24.1.13

--1.

Kita itu majas hiperbola.
Hanya tentang aku dan kamu yang dilebih-lebihkan.
Tentang cintaku padamu yang berlebihan.
Dan kebohonganmu yang tak bosan kau labuhkan.

Kita adalah sepasang anti-klimaks.
Berawal, namun tidak berujung.
Aku tidak menemukan jalan keluar,
Kamu melompat, berlari menghindar.
Aku terdiam
nanar.

Katamu jatuh cinta itu sederhana,
Nyatanya kamu yang merumitkan.

Jatuh cinta bukan sekedar berkata,
berbicara.
Apakah masih bisa disebut cinta,
jika kau bahkan terdiam membisu
tak dapat bicara?

I'm a sinner.

 Hi, a.

Walk your path, don't turn your back.
Even though you falll
You'll never fall apart.
If you need someone to help you stand,
I'll help you stand.
I'll be your back,
but don't turn around.

just walk your path,
don't turn your back. 

10.10.12


Let's all agreed on one thing;
time flies when you're happy living it.
 

2.10.12

You know, my paper heart
The one I filled with pencil marks,
I think i might've gone and inked you in.

I haven't seen any wrongs this long
Well maybe forever.
I don't know if this is right
But if it's wrong
I'd prefer to be wrong always.

3.8.12

A blessed 1st of July

gaaaah asdjhaueidjdnaskal.

Met the love of my life, emed.




And this is what i call faith.
A week before this gig i was crying over my night because of the rejection my father giving for i asked us to go to ttatw's gig in bentara budaya.

3 days ahead my father told me we'll go to Bandung in friday, and go back in Sunday.
For the god's sake I was saking and barely breath
As the trees and the wild will have a gig in bandung in sunday!
I love you my dear god.

The worst part was that they were meant to play 6 songs, but someone i didn't know (who am i kidding) told remedy they have to stop playing, maybe because they were too loud?
but the fact that remedy accepted the starwars brac i gave him, and i took photos with him, and he signed my polaroid photo, and he commented on it, and and and and......
I'm overwhelmed. He even twitpicted the bracelet i gave him!



Cheerio!





P.S: I've just pledged in http://www.togather.asia/projects/113/the_trees__the_wild__european_tour_2012! they're having some short tour in Europe this late September! Go Pledge and help them! It's 5 days to go! 
So proud to be a part of them :)
the last one!
cheers cheers cheers fucking cheers.

29.7.12

Masih lama?

Sally masih memandang keluar jendela, aku masih tak henti menatapnya.
Jutaan kali aku mencoba mencari makna dalam matanya, namun tak ada gunanya.

Sally masih tersenyum dibalik mata kelabunya, aku masih tak henti mencernanya.
"Kegetiran itu tak bermakna jika kita menikmatinya, mari, kita nikmati bersama-sama." Kata Sally lirih.

Sally masih terduduk sendiri. Menyembunyikan diri dibalik jendela renta kereta ini, dibalik decit roda yang tidak mengisi keheningannya.

Sally, tidak ingat waktu dulu, betapa ia merasa bodoh tidak percaya akan Tuhan.
Sally, tidak ingat waktu dulu, betapa ia merasa bahagia tumbuh dalam kesederhanaan.
Sally, tidak ingat waktu dulu, betapa indahnya kebersamaan yang kita tinggali bersama, tanpa pernah bertanya.

"Hei, aku Nathan" kataku pelan. "Boleh, aku duduk disini?"
Sally hanya mengangguk pelan.
"Hei, siapa namamu?"
"Sally." Katamu sambil sedikit tersenyum, lalu melanjutkan renunganmu yang kuputus barusan.

Ah, senyuman itu lagi. Aku masih jatuh cinta.

"Hei, kereta ini, akan membawa kita kemana?" Aku menatap kedalam matamu, tak ada sebersit kebingungan ataupun keraguan. Kau bertanya tanpa sepenuhnya membutuhkan jawaban.

"Kau lupa?"

"Apa?" Kata Sally sambil menutup mata. Mencoba menjauhkan diri dari yang tidak mau ia kembali pikirkan.

Payah. Tidak. Memang tidak ada yang tersisa darinya, hanya tongkang memoar luka.
Yang berarti, bukan apa-apa.

"Tidak apa-apa...." Kataku nanar.


Ah, sudahlah.  Asalkan aku bersama Sally.
Perjalanan menuju surga ini, tidak akan lama.




*#CerpenPeterpan Sally Sendiri.

Saksi Bisu Celoteh Air Matamu

Disini, ditempat ini. Tak dengarkah kamu? Masa lalu yang mengamuk dalam badai rindu.
Ah, masa lalu. Sepertinya aku mulai lupa, itu bukan kesukaanmu.
Dulu kita menghabiskan banyak tawa disini. Sungguh, jika mampu aku tak ingin lagi mengingatnya.

Sayapku terbuat dari rindu,
Semakin kuat ia detik demi detik.

Kala itu hujan mengamuk diluar sana. Kau hanya tertawa saat kubisikkan sebait puisi payah hasil spontanitasku kala itu.

Langkahku menopang demi namamu,
Yang menopang disetiap gerakan.


Aku masih belum bisa sepenuhnya menerka air mukamu. Kau memejamkan mata, mulai menikmati suara deras hujan yang masih belum menunjukkan kapan ia berhenti. Kau bilang, untaian bait dalam puisiku dan hujan, adalah sebuah kolerasi kesempurnaan ciptaan Tuhan.

Nafasku terhela akan doa;
Dimana namamu tersimpan disetiap helanya.


Kau masih menafaskan hela berat, aku tak yakin untuk berapa lama lagi. Selang-selang infusmu itu hanya saksi bisu, yang membawa cairan-cairan berisi harapan palsu. Disampingmu aku terdiam kaku. Ah, biar. Aku sudah terbiasa. Satu senyummu dan semua kekakuan akan sirna.

Cintaku cinta karena kamu,
Sebuah pernyataan tanpa pertanyaan.


"Sungguh, aku dalam sebuah keraguan." Katamu pelan.

Kita masih menerbangkan satu sama lain
Berpijak demi satu sama lain.


Kau tersenyum. "Pe....Lang...i", katamu lesu. Namun kau kembali terpejam, melumat senyuman itu kembali. "Senyummu itu kiriman Tuhan. Hujan selesai masih lama. Pelangi itu hanya sebuah kebohongan, kau tahu.", aku tersenyum, sarkastik.

Kitapun masih menafaskan satu sama lain
Mengapa tidak mencintai satu sama lain?


Aku terhenyak, kau terbatuk sangat keras. "Sebegitu besarkah keraguan yang tumbuh menggerogoti dirimu?" Kataku tajam. Kau terbatuk sekali lagi. Matamu masih terpejam, tak dapat berbicara. Air mata satu-satunya perantara.

Aku bodoh. Disaat kau terbangun dari tidur panjang
Yang bahkan hanya membawamu dalam kelelahan yang berkepanjangan, disaat seperti itu,
yang kutuntut darimu malah rindu. Tak pantas, memang. Apalagi yang kau tunggu?
Mungkin kau terhenyak, semua yang kau punya, perlahan jauh meninggalkanmu.

Aku bodoh. Mengikuti kemauanmu, merangkai semua yang dekat dalam khayalanmu, khayalanku. Mendekatkan apa yang sesungguhnya tak terjangkau.

Kita bodoh. Masih mengharapkan keajaiban Tuhan datang membungkus khayalan yang telah kita usahakan. Kuusahakan.

Kau bodoh. Meninggalkan mimpi kita tetap mimpi. Khayalan hanya sebuah khayalan basi yang hanya pantas ditertawakan. Kaupun.
Apa masih pantas, aku menyebutmu kamu, jika pada selang infus saja kau seperti dibelenggu?
Apa masih pantas, aku memperjuangkan mimpi yang kau tinggalkan, jika dengan hanya memilikiku saja kau tidak mau?

Kau lupa dan tidak pernah sadar, Aku keajaiban yang datang hadir di pundakmu, saat kau terhenyak dan saat kau dibangunkan dari sebuah keterpaksaan.

Aku sadar, ini hanya sebuah jalan menuju dimensi masa depan. Pada suatu hari nanti, ini akan menjadi masa lalumu yang kelam, dengan menyangkut aku didalamnya. Aku tak mau kau, di masa depanmu nanti, menertawakan aku yang menyedihkan ini. Terbujur disampingmu, seperti aku yang tak bernyawa.

Tidurlah tidur, puaskanlah tidurmu. Hingga saat kau terbangun nanti, semua sudah tinggalkanmu, kau terbangun di alam mimpi.

Tidurlah yang nyenyak.

Aku mengawasimu dari bawah sini.

*#CerpenPeterpan. Peterpan-Tertinggalkan Waktu