Modern Baseball lagi, dan kembali dengan kepala yang entah isi pikirannya dimana. Lelah, tapi gatau lelahnya kenapa. Pulang terlalu cepat ke kostan membuat saya sedikit gila. Tapi terlalu lama menghabiskan banyak waktu di kampus juga bukan hal yang sedang saya butuhkan sekarang-sekarang ini. Saya sedang mencapai titik dimana karena terlalu banyak hal yang berlalu di kepaa saya, saya lebih memilih untuk memasukkan pikiran-pikiran itu ke dalam kantong kresek hitam dan menyimpan--bahkan membuangnya ke tong sampah sekalian. Ugh, mengerti? Gaperlu dingertiin juga sih.
Teruntuk Rakha, terimakasih sudah mau menjadi tujuan rutukan-rutukan sampah saya tentang dunia yang berakhir selalu tanpa konfirmasi saya akan hal apa yang mau saya perbuat untuk mengubah ini semua. Saya berhutang banyak sekali padamu. Oh iya, saya juga mau berterimakasih untuk salah satu malam minggu terbaik saya, kemarin malam. Baru pertama kali ngerasain menjadi Sid-Nancy walaupun saya dan kamu ga seekstrim itu kan ya. Terimakasih untuk ID Cardnya yang membuat saya mampu merasakan Free Access dan motret Nabi Yusuf versi postrock dari jarak beberapa cm saja. Terimakasih untuk kejujuran kamu kepada saya, yang anehnya membuat saya makin sayang saja padamu. Jangan terlalu sering mengutuki dirimu sendiri ya, ini berlaku untuk saya juga, untuk kita berdua. Mungkin kita bisa menjadi bukti konkrit negatif bertemu negatif menjadi positif, kan ya? Siapa yang tahu. Terimakasih lagi sudah mengenalkan saya ke beberapa temanmu--membiarkan saya masuk lebih jauh ke kehidupanmu. Saya sangat mengapresiasi itu. Sejujurnya, saya tidak terlalu peduli seberapa jelek teknis yang mendukung penampilanmu malam itu. Terbias ya? Biarkan saja. Saya bahagia melihat orang yang saya sayangi bahagia menjalani hobi-hobinya. Saya senang berada di posisi support system milikmu.
Saya sudah terlalu banyak merepotkanmu, Rak. Tapi sungguh sederet rapi gigimu yang putih itu terlalu sulit untuk tidak saya pandangi paling tidak satu minggu sekali. Atau senyum tipismu yang sering sekali saya tangkap secara tidak sengaja. Ya semuanya lah, apapun itu, termasuk waktu-waktu yang kita habiskan hanya untuk bermalas-malasan, menyesap kopi dan menonton video di YouTube. Entah bagaimana, tapi rasanya membagi masalah saya kepadamu mengurangi masalah itu sendiri walaupun yang kita bicarakan bukan tentang bagaimana menyelesaikannya. Saya senang didengarkan-apalagi jika kamu yang mendengarkan.
I have to admit: I'm a sucker for hand-holdings and slight-hugs. And your scent, also your smile. Mungkin sampai saya tua saya akan tetap mengingat kapan pertama kali saya mengenali telapak tangan yang besarnya hampir dua kali lipat telapak tangan saya--di suatu siang yang kita habiskan di Truk Kuning. Atau setiap saat kamu merangkul saya tanpa sebab. Atau bahkan sesederhana mata saya yang menangkap wajahmu yang tersenyum memandangi, saat saya kelelahan dan tertidur untuk beberapa detik di meja suatu kafe sore itu.
Rak, jujur intensi awal saya menulis ini bukan ingin menulis tentangmu. Tapi kamu ternyata memang benar menjadi yang paling memenuhi isi kepalaku. Jika bukan sebuah "kita" yang kau cari, saya tidak apa-apa. Terkadang menjadi naif itu tidak buruk, Rakha, asalkan saya merasa bahagia. Aku dan kamu saja sudah cukup. Asalkan saya masih bisa menyesap ratusan cangkir kopi-kopi itu bersamamu. Asalkan saya masih bisa menjadi supporting system yang kamu butuhkan. Asalkan saya masih bisa menemani malam-malam kurang tidurmu yang kau habiskan memaki-maki asisten dosen yang kau kesalkan, Asalkan saya masih bisa menemanimu jalan kaki tiap-tiap si motor berplat Yogyakarta itu ngambek di jalan.
Sekarang saya harus mencoba menutup laptop karena ini hari Minggu pukul 10 malam dan saya harus mulai bersiap menghadapi kenyataan bahwa besok Senin.
Selamat beristirahat, Rakha Suryandaru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar