19.11.19

Transkrip 2017. Daniel, gelas-gelas kopi, dan Panglima Polim.

Untuk jam delapan malam; yang kuhabiskan terduduk bersamamu
di kedai kopi tak bertuan. 
Berharap redup lampunya dapat mengaburkan pandang dan ingatan,
akan matamu yang pendarnya tak memiliki lawan.

Lalu kamu bercerita tentang apa saja.
Perihal perih dan hal-hal yang telah lama kau sembunyikan.
Perihal malam yang seringkali berlidah tajam.

Berpikir aku tentang kata-kata dan apa yang kau utarakan;
Tentang sepi, serta angin-angin 
yang dinginnya menusuk rusuk.

Kau bertanya kepadaku; “apa itu sepi?
Apakah ia mimpi-mimpi yang dipaksa mati?

Apakah ia rindu ibu 
kepada anak-anaknya yang tak tahu menahu?”

Kulayangkan pandang, 
bulan dan bintang terlihat di kejauhan.
Malam itu kedai cukup ramai;
Definisi sepi tidak bisa disamakan dengan keadaan.

Aku masih bungkam.

“Bagaimana dengan abadi? 
Apakah ada abadi?”
Kau bertanya tanpa mengharapkan jawaban.

“Abadi adalah harapan, dan harapan adalah abadi.
Pon dan Wiji adalah abadi, selayaknya Said Thalib dan bara api.
Abadi adalah harapan, 
selayaknya gelas-gelas yang tetap disajikan, 
menetap menunggu walau bibir-bibir tak kunjung datang.”

Katamu, sembari memainkan jemari tangan.

malam itu namamu masih Baskara Putra. Belum Hindia.

Malam senang memanjangkan diri, 
ini telah cangkir kopi yang kelima dan kita masih belum hendak beranjak.

Kau selalu bilang hidup adalah senapan; 
dan waktu, selongsong peluru.
Terlalu berhati-hati maka mereka akan tersia.
Terlalu terburu-buru maka melesat tak terasa.

Aku menahan tawa.

“Bukankah hidup hanyalah serangkaian antara?
Hanya jeda yang mengisi sela-sela.
Jangan begitu, analogimu terlalu kaku.
dunia tidak hanya segenggaman tanganmu.”

Kau kembali sangsi dan memilih bertanya,
“Lalu jika hidup hanyalah antara, 
dimana letak awal mula dan akhir durja?
Lagipula, malam terlalu panjang
untuk disandingkan dengan antara.
Jangan pura-pura melupa,
Bintang dan bulan ikut punya andil pula.”

Dan kamu mulai bercerita, 
betapa bintang dan kerlipnya 
seringkali lupa diingat dan diberi makna.

Selayaknya usaha-usaha yang dipaksa ada 
namun terlupa pada akhirnya.

Mendekati dini hari, dan kita masih terus bicara.
Mencoba dan merangkai kata 
yang berhamburan tanda koma. 
Udara basa.
Kota sunyi.
Dan bau anyir kehilangan.
seperti orang mati.

Malam mulai mendengkur;
Tapi pikiranku dan kamu
masih belum bisa akur.
Yang tersisa?
hanya pandang-pandang
yang mulai kabur,
dan gelas-gelas miras yang berserak
seolah berteriak, 
“Jangan kabur!”

Ah, sudahlah, 
lagipula hidup hanya serentetan jeda
diantara tembakan-tembakan 


yang tak terasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar