27.10.16


Bogor, 27 Oktober 2016.
Lucu ya, disaat aku berpuluh-puluh kilometer jauhnya darimu, aku malah sangat semakin teringat denganmu.
Dengan kita.
Dengan saat itu, siang yang kita habiskan bercerita sambil menyesap kopi dan menertawakan apa saja.
Kamu bercerita tentang Radiohead-mu, dan aku tentang Modern Baseballku.
Tentang lagu ini yang kau ceritakan dengan ceria, bagaimana 9 tahun lalu lagu ini sudah tercipta.
Aku rindu senyummu, bahkan sedetik setelah kita bertemu.

Aku bahkan tidak tahu menulis apa... Aku telah jatuh rupanya.

4.10.16

"I'm happy to know you, and to know more about you. There's no reason for me to leave you."
You said, after i told you aboout things i never told anyone to. Things that have been hanging in my head for months. I don't even know why i got the courage to tell you those things.

It's always confusing, this state. I'm happy to be a part of your everyday; to be able to tell you sweet nothings. To be able to send you good mornings. Or simply to remind you to eat breakfast and go take a bath.

untuk suryandaru.

Hai, kamu.
Setiap kali aku mendengar--atau membaca--namamu, aku selalu mengasosiasikannya dengan cuaca.
Iya, kamu sudah kuanggap sebagai cuaca.
Aku tidak bisa memprediksimu, hmm, mungkin lebih tepat jika kusebut aku memang tidak ingin memprediksimu.

Hari ini kamu hujanku. Menyejukkan dan menyenangkan, hujan yang tanpa badai.
Kamu selalu menjadi cuaca yang menyenangkan.
Bisa saja besok kamu menjadi terikku. Menghangatkan dan menerangkan, terik yang tidak mengundang intrik.
Kamu selalu menjadi cuaca yang menyenangkan.
Mungkin lusa kamu menjadi berawanku. Meneduhkan dan menenangkan, awan yang tanpa sambaran. Kamu akan selalu menjadi cuaca yang menyenangkan.

25.8.16

Saya pikir saya memang ditakdirkan menjadi seperti ini, sebuah perhentian sementara.
Tak ada, atau mungkin belum, ah persetan dengan optimisme... Tidak ada yang hendak singgah untuk beberapa lama. Pergilah, dengan yang telah lalu. Saya sudah terbiasa.

24.8.16

Untuk Kembang Api yang belum padam.

Di dalam tatap itu, telah aku temukan keindahan.
Ingin kuukir di kepala dan ku abadikan;
kubuatkan laci baru khusus untuk menyimpan.

Dan di dalam perbincangan kita tentang apa saja, telah aku temukan perasaan-perasaan yang tak tersampaikan
perihal perih dan hal-hal yang kita sama tak bisa selesaikan.

Di halus alir senyummu, telah aku temukan kesejukan.
dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bertemu pada jawaban,
namun kita tetap tertawakan dan membiarkan.

Pada waktu yang saat itu berlalu tanpa ada yang memberi tahu.
Kepada kamu.

Terima kasih.

9.8.16

Sebuah ode tentang perjalanan dan transisi di sela-selanya.

Setelah berhiatus selama hampir setengah dekade, The Trees and The Wild kembali menyuguhkan kemegahan melalui "Zaman, Zaman". Memilih single dengan materi yang benar-benar baru sebagai track pembuka album, merupakan sebuah langkah yang tepat. Pasalnya, sudah saatnya para pendengar Trees mendapatkan amunisi baru yang menyegarkan, tidak melulu hanya berputar di Empati Tamako, Tuah Sebak, Nyiur, dan atau Saija.

Tidak seperti Tuah Sebak yang bergerak cepat, atau Empati Tamako yang mengalir terbalik dari hilir ke hulu, lagu ini dimulai dengan desingan pelan, seperti dahan pintu yang dibuka perlahan, mengantarkanmu menuju sebuah ruangan yang kosong, gelap, namun menyejukkan. Zaman, Zaman membawamu berjalan berkeliling perlahan. Semakin lama, kamu semakin menyadari isi dari ruangan kosong-yang ternyata tidak benar-benar kosong-adalah ada, kamu tidak sendirian disana. Kamu dan para penghuni ruangan kosong itu berkeliling bersama, membentuk suatu pola.

Lirik yang sengaja dibuat tidak begitu audible, seolah melambangkan suara-suara di kepala yang tidak pernah ada habisnya, dan kamu diminta untuk menerka-nerka. Akan memunculkan begitu banyak interpretasi, memang, namun disanalah letak kemagisannya.

Bising, bising, bising, lalu senyap, dengan cara yang sangat tiba-tiba. Hal ini bukan merupakan suatu kejutan, karena memang Trees dikenal dengan musiknya yang repetitif dan bagian outro berhenti secara tiba-tiba. Sejauh ini, repetisi-repetisi yang dibawakan Trees tidak membosankan. Namun, jika sebagian besar track lain di album ini mengusung corak yang sama, saya rasa bukan tidak mungkin album kedua nanti akan jadi membosankan dan "mudah tertebak".

Secara garis besar, Zaman, Zaman berhasil mengantarkan pesan yang sungguh brilian. Tidak membosankan, dan menyejukkan. Pilihan track pembuka album yang tepat untuk kembali menyiksa kita dengan rasa penasaran.

6.8.16

Gabisa tidur #2 padahal harus bangun jam 4 pagi.

Saya sedang tidak merasakan apa-apa, lebih tepatnya tidak ingin merasakan apa-apa.
Mungking saya takut untuk merasakan hal yang sama,
atau bahkan trauma.

Atau saja, saya yang memang payah dan menolak keluar dari lingkaran setan buatan saya sendiri.

Saya akui, saya ternyata masih menginginkan dia.
Sosok paling sempurna untuk saya,
menurut saya.
Mungkin menurut Tuhan berbeda.
Mungkin menurutnya juga beda.

Susah ya jadi manusia yang susah melangkah tapi mudah terjatuh.
Begitulah saya,
susah melangkah
mudah terjatuh.

Untuk kamu, si self-proclaimed  pengidap distantophobia,
saya rindu.
Saya harap kamu baik-baik saja.
Semoga skripsinya cepat selesai ya.

Boleh kan saya tetap menyimpan rasa?
Sampai saya bertemu satu yang sama sepertimu lagi.

Semoga hidupmu tenang dan bahagia.
Saya selalu berusaha mendoakanmu,

z.