25.6.16

Perihal Tinder dan Mahameru.

tolong jangan tertawakan saya yang hina ini, kembali ke dunia per-tinderan.

It's been a while, and i've recovered, walaupun sedikit demi sedikit.
Sekitar satu bulan yang lalu, saya melihat tagar #UninstallPath di twitter. Ketika itu, saya berpikir, apa yang salah dari platform ini?

Beberapa waktu lalu,-puncak rasa frustasi saya, lebih tepatnya-saya memutuskan untuk hiatus dan uninstall path saja. Selain menghindari update-an mantan yang bakalan lebih sering nyakitinnya, mencari ketenangan juga. Rasanya udah cukup hidup saya dikepoin orang-orang yang gak begitu saya kenal.

Kemarin, saya mencoba untuk menginstall kembali path. Begitu saya log in, post pertama yang saya lihat, seorang teman meng-upload foto dirinya sedang mejeng di jalan, dengan caption "akhirnya nemu filter yang pas biar kayak anak kekinian." yaa atau serupa itu lah. begitu saya scroll lagi, teman yang lain pamer sedang makan di tempat mewah ini, dengan beberapa temannya yang tentu tidak saya kenal.

Tidak butuh waktu lama untuk saya kembali men-disable account, menutup, dan meng-uninstall path saya lagi.

Kembali ke Tinder.

Malam ini, akhirnya saya bertemu seseorang yang, bisa dibilang kaku, tetapi berhasil membuat saya tersenyum kembali. (akirnya, ya, lit.)

Mahameru namanya. Lucu, ya?
dia tidak memasang foto apa-apa. hanya tangannya yang menggenggam salah satu rilisan the penguin books, dan profilenya sesimpel "Ad astra per aspera".
Iseng sih, men-swipe dia ke kanan. Sudah beberapa hari yang lalu juga.

"Bocah 17 taun baca Elon, well done."
sesederhana itu chat pembukanya, tetapi Meru sukses menjadi orang pertama yang menggunakan Elon Musk sebagai pick-up line-or whatever you name it-diantara 130an match di Tinder saya.
Obrolan pun terus mengalir, perihal Tesla, Paypal, SpaceX, SolarCity.
Awalnya saya tertohok membaca kata "tercoreng", seakan ika natassa sehina itu.
Tetapi argumentasinya memenangkan ego saya. (biarkan itu menjadi rahasia kami)

"hmm, what should i call you?"
"Meru. Panggil saya Meru -- tanpa kak atau abang. Don't get me wrong. Saya kagum, di usia 17 tahun kamu sudah membaca Elon. Hanya perlu pelatuk yang tepat untuk melontarkan kamu ke karya2 sastra yang bermutu: pram, mochtar lubis, subagio sastrowardoyo, you name it."

Tuhan dan semesta selalu menyimpan kejutan di laci mejanya. Untuk hari yang baru, terbuka satu laci yang baru. Jika ini pertama dan terakhir kalinya saya diperkenankan berbincang dengan Meru, Tuhan, terima kasih,
kejutan hari ini sangat menyenangkan.

:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar