5.3.16

me- + lacur

          "Bangsat." kataku sambil menahan diri untuk tidak meninju cermin di depan mataku. Aku selalu seperti ini, emosi dan marah menjadi-jadi malah ketika sedang sendiri. Klasik, mungkin jika aku terlahir dengan paras yang lebih rupawan aku sudah meraih penghargaan aktris dengan akting terbaik. Aku bisa menahan diri dan terlihat biasa-biasa saja. Bahkan dalam keadaan sakit yang luar biasa. Memang ada beberapa perantara untukku meluapkannya. Seperti dengan menulis seperti ini; atau mengadakan karaoke dadakan di dalam kamarku, walau suaraku sumbang tak merdu. Terkadang dibumbui dengan sedikit asin air mata, jarang-jarang dibumbui dengan manis tawa canda. Ada, yang mungkin kamu belum tahu. Pahit. Pahit, masa gak tahu? itu, yang letak indra perasa sensitifnya ada di belakang lidah. Namun pahitnya aku ini berbeda, jauh berbeda. Rasa pahitnya berawal dari ujung depan lidah, kemudian perlahan menjulur ke sekujur mulut. Kemudian pahitnya merangkak ke kerongkongan, dan terus terjun memenuhi tenggorokanku. Hal ini tentu tidak terjadi setiap hari. Bahkan hanya beberapa kali dalam hidupku; hitungan jari saja.
            Sekarang aku akan mencoba menjelaskan analoginya. Pahit ini akan tiba-tiba muncul dalam mulutmu. Tak bisa diundang apalagi dipaksakan. Oh, atau kau mau mencoba  memaksakan? Mari, siapkan dirimu untuk pementasan drama bernafaskan menciptakan pahit bersama.
            Kamu terlahir menjadi anak yang tumbuh dan berkembang dengan dasar pemikiran yang negatif. Dan tertanam pada dirimu sifat pesimisme. Namun pada suatu saat, datanglah masuk seseorang ke dalam hidupmu. Mengubah segala cara pandangmu terhadap itu. Kamu mulai belajar percaya, belajar berbaik sangka, dan belajar menjadi lebih positif lengkap dengan cara-caranya. Tumbuh prasangka baik tentang orang yang mengajarimu itu, kamu percaya orang yang mengajarkan hal baik selalu adalah orang yang baik.
Menghabiskan waktu bersamanya menjadi menyenangkan dan tidak terasa tak bermakna.
             Lalu, datang hari semua yang sudah kamu bangun itu runtuh, jatuh, rata dengan tanah, rata, serata-ratanya. Apa yang telah kamu coba ubah, kamu coba tanamkan, kamu coba maknai, kamu coba percayai, dihancurkan sendiri oleh orang yang sama, yang mengajarimu bagaimana caranya. Pahit, bukan.
Ketika kamu membutuhkan seseorang untuk menjadi pelepas rindu; namun orang itu tak bisa hadir karena alasan yang kamupun tidak tahu, tapi kamu mencoba berpikiran baik tentang itu. Mungkin peluh sedang membasahi wajahnya. Mungkin pedal gas sedang ditahannya karena macet yang membabi buta. Mungkin tawa sedang dilepaskannya bersamaan dengan celetuk lucu dari sanak saudaranya. Tidak, tidak pernah sama sekali aku berpikiran negatif atas ketiadaanmu. Tidak ada bayangan kamu akan melakukan hal sehina ini. Melacur seolah tak tahu konsekuensi.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar