Pagi itu aku terduduk sendiri dibelakang pagar besi,
Seperti biasa, sendiri.
Tidak ada yang berbeda di setiap pagi
Masih sepi, dan sendiri.
Aku menyesap kopiku perlahan
Meresapi tiap tetesnya yang mengalir di kerongkongan,
Dan merasakan kafeinnya merayapi tubuhku dalam diam.
Dan saat ia mencapai kepala,
dicanangkannya wajahmu yang tak pernah ada habisnya.
Naya.
------
Pagi itu aku terduduk sendiri di kedai kopi,
Menunggu secangkir candu diantarkan peraciknya ke mejaku.
Saat itu pula aku memandang ke arahmu,
Kau tersenyum, keindahan yang manisnya, membuat kelu.
"Selamat pagi!" sapamu. "Kopi hitam lagi, pagi ini?" katamu, mengambil kursi dan menariknya ke hadapanku.
"Seperti tidak tahu saja." kataku padanya. "Hari ini kau tidak seperti kopimu." Naya menatapku sambil terus tersenyum. "Maksudmu?" "Kau terlihat cerah, berwarna. Ada apa, Nathan?" kau tertawa.
"Hahaha, sialan. Sesuram itukah aku biasanya?" candaku padanya. "Naya aku harus berangkat sekarang, kau mau berangkat bersamaku atau-?" "Tidak, terima kasih Nathan. Aku masih ada janji disini, jadi hati-hati dan selamatlah sampai tujuan!" aku mengucapkan salam dan berjalan perlahan meninggalkan Naya,
menuju kejauhan. Seperti tidak memedulikan, berlagak seperti orang tolol, pura-pura tidak tahu-menahu siapa yang Naya akan temui beberapa menit lagi. 5 menit menatap wajahmu saja bagiku sudah lebih dari cukup. Naya.
------
Sore itu aku terduduk sendiri di ruang tamu.
Memandang parau ke layar ponselku.
Tidak ada jawaban.
Aku mengajak Naya makan malam,
Namun sampai saat ini masih belum ada balasan
"Hei kak, jangan melamun terus!" Theo mengacaukan lamunanku.
"Siapa yang melamun. Mau kemana rapi-rapi begitu?" cibirku kepada Theo, adikku yang pertama.
"Mau makan malam, sama pacar. Cari pacar sana makanya!" ledek Theo sambil berlalu begitu saja.
Menambah parah.
------
Siang itu aku terduduk di dalam mobilku yang belum kunyalakan, dari sekitar 1 jam yang lalu.
Kuberanikan diri pada akhirnya, untuk menelpon Naya.
"Naya, kamu dimana?" tanyaku perlahan.
"Masih di kantor, ada apa Nathan?"
"Bagaimana bila kujemput, dan makan siang?"
"Tidak bisa, maafkan aku Nathan. Aku sudah berjanji menemani pacarku siang ini. Maaf." dan Naya pun menutup telponku. "Baiklah.." aku berkata, nanar.
------
Pagi itu aku kembali terduduk di belakang pagar besi,
Masih sendiri,
Dan masih ditemani secangkir kopi.
Kelam. Pahit. Candu.
Jatuh cinta itu seperti menyesap kopi, ternyata.
Sebuah mobil terhenti di depan pagar,
Aku tersenyum menyambut kedatangan Naya.
Dia berjalan ke arahku sambil tersenyum
Mencium tanganku.
Dibelakangnya berdiri tegap sesosok laki-laki yang bukan lain adalah milik Naya seutuhnya,
Kebahagiaan Naya,
Alasan akan berpendarnya cahaya dari mata Naya,
Dan sesiapa yang membuat Naya merasakan apa yang dikatakan orang, jatuh cinta.
Theo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar