1.10.14

Ini adalah sebuah cerita tentang air mata
yang mengalir lembut diiringi hela dan doa.
Mengapa bunda titikkan air mata?

Jika waktu menjebakmu dalam usia, bunda,
Biarkanlah aku menua bersamamu.
Fana hanyalah akal bulus milik manusia;
kita selamanya.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana, bunda.
Sesederhana tawa anak kecil di pematang senja.
Begitu lepas, bebas.

Aku mau mencintaimu dengan sederhana, bunda.
Sesederhana aksara,
Sesederhana satu, dua, dan tiga.

Doamu yang mengantarkanku terlelap menuju mimpi;
pun doamu yang membangunkanku untuk menyambut pagi.

Doamu yang mengantarku pergi menjalani hari;
pun doamu yang menjemputku pulang untuk kembali.

Bunda,
Dalam gelap aku menemukanmu,
menuju terang aku dituntunmu.

Terekam oleh mata,
terbaca oleh lidah,
terdengar oleh telinga,
dan teresap oleh jiwa.
Begitu definisi cintaku pada sosokmu.

Ini adalah sebuah ode tentang hati yang lirih.
Enggan berkata lelah walau raganya mulai meletih.
Mengapa bunda tak pernah bersedih?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar