkan, kau mengingat itu dengan hati-hati.
Kertas kuning kecil yang kukirimkan, padahal hanya karena aku tidak ingin menyusahkan diri.
Namun kau balas lagi, hobimu memang menggunakan isyarat.
"akan menjadi langka" tulismu.
Pembicaraan kita tentang mereka yang bahkan aku sudah lupa.
Dulu, kupikir aku hanya sesosok sekedar kenal yang menghiasi daftar nama-nama yang kau ketahui.
Sampai pada malam itu kau rindu, katamu. Dengan obrolan-obrolan kita. Dan pertemuan kita.
Ternyata aku pun sama. Bahkan setiap hari, tanpa aku sadari.
Terimakasih telah menyisihkan waktumu untukku, pak menteri!
Kata-katamu palu gada yang membangunkanku dari mimpi-mimpi.
yang menunjukkanku realita nyatanya mampu semenyakitkan ini.
Terimakasih sudah berkunjung ke mimpiku semalam.
Hadirmu menghangatkan walau hanya sekejap dan tak dapat tersentuh.
Tatapmu yang sama tidak berubah, yang berbeda hanya...
Kepalaku di pundakmu, dan tawa kita terdengar lebih sering daripada waktu-waktu yang terdahulu.
Kamu tersenyum dan mengelus pelan rambutku.
Menciumi dahiku dan pipiku yang merah padam menahan senyum.
Tidak pernah aku menemui seseorang yang amat menghargai orang lain, sepertimu.
Hal-hal kecil yang mudah terabaikan, bahkan, kau mengingat itu dengan hati-hati.
Kertas kuning kecil yang kukirimkan, padahal hanya karena aku tidak ingin menyusahkan diri.
Namun kau balas lagi, hobimu memang menggunakan isyarat.
"akan menjadi langka" tulismu.
Pembicaraan kita tentang mereka yang bahkan aku sudah lupa.
Dulu, kupikir aku hanya sesosok sekedar kenal yang menghiasi daftar nama-nama yang kau ketahui.
Sampai pada malam itu kau rindu, katamu. Dengan obrolan-obrolan kita. Dan pertemuan kita.
Ternyata aku pun sama. Bahkan setiap hari, tanpa aku sadari.
Terimakasih telah menyisihkan waktumu untukku, pak menteri!
Kata-katamu palu gada yang membangunkanku dari mimpi-mimpi.
yang menunjukkanku realita nyatanya mampu semenyakitkan ini.
Langganan:
Postingan (Atom)


