8.1.15

sedikit celoteh tentang ambisi




Kemarin, saya kembali terduduk di sebuah ruangan yang terasa penuh ambisi. Sudah terbiasa memang melewati atmosfir seperti ini, dengan pulpen, dan terkadang pensil di genggaman, se-abrek kertas diatas meja, dan tatapan-tatapan tajam yang sangat serius memperhatikan tanpa sempat menengok sedetikpun.

Tidak mudah berada terkungkung dalam sebuah ruangan, dicekoki materi-materi pelajaran selama hampir 9 jam non-stop, disaat anak-anak 'normal' yang lain sedang berlibur dan bercengkrama bersama keluarganya, entah di rumah atau mungkin di pusat perbelanjaan besar di tengah kota.

Tapi mungkin disanalah letak perbedaannya, semua hal sulit akan terasa mudah apabila kita menikmati prosesnya. Jika dibayangkan, terduduk kaku dari jam 9 pagi sampai nanti sore menjemput dan matahari telah pergi, sangat membosankan. Bagi saya, itu tak lebih dari sebuah permainan. Saya menikmatinya.

Saya menikmati ritme-nya, alur detik-nya, bahkan bunyi detak-nya.

Namun, menganggapnya sebagai sebuah permainan adalah sebuah kesalahan rupanya. Menjadi yang paling tidak serius diantara manusia-manusia ambisius dapat menjadi nilai minus.

Tapi saya percaya, Tuhan Maha Baik.

Tanpa saya sadari, 'pekerjaan' ini telah membawa saya ke banyak tempat.
'pekerjaan' ini telah membawa saya ke tengah kota depok untuk berguru disana.
'pekerjaan' ini telah membawa saya ke ujung kota Bandung selama 2 hari satu malam, berjuang melawan ratusan yang memiliki mimpi jauh lebih tinggi daripada saya, yang hanya menganggap ini sebagai sebuah permainan.
'pekerjaan' ini telah mengantarkan saya menaiki kereta yang membawa saya ke kota Yogyakarta selama 3 hari, di dalam sebuah kamar hotel bersama 3 orang asing yang tidak sama sekali kukenali. 'pekerjaan' ini mempertemukanku dengan sebuah universitas yang mulai diam-diam meracuni otakku, meronta memintaku untuk memasukinya 2 tahun lagi.

namun satu hal yang paling pasti, 'pekerjaan' ini memberikanku kesempatan untuk membuka kembali mata. bahwa ternyata ambisi adalah salah satu bahan bakar penting untuk kita merasa hidup. Walaupun kau anggap ini sebuah permainan, bukankah alangkah lebih menyenangkan jika kamu yang keluar sebagai juaranya?

Saya kembali memperhatikan sekeliling kelas, masih mata-mata yang sama. kerut jidat yang sama.
hanya materi yang berbeda, he he.

Tuhan, terimakasih untuk banyak kesempatan yang telah Engkau berikan kepada saya.

Jangan bosan-bosan, ya Tuhan?

Tahun ini finish line-nya di yogyakarta. Bolehkah saya ikut ke sana, Tuhan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar