10.10.15

Ugh.

Ah, hi.
I've just finished reading Critical Eleven by my one and only favorite author, Ika Natassa.
To be honest, the book is really full of angst and hatred. Even halfway through of it and more.

My favorite is still Antologi Rasa, though.
Ika Natassa's writing taught me that every single relationship has their own disguised problem nobody knows.

I remembered a phrase from Critical Eleven, "be careful what you wish for, for you don't know what you're really wishing." We are all, at times, wish to have a happy go lucky relationship like those people you follow on instagram. Wishing to have a relationship as cute and as easy as they seem to have.
But what do we know?
What do we undertand?
We only look at the surface.

Saya, sama terlukanya seperti Keara, ketika Harris melakukan hal yang membuat semua kecewa, ketika sedang menghabiskan waktu berdua dengan Keara di Singapura.

Saya, sama terlukanya seperti Anya, ketika Ale mengatakan rentetan kata yang menghunus dada ketika mereka sama kehilangan Aidan.

Tapi Tuhan, i don't have the same courage as K had, or the same dissapointment as Anya had.

Saya tidak sekeras K yang begitu saja menganggap Harris musnah bagai kapur barus yang mengendap di sudut lemari.

Bukan juga Anya yang berpendirian kuat mendiamkan Ale beratus-ratus hari.

Dan kamu-pun bukan Harris ataupun Ale, yang rela memperjuangkanku habis-habisan seperti keduanya memperjuangkan wanita-wanita itu.

Mungkin aku hanya butuh waktu, sama seperti K dan Anya.

Aku butuh waktu untuk mencerna menyembuhkan luka yang walaupun sudah seminggu berlalu,
Darahnya masih terus menetes.
Masih basah.
Mungkin satu,
Dua,
Tiga,
Atau delapan bulan sekalian.
Sayang, kamu bukan Aldebaran.

Aku ingin sekali menghapuskan ingatan biadab itu.
Tidak seperti Anya yang ingin memindahkan Ale-nya ke Hypocampus--aku ingin ingatan itu dihapus dan mampus saja.

Aku benar-benar membutuhkan jasa Lacuna Inc. di dunia nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar