Dan aku jatuh cinta,
pada setiap detik yang telah kita habiskan berdua.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap nada yang pernah kita nyanyikan dibawah hujan.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap kata yang kau labuhkan kedalam jiwa, menghangatkanku disaat dunia sedang gila.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap tawa yang lepas dan mengukung bebas, membuat aku terhempas.
Dan aku jatuh cinta.
2.6.15
18.5.15
Foxes, Geese, and Black Metal.
Kamu berlari memasuki warung tempatku terduduk sudah cukup lama.
Kau berbincang dengan teman yang menemaniku saat itu.
Aku hanya mengulum senyum dan langsung memalingkan wajah.
Tak begitu spesial.
Kamu mengenakan celana jeans biru tua,
Warna sepatu yang senada,
dengan kemeja kemerahan.
Jam tanganmu hitam, dengan banyak tali melingkar dibelakangnya.
Duniaku terhenti ketika kamu tertawa.
Kamu jauh lebih tinggi daripadaku. Tubuhmu tegap dan suaramu ramah, lucu.
Dibawah derasnya hujan, kita berbincang tentang nama-nama yang banyak orang tidak kenali.
Aku senang kamu menikmati apa yang kunikmati.
20.4.15
What Ifs are the saddest.
How about a cup of coffee, and small talks with light laughs in a faraway coffee shop?
I'm not a fan of americano, but i'd give it up for an espresso.
How about a pint of alcohol, and weird discussions, about god and if it's true, about universe and if it's parallel, in a small bar with a deep scent of cigarettes?
It's forbidden for me to consume alcohol but darling, you're the one that's so intoxicating.
How about a mug of hot tea, or if you love hot chocolate better, let's have it for two,
and deep talks about our hearts, with long thoughts, and silence inbetween?
Actually it's never silence, we're just too in love with the sound of the raindrops.
How about a botttle of mineral water, in each hand.
taking long walks along the pavement. with our eyes looking straight ahead, but our mind tied with each other's?
It could be a long and winding road, but you'll be the spark that always lit me.
How about me chewing snickers and you smoking your cigarettes, laying on top of highest highland, watching the moon hooking up with the stars?
We'd catch a cold together, and i'll find it cute.
How about as long as we could, not forever?
I'm not a fan of americano, but i'd give it up for an espresso.
How about a pint of alcohol, and weird discussions, about god and if it's true, about universe and if it's parallel, in a small bar with a deep scent of cigarettes?
It's forbidden for me to consume alcohol but darling, you're the one that's so intoxicating.
How about a mug of hot tea, or if you love hot chocolate better, let's have it for two,
and deep talks about our hearts, with long thoughts, and silence inbetween?
Actually it's never silence, we're just too in love with the sound of the raindrops.
How about a botttle of mineral water, in each hand.
taking long walks along the pavement. with our eyes looking straight ahead, but our mind tied with each other's?
It could be a long and winding road, but you'll be the spark that always lit me.
How about me chewing snickers and you smoking your cigarettes, laying on top of highest highland, watching the moon hooking up with the stars?
We'd catch a cold together, and i'll find it cute.
How about as long as we could, not forever?
So today I realized how hard it is to say goodbye.
Even to the simplest things, like raindrops and the sound of it's drop dripping on the rooftop.
the pitters and the patters. Falling towards each other.
I was thinking about leaving.
Because one day, we'll all be. eventually.
So what do I worry? what do we all worry in general?
Now can you tell me, why is it even harder to say goodbye to things that have made so many bad impacts on you?
tell me, why is it so hard to say goodbye to things that caused so much pain inside you?
"We're all stories in the end, everything has to end sometime. Otherwise, nothing would ever get started. If it's time to go, remember what you're leaving.
remember the best."
15.4.15
aku enggan menjadi rintik air hujan,
yang singgah mebasahi namun sekejap menghilang pergi.
aku enggan menjadi sebait kata,
yang sekedar melintas dalam kepala.
hilang tidak terbaca, menjadikannya tiada.
aku enggan menjadi api.
berkobar sekali, padam ia tiada kembali.
aku ingin menjadi senja.
Semburat jingga yang menenangkan jiwa.
hanya sekelebat,
namun indahnya mendekap hangat.
aku ingin menjadi harmoni,
berdenting sekali,
namun nadanya merasuki.
Berputar di kepala, tiada henti.
yang singgah mebasahi namun sekejap menghilang pergi.
aku enggan menjadi sebait kata,
yang sekedar melintas dalam kepala.
hilang tidak terbaca, menjadikannya tiada.
aku enggan menjadi api.
berkobar sekali, padam ia tiada kembali.
aku ingin menjadi senja.
Semburat jingga yang menenangkan jiwa.
hanya sekelebat,
namun indahnya mendekap hangat.
aku ingin menjadi harmoni,
berdenting sekali,
namun nadanya merasuki.
Berputar di kepala, tiada henti.
12 Maret, 22:45.
Kehabisan kamu, akupun kehabisan bahan untuk menulis. Harusnya memang tidak boleh seperti ini, dan memang tidak baik seperti ini.
Tetapi kamu. Menjadi memori paling jelas di dalam kepalaku, sabtu lalu.
Bahkan seorang jelmaan malaikat seperti Remedy Waloni saja seketika terhapus ketika aku kembali bertatap mata denganmu.
Kamu tidak banyak berubah, ya.
Hanya saja, kali ini, aku tidak seberani dahulu tertawa sambil melihat kedalam matamu.
kali ini, aku bahkan tidak bisa memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan basa-basi mu.
Aku sangat senang bertemu denganmu malam itu,
Meski ketika berdiripun aku harus menjaga jarak cukup jauh darimu.
Kita terbiasa berdiri berdampingan dan saling menyentuh, ingat?
Tapi tak apa. Aku sudah mampu berdiri sendiri.
Cukup lama ya, ternyata, kita tidak bertemu?
Kau menanyakan mengapa aku memotong rambutku.
Dan sungguh, aku tahu alasanku memotong tak lain karena bosan,
tetapi mengapa yang terlintas di pikiranku saat itu, adalah kamu?
Seorang kawan pernah mengkhawatirkanku, berlebihan memang.
Ia bertanya apakan alasanku memotong rambut adalah karena ingin memulai sesuatu yang baru--
yaitu bersamaan dengan aku memotong rambutku--aku juga menghapuskan namamu dari kepala.
Mungkin, iya. Mungkin juga tidak.
Pikiranku memang mudah membohongi diriku sendiri.
Lihat, aku sebuah sistem yang sangat kompleks, bukan?
Sungguh, d. Aku tidak membutuhkan apa-apa.
Aku tidak menginginkan kamu. Sungguh.
Aku hanya ingin masih menjadi bagian dari hidupmu.
Terlepas dari seberapa dalam aku terluka karena mencintaimu, aku tetap mengagung-agungkan tawa saat kita masih bersama. Aku pernah bahagia. Lebih dalam dari aku terluka.
Dan aku merindukanmu,
segala hal tentang aku dan kamu.
----semoga kamu berjalan terus melaju. Sesekali, tengoklah ke belakang. aku masih berdiri di tempat yang sama.--
Tetapi kamu. Menjadi memori paling jelas di dalam kepalaku, sabtu lalu.
Bahkan seorang jelmaan malaikat seperti Remedy Waloni saja seketika terhapus ketika aku kembali bertatap mata denganmu.
Kamu tidak banyak berubah, ya.
Hanya saja, kali ini, aku tidak seberani dahulu tertawa sambil melihat kedalam matamu.
kali ini, aku bahkan tidak bisa memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan basa-basi mu.
Aku sangat senang bertemu denganmu malam itu,
Meski ketika berdiripun aku harus menjaga jarak cukup jauh darimu.
Kita terbiasa berdiri berdampingan dan saling menyentuh, ingat?
Tapi tak apa. Aku sudah mampu berdiri sendiri.
Cukup lama ya, ternyata, kita tidak bertemu?
Kau menanyakan mengapa aku memotong rambutku.
Dan sungguh, aku tahu alasanku memotong tak lain karena bosan,
tetapi mengapa yang terlintas di pikiranku saat itu, adalah kamu?
Seorang kawan pernah mengkhawatirkanku, berlebihan memang.
Ia bertanya apakan alasanku memotong rambut adalah karena ingin memulai sesuatu yang baru--
yaitu bersamaan dengan aku memotong rambutku--aku juga menghapuskan namamu dari kepala.
Mungkin, iya. Mungkin juga tidak.
Pikiranku memang mudah membohongi diriku sendiri.
Lihat, aku sebuah sistem yang sangat kompleks, bukan?
Sungguh, d. Aku tidak membutuhkan apa-apa.
Aku tidak menginginkan kamu. Sungguh.
Aku hanya ingin masih menjadi bagian dari hidupmu.
Terlepas dari seberapa dalam aku terluka karena mencintaimu, aku tetap mengagung-agungkan tawa saat kita masih bersama. Aku pernah bahagia. Lebih dalam dari aku terluka.
Dan aku merindukanmu,
segala hal tentang aku dan kamu.
----semoga kamu berjalan terus melaju. Sesekali, tengoklah ke belakang. aku masih berdiri di tempat yang sama.--
Langganan:
Postingan (Atom)
