1.5.20

Beberapa tahun yang lalu, frasa "Lembo ade" menjadi sangat familiar di telinga saya. Kalau boleh self-proclaim, nama-nama penghuni Arsitektur 2014 yang memegang kendali Ekskursi telah saya kenali dengan cukup apik. Tidak tahu apa-apa, yang jelas, Lembo Ade menjadi kata-kata yang hampir setiap hari melintas di linimasa Twitter, atau cerita di Instagram, atau mungkin seringkali tidak sengaja diceletukkan oleh Jaung saat kita sedang menjalankan ritual menonton film random bersama (walaupun Jaung bukan anak Ars juga, sih.) Yang saya tahu, kata-kata ini adalah "hadiah" yang dibawa pulang dari Ekskursi Bima, di tahun tersebut.


Sekitar satu bulan yang lalu, saya berbincang cukup banyak dengan Rakha. Pandemi ini memang aneh, bukannya memotivasi saya untuk belajar lebih banyak tentang teknologi... malah menjadikan saya haus informasi perkara Arsitektur. Dipikir-pikir lucu juga, dulu saat masih bersama Rakha, boro-boro tertarik ngomongin bangunan -- yang ada malah tertawa dengar bangunan favoritnya adalah Menara Babel. Kami bertukar referensi, dan sampai lah saya di sudut bagian Netflix yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, Grand Design.

Saya rasa, ada dua kutub ekstrem yang tercipta ketika memperhatikan pola karya arsitektur -- terpukau akan filosofinya, atau sebal dengan rasa-rasa pretensiusnya. Saya tertawa cukup lama ketika kami mendiskusikan sebuah rumah yang facade-nya tersusun oleh kaca-kaca pantul -- bagaimana kesalnya para tetangga pemilik rumah itu.

Walaupun hanya sekelibat perbincangan, saya jadi semakin sadar bahwa manusia ini isi kepalanya masih ada-ada saja. Dan saya pun terbawa menuju tulisannya mengenai Lembo Ade.

Kelapangan hati, lapang dada, kesederhanaan, penerimaan kekurangan,
dua kata itu membuat saya berpikir banyak. Pantas saja membekas lama di kepala mereka.

-----
"Lembo ade, saya masih banyak inginnya, saya masih banyak menuntutnya, saya masih banyak ekspektasinya. Lembo ade."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar