4.8.16

Kertas kaku itu masih kusimpan dengan rapi,
bersama tumpukan-tumpukan kenangan yang lain.
Sengaja yang darimu kupisahkan, karena kurasa paling menyakitkan.

Tak ada yang lebih menyedihkan,
dari cerita-cerita yang ditinggalkan tanpa terselesaikan.
Tak ada yang lebih aku rindukan,
selain percakapan kita yang tak kunjung berhenti walau gelap sudah semakin pekat.

Ajari aku bagaimana cara menghapuskan namamu,
yang bahkan bukan kau yang menulisnya di pikiranku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar