17.7.16

Untuk Osr.

 

sudah berpuluh-puluh malam waktu itu, kuhabiskan entah di jok belakang motormu atau di kursi depan rumahku. Jika tidak sempat, kita bercengkrama di telepon, sampai lewat tengah malam. Aku entah ingin menamainya apa, kita berjalan seiringan tapi tak pernah tahu akan kemana.

Denganmu dulu, walau hanya sebentar saja, aku merasa menjadi perempuan paling disayangi sedunia. Jujur, mungkin baru pertama kali aku diperlakukan seperti itu. Seperti waktu kamu muncul di depan pintu rumahku, membawakan 2 bungkus dimsum yang kau tahu merupakan makanan kesukaanku.

Atau seperti sore kala aku ingin pergi ke sebuah acara dii restoran dekat rumahku, kamu dengan senang hati menemani, walaupun sama sekali tidak mengerti.
Atau kamu yang sudah entah berapa kali rela meninggalkan kegiatanmu sekedar hanya untuk mengantar dan menjemputku.

Aku tidak tahu apa yang memukul kepala dan dadaku waktu itu. Di malam kamu menangis dan menelponku. "Sayang banget sama Alit. Sayang, terlalu sayang. Gabisa bayangin kalo Alit pergi. Alit jangan pergi, gabakal pergi kan?" Aku terdiam, pun menangis. Menangisi diriku sendiri, yang tega melukai orang yang sesayang itu kepadaku. Yang pada akhirnya memilih untuk beranjak dan pergi meninggalkanmu.

Perlu kamu tahu, aku tidak pernah menghapus lagu-lagu yang kamu nyanyikan untukku, hampir setiap malam selama 4 bulan kita bersama. Terutama lagu yang kamu khusus buatkan untukku. Aku juga tidak pernah lupa kaos kaki hijau tua milikmu itu, walaupun aku tidak pernah suka.

Kamu yang sangat benci cicak. Rambut halusmu yang mengalahkan rambut bayi adik sepupuku. Mata sipitmu. Kalung kura-kura aneh yang suka kuberi makan takut mati kelaparan. Lagu-lagu kesukaan kita. Motor Scoopy-mu yang menjadi saksi banyak tempat di kota kita ini; siomay legendaris, pom bensin mawar, gig angsa dan serigala, warung roti bakar, atau jalan-jalan yang kita lewati sekadar untuk mengulur waktu dan memperpanjang malam.

Dan pelukanmu itu, yang sudah hampir aku lupa. Pelukan yang singkat dan tiba-tiba, yang tidak pernah kuceritakan pada siapa-siapa. Pelukan yang pertama, namun sayangnya pun untuk yang terakhir kalinya.

Aku berterima kasih, sekurang ajar ini ya setaun kemudian baru minta maaf ke kamu, ndi. Maafkan Summer Finn versi gembul dan jelek ini ya.

Saya harap kamu bahagia sekarang, dan tidak lagi dinomorduakan.

Kamu pantas, sangat pantas untuk bahagia.

Saya tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar