19.11.19

Transkrip 2016. Untuk Ra.

Sunyi itu pisau tersembunyi, yang diam-diam menyayat bagian dalam tubuhku
kala tatapku menyisir lintas jalan yang biasa kita lewati.
Saat jam dinding menunjukkan angka 
yang sudah lebih dari lima,
Tujuh, delapan,
bahkan pernah sebelas.

Ada yang jauh lebih dalam menyiksa,
daripada tatap yang tak lagi bercahaya.
Kata-kata yang dilontarkan 
tetapi tidak bermakna.
Ia selamat tinggal,yang disampaikan dengan isyarat.
Yang dihiasi kata-kata,
seolah sudah lama ingin ia lumat.
Aku ingin bertanya pada Jalan Margonda.
Pada lampu-lampunya,
yang mengintip dari kegelapan.
Seolah menjadi saksi perjalanan singkat kita.
Aku yang memeluk punggungmu, 
yang wanginya membuatku gila ketika tiada.

Kepada nada-nada yang terselip diantara kata

Mengiringi perjalananku
mu.
Menuju entah mana itu.
Kedai kopi di lantai dua.
Restauran kumuh yang isinya hanya kita berdua,
Atau kedai-kedai kopi lainnya 
yang menjadi saksi kemalasan kita.

Mungkin kafe murah bernuansa merah? 
yang menjadi saksi tatapmu yang meriah 
kemudian menjadi marah.

Aku jatuh cinta.
Aku tahu itu.
Ikal rambutmu
wangi keringatmu,
ketiadaanmu,
ke-ada-anmu.
Mata yang tersenyum melihatku.

Peluk yang hangat di sela-sela wangi kafein yang menyengat.

Atau cium di pipi yang menyemu,
setiap kali kita bertemu.
Aku jatuh cinta, aku tahu.
Kepada kamu,
yang memilih untuk tidak tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar