28.9.25

 


Wish you were here, wish I was there,

I wish that we could have a place that we could share
Not only stolen moments in abandoned halls
Quiet touch in elevators and bathroom stalls.

But I will, I would, I did, I do
For the thrill, for my health, for myself,
for you.

because I love you, and every day
That I knew, and didn't say,
is lost time..

3.7.25

I love you. "Always."

If both witnessing you and not witnessing you hurts me just the same, I don’t know which ache I should live with.

To see you in fragments, in stories, in the spaces we used to fill together; is to feel the weight of everything we are but can’t name. Your voice in the room still finds its way to me, your laugh still reaches like a thread I instinctively want to tug on, even if I know the spool has long been buried. 

And yet, not seeing you at all makes the ache worse in another way.. like forgetting the exact shade of someone’s eyes and spending years trying to recall it in the dark.

What kind of choice is that?

To stay close and bleed quietly, or walk away and grieve a death no one else acknowledges.

This isn’t love the way it’s written in books. I don’t get to win in this. I only get to choose which loss I can carry.


25.5.25

"You're used to driving alone, right? You should remember this."

oh, how it's always so warm to feel loved.
even in the quiet of silence.

to choose and be chosen,
even beneath millions of impossibilities

to create fate instead of 
just sitting in absence.

21.5.25

Today I held in my tears while laughing with my clients;

I find grief to be funny; 

it creeps me out in the most random of time. 
right after I just finished laughing with my clients; 
in the quiet minutes after I took my late prayer; 
or in the rage I felt after getting too many revisions.

but then I think it's funny how I call it grief; 
when I'm not even sure what dies
and what lives. 

should it even be called that, then?
or maybe 
this aching feeling is not grief; 

just our fiery amber, fading


as if it was swept in by the wind.
as if it wasn't even allowed to burn in the first place.

13.5.25

aku tahu, pasti ada alasannya Tuhan ingin dengan cepat bertemu denganmu.
mungkin Ia ingin meminta pandangmu yang seluas angkasa, seperti layaknya aku yang seringkali mengganggumu.

atau mungkin, Ia tahu, dunia ini terlalu rumit untuk isi kepalamu yang sudah berbelit-belit.

Dyla, kepergianmu mematikan sebagian dari diriku.
Yang dahulu, seringkali hanya bisa dipenuhi olehmu.

 "bukan dipeluk, tapi ini cukup."

---

I think the cure to messy, chaotic head is another pair of ears eagerly listening to what it spew.

I think what we had that night was enough. Perfect.

Accompanied by our favorite dish, just the right amount of laughter, and slightly too much cursing.

Why is it that I always have too much fun whenever i'm with you?

23.4.23

Lalu, malam menjadi pagi lagi. Ia selalu menjadi yang pertama membuka mata, kemudian tirai, dan jendela kamarnya, membiarkan udara Subuh menggantikan udara AC yang semalaman berdengung.
Aku masih menutup mata, menganggap waktu tidak berjalan sejak pukul 11 malam.
Tapi ia, yang entah bagaimana, bisa bertahan lembut hatinya, berusaha membangunkanku yang setengah melindur, untuk bangun dan bersiap melakukan sembahyang pagi.

24 tahun hidup dan wajahnya masih selalu menjadi yang pertama aku lihat, suaranya masih menjadi yang pertama aku dengar sesaat setelah mengumpulkan sadar.

Ia tidak pernah mengenal bangun tidur melebihi pukul 6 pagi, mungkin sepanjang hidupnya. Seolah memiliki jadwal tertulis di plafon kamarnya, Ia bergegas menuju dapur dan memanaskan tungku untuk menanak nasi dan mendidihkan air, sambil menimbang-nimbang isi kulkas yang mana yang bisa Ia sulap menjadi sarapan pagi.

Sedangkan aku, masih menutup mata, mencoba menyisipkan satu-dua menit tambahan waktu sebelum harus dipaksa merapatkan hal yang tidak seberapa penting.

Mungkin saja Ia sudah melanjutkan harinya, menuju pasar-pasar tradisional yang aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menyentuhnya. Menyulap beberapa lembar rupiah menjadi bahan persediaan untuk beberapa minggu ke depan. Herannya, Ia selalu melakukan hal apapun dengan tersenyum, satu sihir lain darinya yang tidak akan pernah aku mengerti.

Di setiap pertengahan minggu, Ia menghabiskan beberapa jam bermain tennis di lapangan yang letaknya hanya beberapa kilometer dari rumah. Tapi kepalanya, masih tetap berada di pekarangan rumah. Ia menjadi yang pertama hadir ketika tak seorang pun mampu menenangkan bayi-bayi yang mengamuk di kamar. Ia hadir, lengkap dengan pakaian olahraganya, meredam seluruh marah yang hadir dari anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

Ia adalah hujan, yang selalu aku rindukan teduhnya. Seluruh bagian tubuhnya adalah embun. Hanya dengan melihat senyumnya, duniaku seketika menjadi baik-baik saja. Hanya dengan mendengar suaranya, kalutku tersulap menjadi damai. Hanya dengan melalui doa-doanya, kacauku dengan segera diatur-Nya.

Ibuku tidak perlu membuktikan pada siapapun mengenai apapun, karena bagiku, kepul asap masakannya adalah wangi terbaik di seluruh penjuru bumi. Seluruh keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang paling benar yang bisa diambil oleh siapapun di muka bumi.

Sedangkan aku, aku masih terduduk di kasur kamar sambil mencari-cari serpihan kewarasan yang sempat dicuri mimpi-mimpi singkat ku pagi ini. 

Mungkin Ia sudah menyelesaikan 8 kilometer jalan paginya di sekitar rumah, memotret bunga-bunga yang Ia temukan sepanjang jalan dan menggunggahnya ke akun-akun daring miliknya. Ibuku punya hobi mengumpulkan foto-foto bunga, tapi tidak memelihara satu pun di pekarangan rumahku. Mungkin sadar Ia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mengurusnya.

Jika aku bisa memberikan seluruh dunia dan seisinya padanya, aku akan lakukan. 
Tapi Tuhan, aku hanya ingin menghapus segala hal yang pernah, sedang, atau akan menyakiti hatinya yang terlalu suci bagi seorang manusia. Biar aku saja yang merasakannya.

Ibu, semoga sehat selalu menyertaimu.