Sunyi itu pisau tersembunyi, yang diam-diam menyayat bagian dalam tubuhku
kala tatapku menyisir lintas jalan yang biasa kita lewati.
kala tatapku menyisir lintas jalan yang biasa kita lewati.
Saat jam dinding menunjukkan angka
yang sudah lebih dari lima,
Tujuh, delapan,
bahkan pernah sebelas.
Ada yang jauh lebih dalam menyiksa,
daripada tatap yang tak lagi bercahaya.
yang sudah lebih dari lima,
Tujuh, delapan,
bahkan pernah sebelas.
Ada yang jauh lebih dalam menyiksa,
daripada tatap yang tak lagi bercahaya.
Kata-kata yang dilontarkan
tetapi tidak bermakna.
Ia selamat tinggal,yang disampaikan dengan isyarat.
Yang dihiasi kata-kata,
seolah sudah lama ingin ia lumat.
Aku ingin bertanya pada Jalan Margonda.tetapi tidak bermakna.
Ia selamat tinggal,yang disampaikan dengan isyarat.
Yang dihiasi kata-kata,
seolah sudah lama ingin ia lumat.
Pada lampu-lampunya,
yang mengintip dari kegelapan.
Seolah menjadi saksi perjalanan singkat kita.
Aku yang memeluk punggungmu,
yang wanginya membuatku gila ketika tiada.
Kepada nada-nada yang terselip diantara kata
Mengiringi perjalananku
mu.
Menuju entah mana itu.
Kedai kopi di lantai dua.
Restauran kumuh yang isinya hanya kita berdua,
Atau kedai-kedai kopi lainnya
yang menjadi saksi kemalasan kita.
Mungkin kafe murah bernuansa merah?
yang menjadi saksi tatapmu yang meriah
kemudian menjadi marah.
Aku yang memeluk punggungmu,
yang wanginya membuatku gila ketika tiada.
Kepada nada-nada yang terselip diantara kata
Mengiringi perjalananku
mu.
Menuju entah mana itu.
Kedai kopi di lantai dua.
Restauran kumuh yang isinya hanya kita berdua,
Atau kedai-kedai kopi lainnya
yang menjadi saksi kemalasan kita.
Mungkin kafe murah bernuansa merah?
yang menjadi saksi tatapmu yang meriah
kemudian menjadi marah.
Aku jatuh cinta.
Aku tahu itu.
Ikal rambutmu
wangi keringatmu,
ketiadaanmu,
ke-ada-anmu.
Mata yang tersenyum melihatku.
Peluk yang hangat di sela-sela wangi kafein yang menyengat.
Atau cium di pipi yang menyemu,
setiap kali kita bertemu.
Aku jatuh cinta, aku tahu.Aku tahu itu.
Ikal rambutmu
wangi keringatmu,
ketiadaanmu,
ke-ada-anmu.
Mata yang tersenyum melihatku.
Peluk yang hangat di sela-sela wangi kafein yang menyengat.
Atau cium di pipi yang menyemu,
setiap kali kita bertemu.
Kepada kamu,
yang memilih untuk tidak tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar