Disini, ditempat ini. Tak dengarkah kamu? Masa lalu yang mengamuk dalam badai rindu.
Ah, masa lalu. Sepertinya aku mulai lupa, itu bukan kesukaanmu.
Dulu kita menghabiskan banyak tawa disini. Sungguh, jika mampu aku tak ingin lagi mengingatnya.
Sayapku terbuat dari rindu,
Semakin kuat ia detik demi detik.
Kala itu hujan mengamuk diluar sana. Kau hanya tertawa saat kubisikkan sebait puisi payah hasil spontanitasku kala itu.
Langkahku menopang demi namamu,
Yang menopang disetiap gerakan.
Aku masih belum bisa sepenuhnya menerka air mukamu. Kau memejamkan mata, mulai menikmati suara deras hujan yang masih belum menunjukkan kapan ia berhenti. Kau bilang, untaian bait dalam puisiku dan hujan, adalah sebuah kolerasi kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Nafasku terhela akan doa;
Dimana namamu tersimpan disetiap helanya.
Kau masih menafaskan hela berat, aku tak yakin untuk berapa lama lagi. Selang-selang infusmu itu hanya saksi bisu, yang membawa cairan-cairan berisi harapan palsu. Disampingmu aku terdiam kaku. Ah, biar. Aku sudah terbiasa. Satu senyummu dan semua kekakuan akan sirna.
Cintaku cinta karena kamu,
Sebuah pernyataan tanpa pertanyaan.
"Sungguh, aku dalam sebuah keraguan." Katamu pelan.
Kita masih menerbangkan satu sama lain
Berpijak demi satu sama lain.
Kau tersenyum. "Pe....Lang...i", katamu lesu. Namun kau kembali terpejam, melumat senyuman itu kembali. "Senyummu itu kiriman Tuhan. Hujan selesai masih lama. Pelangi itu hanya sebuah kebohongan, kau tahu.", aku tersenyum, sarkastik.
Kitapun masih menafaskan satu sama lain
Mengapa tidak mencintai satu sama lain?
Aku terhenyak, kau terbatuk sangat keras. "Sebegitu besarkah keraguan yang tumbuh menggerogoti dirimu?" Kataku tajam. Kau terbatuk sekali lagi. Matamu masih terpejam, tak dapat berbicara. Air mata satu-satunya perantara.
Aku bodoh. Disaat kau terbangun dari tidur panjang
Yang bahkan hanya membawamu dalam kelelahan yang berkepanjangan, disaat seperti itu,
yang kutuntut darimu malah rindu. Tak pantas, memang. Apalagi yang kau tunggu?
Mungkin kau terhenyak, semua yang kau punya, perlahan jauh meninggalkanmu.
Aku bodoh. Mengikuti kemauanmu, merangkai semua yang dekat dalam khayalanmu, khayalanku. Mendekatkan apa yang sesungguhnya tak terjangkau.
Kita bodoh. Masih mengharapkan keajaiban Tuhan datang membungkus khayalan yang telah kita usahakan. Kuusahakan.
Kau bodoh. Meninggalkan mimpi kita tetap mimpi. Khayalan hanya sebuah khayalan basi yang hanya pantas ditertawakan. Kaupun.
Apa masih pantas, aku menyebutmu kamu, jika pada selang infus saja kau seperti dibelenggu?
Apa masih pantas, aku memperjuangkan mimpi yang kau tinggalkan, jika dengan hanya memilikiku saja kau tidak mau?
Kau lupa dan tidak pernah sadar, Aku keajaiban yang datang hadir di pundakmu, saat kau terhenyak dan saat kau dibangunkan dari sebuah keterpaksaan.
Aku sadar, ini hanya sebuah jalan menuju dimensi masa depan. Pada suatu hari nanti, ini akan menjadi masa lalumu yang kelam, dengan menyangkut aku didalamnya. Aku tak mau kau, di masa depanmu nanti, menertawakan aku yang menyedihkan ini. Terbujur disampingmu, seperti aku yang tak bernyawa.
Tidurlah tidur, puaskanlah tidurmu. Hingga saat kau terbangun nanti, semua sudah tinggalkanmu, kau terbangun di alam mimpi.
Tidurlah yang nyenyak.
Aku mengawasimu dari bawah sini.
*#CerpenPeterpan. Peterpan-Tertinggalkan Waktu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar