Siang itu dibuka dengan cuaca yang berawan, cukup berangin, dan menyenangkan.
Berbeda dengan kencan-kencan sebelumnya, hari itu, aku yang menentukan perjalanan kita.
No. 1: Makan Fried Chicken Master di Blok M Plaza.
Hari itu kiosnya penuh sekali. Mungkin salah kita, tiba tepat pada jam makan siang. (yap, tentu saja dia mengolok-olokku dengan menyanyikan bait reff "Jam Makan Siang" milik Baskara. Sampai saat ini aku tidak tahu kenapa dia memiliki sentimen pribadi pada Bas). Tapi ya tidak apa-apa, toh kita jadi punya lebih banyak waktu untuk berbincang, sambil menunggu pesanan datang. Waktu itu, yang kuingat, kamu bercerita tentang bocah-bocah SMA teman bermain futsalmu, serta bapak tetangga yang menyebalkan. Ketika pesanan datang, aku tersenyum melihat wajah puasmu yang mengaminkan kelezatan potongan-potongan ayam itu. Benar, kan? Worth it! Mungkin ini akan kujadikan makanan perayaan kita berdua!
No. 2: Menonton "Mekah, I'm Coming!" Di Blok M.
Kamu bukan tipikal orang yang senang menonton film random di bioskop. Saat mengajakmu menonton film ini, aku sedikit takut kamu menolak. Aku juga baru kali ini, tertarik menonton film "receh" lokal. Kita sempat salah tempat, (ini salahku!) tapi untungnya masih bisa masuk sebelum terlambat. Kamu sempat bercerita tentang pameran mobil antik yang membuatmu tertarik di sela-sela waktu kita berlari-larian. Dan ternyata filmnya menyenangkan! aku juga rindu bersandar di bahu-mu, hehe. Lalu kita sholat Ashar di Surau Blok M yang terkenal itu, sambil menikmati sore di rooftopnya.
No. 2a: Makan Mie Aceh di Kantin Blok M yang direkomendasikan oleh Ibumu.
Semangkuk Mie Aceh tumis dan dua gelas Es Teh Tarik terenak yang pernah kucoba. Sekali lagi, entah karena memang juara pada kelasnya, atau karena dengan kamu aku mencobanya. Yang jelas, terima kasih banyak atas rekomendasinya, tante mamahnya Bahri! enak! Walaupun, setelah makan Mie Aceh ini kita sempat tersesat dengan bodohnya, lupa jalan menuju parkiran. Aku marah padamu untuk beberapa waktu, saat kamu sandung di tangga keluar. Bodo amat, kesel!
Waktu tepat menunjukkan pukul 18.30 ketika kita sampai di sekitaran Monumen Nasional. Kita sholat Maghrib bergantian. Sialnya, hujan turun deraaaaaaaaaaaaas sekali malam itu. Berdua terjebak di musholla kecil tempat peristirahatan wisatawan. Aku tahu kamu lelah sekali, dan kebingungan. Sama, aku sangat bingung waktu itu. Tapi kita tertawa dan menghabiskan waktu mengelilingi YouTube, kamu bercerita mengenai masa-masa perkuliahan yang tiba-tiba kamu ingat.
Pukul 20.30
Hujan baru berhenti, itupun tidak sepenuhnya. Kita memutuskan untuk berjalan di bawah satu payung kecil milikku, menerobos gerimis-gerimis kecil di dinginnya Kota Jakarta. Sesekali kita berebutan, dan seperti biasa aku merasa bangga ketika celetukanku berhasil membuatmu tertawa. Monas terbilang tidak terlalu sepi dan tidak terlalu ramai malam itu, mengingat hujan yang sangat besar.
Haaaaa. Aku senang sekali waktu kita akhirnya bisa sampai di puncak Monas. Menikmati hening dan menusuknya udara malam hari itu. Katamu, biasanya, tempat ini penuh dan ngantrinya bikin gila. Tapi mungkin semesta mengerti kita butuh menyelesaikan hari ini dengan sempurna. Rasanya lebih dari sempurna.
------
Mungkin apa yang kita miliki memang jauh dari kata lengkap atau baik-baik saja, tapi aku akui, waktu yang kuhabiskan denganmu teramat menyenangkan. Terlalu banyak hal-hal yang pertama kali kulakukan, tempat-tempat yang pertama kali kudatangi, dan memori-memori yang kusayangi.
Terima kasih banyak Rahadian Bahri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar