6.4.16


"we lost it, the people we know
we lost it, and blamed it on someone
am i too young, to keep this going?
am i too young?"
malam-malamku yang menyiksa
dan serpihan pagi-pagiku yang terluka.
"You knew it already. The key is, to be with someone that makes you happy."

"I know. But I'd still choose him; even if it means i have to be sad all along. I understand the consequences; though i don't know what i'm paying for."

"You must've gone crazy."

"I must've."

2.4.16

Si Sibuk.

Hai, kamu.
Terimakasih sudah berkunjung ke mimpiku semalam.
Hadirmu menghangatkan walau hanya sekejap dan tak dapat tersentuh.
Tatapmu yang sama tidak berubah, yang berbeda hanya...
Kepalaku di pundakmu, dan tawa kita terdengar lebih sering daripada waktu-waktu yang terdahulu.
Kamu tersenyum dan mengelus pelan rambutku.
Menciumi dahiku dan pipiku yang merah padam menahan senyum.

Tidak pernah aku menemui seseorang yang amat menghargai orang lain, sepertimu.
Hal-hal kecil yang mudah terabaikan, bahkan, kau mengingat itu dengan hati-hati.
Kertas kuning kecil yang kukirimkan, padahal hanya karena aku tidak ingin menyusahkan diri.
Namun kau balas lagi, hobimu memang menggunakan isyarat.
"akan menjadi langka" tulismu.
Pembicaraan kita tentang mereka yang bahkan aku sudah lupa.

Dulu, kupikir aku hanya sesosok sekedar kenal yang menghiasi daftar nama-nama yang kau ketahui.
Sampai pada malam itu kau rindu, katamu. Dengan obrolan-obrolan kita. Dan pertemuan kita.
 Ternyata aku pun sama. Bahkan setiap hari, tanpa aku sadari.

Terimakasih telah menyisihkan waktumu untukku, pak menteri!
Kata-katamu palu gada yang membangunkanku dari mimpi-mimpi.
yang menunjukkanku realita nyatanya mampu semenyakitkan ini.

11.3.16

"Tapi Ca, gimana ya, gue ga marah. Lebih ke kecewa, bingung, sakit. Maunya juga gak gue pikirin. Tapi itu terus ngehantuin pikiran gue Ca, even kadang tergambar jelas hal-hal yang dia lakuin pas malem itu."

"Sekarang mah mau gimana lagi selain nerima kan ya, Lit?"

5.3.16

me- + lacur

          "Bangsat." kataku sambil menahan diri untuk tidak meninju cermin di depan mataku. Aku selalu seperti ini, emosi dan marah menjadi-jadi malah ketika sedang sendiri. Klasik, mungkin jika aku terlahir dengan paras yang lebih rupawan aku sudah meraih penghargaan aktris dengan akting terbaik. Aku bisa menahan diri dan terlihat biasa-biasa saja. Bahkan dalam keadaan sakit yang luar biasa. Memang ada beberapa perantara untukku meluapkannya. Seperti dengan menulis seperti ini; atau mengadakan karaoke dadakan di dalam kamarku, walau suaraku sumbang tak merdu. Terkadang dibumbui dengan sedikit asin air mata, jarang-jarang dibumbui dengan manis tawa canda. Ada, yang mungkin kamu belum tahu. Pahit. Pahit, masa gak tahu? itu, yang letak indra perasa sensitifnya ada di belakang lidah. Namun pahitnya aku ini berbeda, jauh berbeda. Rasa pahitnya berawal dari ujung depan lidah, kemudian perlahan menjulur ke sekujur mulut. Kemudian pahitnya merangkak ke kerongkongan, dan terus terjun memenuhi tenggorokanku. Hal ini tentu tidak terjadi setiap hari. Bahkan hanya beberapa kali dalam hidupku; hitungan jari saja.
            Sekarang aku akan mencoba menjelaskan analoginya. Pahit ini akan tiba-tiba muncul dalam mulutmu. Tak bisa diundang apalagi dipaksakan. Oh, atau kau mau mencoba  memaksakan? Mari, siapkan dirimu untuk pementasan drama bernafaskan menciptakan pahit bersama.
            Kamu terlahir menjadi anak yang tumbuh dan berkembang dengan dasar pemikiran yang negatif. Dan tertanam pada dirimu sifat pesimisme. Namun pada suatu saat, datanglah masuk seseorang ke dalam hidupmu. Mengubah segala cara pandangmu terhadap itu. Kamu mulai belajar percaya, belajar berbaik sangka, dan belajar menjadi lebih positif lengkap dengan cara-caranya. Tumbuh prasangka baik tentang orang yang mengajarimu itu, kamu percaya orang yang mengajarkan hal baik selalu adalah orang yang baik.
Menghabiskan waktu bersamanya menjadi menyenangkan dan tidak terasa tak bermakna.
             Lalu, datang hari semua yang sudah kamu bangun itu runtuh, jatuh, rata dengan tanah, rata, serata-ratanya. Apa yang telah kamu coba ubah, kamu coba tanamkan, kamu coba maknai, kamu coba percayai, dihancurkan sendiri oleh orang yang sama, yang mengajarimu bagaimana caranya. Pahit, bukan.
Ketika kamu membutuhkan seseorang untuk menjadi pelepas rindu; namun orang itu tak bisa hadir karena alasan yang kamupun tidak tahu, tapi kamu mencoba berpikiran baik tentang itu. Mungkin peluh sedang membasahi wajahnya. Mungkin pedal gas sedang ditahannya karena macet yang membabi buta. Mungkin tawa sedang dilepaskannya bersamaan dengan celetuk lucu dari sanak saudaranya. Tidak, tidak pernah sama sekali aku berpikiran negatif atas ketiadaanmu. Tidak ada bayangan kamu akan melakukan hal sehina ini. Melacur seolah tak tahu konsekuensi.
             

untuk wanita-wanita jalang itu, mati kamu membusuk di dasar neraka, bangsat.

Banyak yang berkata; lebih baik kamu kosong tapi merasa ada daripada ada tetapi merasa sebaliknya.
Mungkin lebih banyak benarnya, ketimbang salahnya.
Aku tidak mengerti, sedang berdiri dimana sekarang aku ini.
Sedang merasakan apa aku saat ini.

Tidak,tidak ada yang salah memang.
Tidak, mungkin aku yang salah.
Ini di luar kendaliku, di luar kendali siapapun.

Mungkin, saat ini, bahkan untuk mempercayai diriku sendiri akan menjadi sulit.
Semua pikiran baikku tentangmu runtuh dan rata tidak berbekas.
Tidak, sekali lagi, aku tidak menyalahkanmu. Aku tidak pernah menyalahkanmu.
Aku menyalahkan diriku sendiri yang semudah ini percaya.
Semudah ini termakan kepalsuan yang terasa nyata.

Aku bodoh, karenamu, aku sangat bodoh.
Dan mungkin masih ingin seperti itu.