7.11.15

Satu minggu yang lalu.

Aku tidak pernah suka menyombongkan diri,
pun aku bukan orang congkak yang hobi menggembar-gemborkan satu dan lain hal.
Tapi kali ini berbeda.
Aku ingin bercerita, sekalian pamer saja,
tentang ceritaku satu minggu yang lalu.
Yang kuhabiskan bersama ibu, kakak, tante, dan kamu.
Kamu-ku.

Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa didefinisikan, sebab aku belum pernah merasakannya sebelumnya.
semuanya.
Semua bagiannya.

aku yakin kamupun tidak akan tahu apa namanya
perasaan yang tiba ketika melihat pasanganmu tertawa-tawa dengan kakakmu.

Percayalah, itu benar-benar sebuah perasaan yang baru.

Sekarang aku mau bercerita tentang malam mingguku.
Di atas kereta yang bergerak searah, yang kaca-kacanya memantulkan cahaya dari lampu-lampu kota Kuala Lumpur.
Kita berdiri saling mengaitkan tangan, menertawakan hal-hal lucu yang tidak ada di negeri kita berasal.

Kala itu hujan gerimis, awalnya. kita memasuki sebuah pusat perbelanjaan.
dan masih saling bergandeng tangan.
Aku suka waktu kamu mengajakku memasuki sebuah galeri lukisan di sana
Kita sok tahu
tapi tak apa, karena kamu bersamaku.

Lalu dua jam pun berlalu,
ah,
betapa waktu cepat melaju, kala kuhabiskan denganmu.

Kita duduk di atas kereta yang terus melaju
sambil sedikit kebasahan, kurebahkan kepalaku di bahumu.
Aku senang, kamu menerima lagu kesukaanku waktu itu.

St. Patrick's Day-nya  Mr. Mayerku.
Kamu yang terlelap sebentar, dan aku yang tersenyum memandangimu.

Ku tutup hari itu sambil terus tersenyum, dan tak melepaskan genggamanku darimu.
dan kucium pipi kananmu yang lucu.

Aku sangat suka kamu
aku
dan Kuala Lumpur milik kita.

10.10.15

Ugh.

Ah, hi.
I've just finished reading Critical Eleven by my one and only favorite author, Ika Natassa.
To be honest, the book is really full of angst and hatred. Even halfway through of it and more.

My favorite is still Antologi Rasa, though.
Ika Natassa's writing taught me that every single relationship has their own disguised problem nobody knows.

I remembered a phrase from Critical Eleven, "be careful what you wish for, for you don't know what you're really wishing." We are all, at times, wish to have a happy go lucky relationship like those people you follow on instagram. Wishing to have a relationship as cute and as easy as they seem to have.
But what do we know?
What do we undertand?
We only look at the surface.

Saya, sama terlukanya seperti Keara, ketika Harris melakukan hal yang membuat semua kecewa, ketika sedang menghabiskan waktu berdua dengan Keara di Singapura.

Saya, sama terlukanya seperti Anya, ketika Ale mengatakan rentetan kata yang menghunus dada ketika mereka sama kehilangan Aidan.

Tapi Tuhan, i don't have the same courage as K had, or the same dissapointment as Anya had.

Saya tidak sekeras K yang begitu saja menganggap Harris musnah bagai kapur barus yang mengendap di sudut lemari.

Bukan juga Anya yang berpendirian kuat mendiamkan Ale beratus-ratus hari.

Dan kamu-pun bukan Harris ataupun Ale, yang rela memperjuangkanku habis-habisan seperti keduanya memperjuangkan wanita-wanita itu.

Mungkin aku hanya butuh waktu, sama seperti K dan Anya.

Aku butuh waktu untuk mencerna menyembuhkan luka yang walaupun sudah seminggu berlalu,
Darahnya masih terus menetes.
Masih basah.
Mungkin satu,
Dua,
Tiga,
Atau delapan bulan sekalian.
Sayang, kamu bukan Aldebaran.

Aku ingin sekali menghapuskan ingatan biadab itu.
Tidak seperti Anya yang ingin memindahkan Ale-nya ke Hypocampus--aku ingin ingatan itu dihapus dan mampus saja.

Aku benar-benar membutuhkan jasa Lacuna Inc. di dunia nyata.

25.9.15

Terkadang, saya merasa kemarahan dan kekecewaan adalah dua bayi kembar
yang berteriakan menangis karena kehausan,
atau entah karena mencari perhatian.
Jika keduanya dimuntahkan, sama-sama memekakkan.
Memusingkan.

Dan kesedihan adalah rasa kelaparan dalam perut anak-anak terlantar di pinggir jalan.
Yang menggerogotimu dari dalam secara perlahan.
Sama, ia meronta, meminta diperhatikan.
Tangisi sajalah, paling hanya membengkakkan.
Walau sama memusingkan.

Kebahagiaan adalah rerintik hujan yang muncul perlahan lalu deras kemudian.
sampai akhirnya kamu memutuskan membuka payung dan memilih pulang.


15.9.15

what's going on?

A non-existent conversation i've just had in my head.


"Hello sunshine, or what's your name today? Well, you look so graceful, but I'm not faithful..
Do you really want to be with me?"
- I wasn't sunshine at all.

"Hello summer, or should I say goodbye? Well, it's been so long but I'm still thinking..
If its worth another try?"
- He...llo? It was really worth it, I wished it lasted longer.

"Well I've got a lot to talk about if you still want to listen, or if you even care."
- You were always a talkative you. I would've listened to every word you said, believe me, I cared.

"I'm just trying to find my place in this world and I know, it's not so right to feel this way about a girl."
- Me too. Our axis aligned somehow. What was so wrong about it?

"But if you stay, or if you go, I'm right there with you, but you know that I'm looking for more than a pretty smile.. and, if I'm lucky, you can stay for a while. But if you stay or if you go, I'm just hanging on again."
- :)

"Hello stranger, we haven't had a past, but now I learn so much; time's gone by so fast."
- Did you realize that time expands everytime we're together? I love spending my hours with you.

"I love to say that I'm so glad I found my place in this world, and it's alright to feel this way about a girl."
- me too.

"Now if you stay or if you go, I'm just hanging on again."

so take it easy, just sleep.


10.9.15

"What is bad for your heart is good for your art."
Jika susunan kata diatas adalah berhala, saya penyembah paling setianya.

entah, saya memang seperti ini.
baru produktif berkarya malah ketika sedang terluka.

mengerti, kan, kenapa dinamakan "happy ending"?
Bukan, bukan karena memang sudah ending.
Penulisnya gatau, apa yang harus dituliskan begitu muara suatu cerita sudah terhenti di titik bahagia.

Bahagia bukan berarti stagnansi, hanya saja, ritme yang semenjak dulu dibangun, sudah jadi lebih teratur.
Ritme yang fluktuasinya seperti detak jantung atlet yang sehabis lari, berganti menjadi detak jantung orang yang hampir mati.

Bahagia itu menyenangkan, dan tentunya menenangkan.
Hidup bagai berjalan di atas garis lurus yang langkahnya tegap dan pasti, tidak takut tergoyah angin.

Dan saya akui, saya bahagia.
Jika kamu merupakan salah satu orang terdekat saya, yang sering saya rutuki ketika kesal karena semalam beradu mulut dengannya,
percayalah,
saya tidak pernah sepenuhnya emosi kepadanya.
Saya tidak mau menjadi bodoh dan menyesal nantinya.

Saya tidak tahu apakah pada akhirnya, dia satu-satunya,
tetapi, untuk saat ini, saya hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya.