Sally masih memandang keluar jendela, aku masih tak henti menatapnya.
Jutaan kali aku mencoba mencari makna dalam matanya, namun tak ada gunanya.
Sally masih tersenyum dibalik mata kelabunya, aku masih tak henti mencernanya.
"Kegetiran itu tak bermakna jika kita menikmatinya, mari, kita nikmati bersama-sama." Kata Sally lirih.
Sally masih terduduk sendiri. Menyembunyikan diri dibalik jendela renta kereta ini, dibalik decit roda yang tidak mengisi keheningannya.
Sally, tidak ingat waktu dulu, betapa ia merasa bodoh tidak percaya akan Tuhan.
Sally, tidak ingat waktu dulu, betapa ia merasa bahagia tumbuh dalam kesederhanaan.
Sally, tidak ingat waktu dulu, betapa indahnya kebersamaan yang kita tinggali bersama, tanpa pernah bertanya.
"Hei, aku Nathan" kataku pelan. "Boleh, aku duduk disini?"
Sally hanya mengangguk pelan.
"Hei, siapa namamu?"
"Sally." Katamu sambil sedikit tersenyum, lalu melanjutkan renunganmu yang kuputus barusan.
Ah, senyuman itu lagi. Aku masih jatuh cinta.
"Hei, kereta ini, akan membawa kita kemana?" Aku menatap kedalam matamu, tak ada sebersit kebingungan ataupun keraguan. Kau bertanya tanpa sepenuhnya membutuhkan jawaban.
"Kau lupa?"
"Apa?" Kata Sally sambil menutup mata. Mencoba menjauhkan diri dari yang tidak mau ia kembali pikirkan.
Payah. Tidak. Memang tidak ada yang tersisa darinya, hanya tongkang memoar luka.
Yang berarti, bukan apa-apa.
"Tidak apa-apa...." Kataku nanar.
Ah, sudahlah. Asalkan aku bersama Sally.
Perjalanan menuju surga ini, tidak akan lama.
*#CerpenPeterpan Sally Sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar