23.4.23

Lalu, malam menjadi pagi lagi. Ia selalu menjadi yang pertama membuka mata, kemudian tirai, dan jendela kamarnya, membiarkan udara Subuh menggantikan udara AC yang semalaman berdengung.
Aku masih menutup mata, menganggap waktu tidak berjalan sejak pukul 11 malam.
Tapi ia, yang entah bagaimana, bisa bertahan lembut hatinya, berusaha membangunkanku yang setengah melindur, untuk bangun dan bersiap melakukan sembahyang pagi.

24 tahun hidup dan wajahnya masih selalu menjadi yang pertama aku lihat, suaranya masih menjadi yang pertama aku dengar sesaat setelah mengumpulkan sadar.

Ia tidak pernah mengenal bangun tidur melebihi pukul 6 pagi, mungkin sepanjang hidupnya. Seolah memiliki jadwal tertulis di plafon kamarnya, Ia bergegas menuju dapur dan memanaskan tungku untuk menanak nasi dan mendidihkan air, sambil menimbang-nimbang isi kulkas yang mana yang bisa Ia sulap menjadi sarapan pagi.

Sedangkan aku, masih menutup mata, mencoba menyisipkan satu-dua menit tambahan waktu sebelum harus dipaksa merapatkan hal yang tidak seberapa penting.

Mungkin saja Ia sudah melanjutkan harinya, menuju pasar-pasar tradisional yang aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menyentuhnya. Menyulap beberapa lembar rupiah menjadi bahan persediaan untuk beberapa minggu ke depan. Herannya, Ia selalu melakukan hal apapun dengan tersenyum, satu sihir lain darinya yang tidak akan pernah aku mengerti.

Di setiap pertengahan minggu, Ia menghabiskan beberapa jam bermain tennis di lapangan yang letaknya hanya beberapa kilometer dari rumah. Tapi kepalanya, masih tetap berada di pekarangan rumah. Ia menjadi yang pertama hadir ketika tak seorang pun mampu menenangkan bayi-bayi yang mengamuk di kamar. Ia hadir, lengkap dengan pakaian olahraganya, meredam seluruh marah yang hadir dari anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

Ia adalah hujan, yang selalu aku rindukan teduhnya. Seluruh bagian tubuhnya adalah embun. Hanya dengan melihat senyumnya, duniaku seketika menjadi baik-baik saja. Hanya dengan mendengar suaranya, kalutku tersulap menjadi damai. Hanya dengan melalui doa-doanya, kacauku dengan segera diatur-Nya.

Ibuku tidak perlu membuktikan pada siapapun mengenai apapun, karena bagiku, kepul asap masakannya adalah wangi terbaik di seluruh penjuru bumi. Seluruh keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang paling benar yang bisa diambil oleh siapapun di muka bumi.

Sedangkan aku, aku masih terduduk di kasur kamar sambil mencari-cari serpihan kewarasan yang sempat dicuri mimpi-mimpi singkat ku pagi ini. 

Mungkin Ia sudah menyelesaikan 8 kilometer jalan paginya di sekitar rumah, memotret bunga-bunga yang Ia temukan sepanjang jalan dan menggunggahnya ke akun-akun daring miliknya. Ibuku punya hobi mengumpulkan foto-foto bunga, tapi tidak memelihara satu pun di pekarangan rumahku. Mungkin sadar Ia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mengurusnya.

Jika aku bisa memberikan seluruh dunia dan seisinya padanya, aku akan lakukan. 
Tapi Tuhan, aku hanya ingin menghapus segala hal yang pernah, sedang, atau akan menyakiti hatinya yang terlalu suci bagi seorang manusia. Biar aku saja yang merasakannya.

Ibu, semoga sehat selalu menyertaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar