"What is bad for your heart is good for your art."
Jika susunan kata diatas adalah berhala, saya penyembah paling setianya.
entah, saya memang seperti ini.
baru produktif berkarya malah ketika sedang terluka.
mengerti, kan, kenapa dinamakan "happy ending"?
Bukan, bukan karena memang sudah ending.
Penulisnya gatau, apa yang harus dituliskan begitu muara suatu cerita sudah terhenti di titik bahagia.
Bahagia bukan berarti stagnansi, hanya saja, ritme yang semenjak dulu dibangun, sudah jadi lebih teratur.
Ritme yang fluktuasinya seperti detak jantung atlet yang sehabis lari, berganti menjadi detak jantung orang yang hampir mati.
Bahagia itu menyenangkan, dan tentunya menenangkan.
Hidup bagai berjalan di atas garis lurus yang langkahnya tegap dan pasti, tidak takut tergoyah angin.
Dan saya akui, saya bahagia.
Jika kamu merupakan salah satu orang terdekat saya, yang sering saya rutuki ketika kesal karena semalam beradu mulut dengannya,
percayalah,
saya tidak pernah sepenuhnya emosi kepadanya.
Saya tidak mau menjadi bodoh dan menyesal nantinya.
Saya tidak tahu apakah pada akhirnya, dia satu-satunya,
tetapi, untuk saat ini, saya hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar