9.6.16
Perihal Kegagalan.
"Ih enak banget ya keterima undangan"
"Hebat ih Alita keterima di UI."
"Seneng dong ya keterima undangan?"
Iya, terima kasih, dan iya. Hanya segelintir dari ucapan-ucapan yang bertubi-tubi dilontarkan kepada saya.
Sebagian yang lain, mungkin, terbesit di kepala-kepala yang menatapku dengan wajah iri di hari pengumuman itu.
Tatapan-tatapan kecewa.
Mungkin tak sedikit yang berpikir perjuanganku biasa saja.
Malah hampir tidak ada.
Sesungguhnya, langkah beratku dimulai sejak Desember tahun lalu.
Ketika aku mulai menaruh harap dan menggantungkan niat di salah satu universitas besar di negeri tetangga.
Rangkaian demi rangkaiannya, ritmenya, alurnya... Aku menikmatinya.
"Ini belum apa-apa... sungguh jauh lebih berat nanti, di Malaysia sana."
Percayalah si cengeng ini baru ngeberesin berkas aja udah ada drama nangis-nangis segala.
3 jenis tes sudah dilewati. Teman-teman dekatku sudah mulai menyusun berbagai rencana untuk menyambut masa depanku di Malasysia sana. Orangtuaku sudah mulai berbangga-bangga. Bahkan orangtutanya, dia, kamu, orang itu... sampai mendoakanku segala.
Mimpi buruk itupun tiba.
Rasanya remuk, harapanku terhenti begitu saja.
Rasanya... ingin menghilang saja.
Kau tahu perih itu apa?
Ketika kamu tidak memiliki kekuatan untuk menjawab tidak, ketika sahabatmu berkata
"Lit gimana? Keterima kan? Asik nanti gue main ya!" kepadamu.
Kamu tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat, dan cara yang tepat untuk menyampaikan kenyataan yang seburuk itu.
Kenyataan yang bukan hanya menghancurkan harapanmu, tetapi juga orang-orang di sekitarmu.
Semua pilihan kembali ke tanganku. Pada akhirnya.
Dan aku memilih untuk terus berharap.
Dan memenangkan perlombaan ini,
pada akhirnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar