22.1.17

Kenapa jadi seolah saya yang salah?
Kamu yang bodoh, kita memang bodoh, tapi sebelumnya tidak ada yang salah diantara kita.
It's crystal clear you push me away.
Kemana kamu yang selalu mau berusaha meluruskan yang bercabang-cabang?
Bahkan hanya menanyakan keadaan saja seolah sudah menjadi haram sekarang.

Intensinya sudah berbeda, Z.
Iya saya memang masih sama, perasaan saya padamu tidak akan pernah bisa diubah
tapi saya sudah berhenti dan menyerah
nyatanya melihatmu bahagia bersama dengan orang yang dengan mudahnya menyakitimu
membuatku ikut berbahagia. Ini ter-naif dari sejarah percintaan saya,
tetapi secara bersamaan.. ter..nyata?
Saya benar tersenyum melihatmu bahagia lagi, Z.
Walaupun sepintas masih terbersit jika saja wanita itu aku,
bukan yang sama dengan yang berkali-kali pernah menghancurkanmu dulu.

Kamu tidak pernah menyakitiku,
meninggalkanku.
Akupun sama.
Mungkin doa-ku hanya diaminkan Tuhan, belum saatnya kita bersama.

Sungguh, kapanpun kamu menengok ke belakang, aku masih akan tetap berdiri di sana.
Aku masih akan tetap mengingat caramu tertawa
dan cara matamu berbinar menyala
juga caramu menggenggam jaketmu yang berwarna hitam di tangan kananmu
di bangku depan Institute Francais siang hari itu.

Sejak saat itu, setiap aku ada di sana, kamu yang menjadi asosiasinya

Percakapan-percakapan kita di lobby, setelah filmnya selesai
mengenai Ataris yang kode akan datang ke Indonesia, ingat? Kau sangat bahagia
seperti anak kecil dibolehkan makan cokelat, hahaha
dan aku senang berbincang denganmu.

Bahagia selalu, Ze.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar