2.4.16

Si Sibuk.

Hai, kamu.
Terimakasih sudah berkunjung ke mimpiku semalam.
Hadirmu menghangatkan walau hanya sekejap dan tak dapat tersentuh.
Tatapmu yang sama tidak berubah, yang berbeda hanya...
Kepalaku di pundakmu, dan tawa kita terdengar lebih sering daripada waktu-waktu yang terdahulu.
Kamu tersenyum dan mengelus pelan rambutku.
Menciumi dahiku dan pipiku yang merah padam menahan senyum.

Tidak pernah aku menemui seseorang yang amat menghargai orang lain, sepertimu.
Hal-hal kecil yang mudah terabaikan, bahkan, kau mengingat itu dengan hati-hati.
Kertas kuning kecil yang kukirimkan, padahal hanya karena aku tidak ingin menyusahkan diri.
Namun kau balas lagi, hobimu memang menggunakan isyarat.
"akan menjadi langka" tulismu.
Pembicaraan kita tentang mereka yang bahkan aku sudah lupa.

Dulu, kupikir aku hanya sesosok sekedar kenal yang menghiasi daftar nama-nama yang kau ketahui.
Sampai pada malam itu kau rindu, katamu. Dengan obrolan-obrolan kita. Dan pertemuan kita.
 Ternyata aku pun sama. Bahkan setiap hari, tanpa aku sadari.

Terimakasih telah menyisihkan waktumu untukku, pak menteri!
Kata-katamu palu gada yang membangunkanku dari mimpi-mimpi.
yang menunjukkanku realita nyatanya mampu semenyakitkan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar