Ingin bicara lagi, gaada yang larang kan, ya? Hmm.. Beberapa hari ini, gue ngerasa totally a mess banget. ya bukan hal baru sih gue tau, tapi gue sadar kalo ini gabisa terus-terusan di biarin.. Mau sampe kapan kayak gini terus? Harmful-both for me or for him or for us. Iya gue sadar gue se harmful itu. Dan tingkatnya udah sangat super melampaui batas rasional, kayaknya cuma malaikat yang mau settle for less dan merawat gue dan segala keharmfulan gue ini. Dan 2 malam yang lalu, gue juga remind myself kalo Rakha seberharga itu buat sekedar filling my missing parts and scarred because of my sharp edges.
Ini bahasan emang gaada habis-habisnya ya... Sekarang jadi keinget obrolan kita, yang gue inget dibahas lewat chat ketika gue masih di commuter, otw bogor. "I wish i could hug you so hard your broken pieces would stick back together, Rak." "I wish i could hug you so tight that i'd fill your missing parts, Ta." and at that time i realize that i know, you know, we know, bahwa aku dan kamu sama aja. Tapi ya hal-hal kayak begitu yang terus menerus membuat gue memilih buat bertahan. Eventhough a friend of mine told me (kalo kamu baca jangan ngambek ya Rak karena aku juga kesel banget dengernya) jangan terlalu percaya Rakha karena he's a poet and is good at crafting words. Then what? berarti kalo kayak gitu omongan gue juga gabisa dipegang? Terkadang emang membiarkan orang lain--yang tidak relevan--masuk ke suatu hubungan yang (supposedly) consists of 2 person membuat kemunculan prejudice yang ada-ada aja deh.
Gatau deh Rak ini aku nulis apa.. Ya intinya aku udah decide aku mau berubah jadi orang yang jauh lebih dewasa, yang jauh lebih ga cranky, ga clingy dan ga demanding.. Mungkin belum keliatan sekarang tapi i effin swear to god i'm trying my best, okay?
Please don't get tired of me, yet.
Saya sayang kamu, Rak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar