30.7.15


"I never make a good liar. All people know that. 
I never found any good listeners than a blank of paper and a healer than the warmth of sunrise. 
Yes, it sounds too lonely. But I think that is who I really am.
Solitary is the best word to describe. As dry and windy as my elementary school field when all kids went home earlier. And all I can do is take a deep breath with a blank stare.
I want to go somewhere far alone, making peace with all the feelings that have been growing quite long. Say some deep wishes and prayers to those loved fellows, then close my eyes, and take a deep breath.
There is a phase that I think everybody will face. The time when old photos are the things that you seek for. When the weather, the smell, the feeling of the moments captured in the pictures easily come into the nerves of your body. When your head is like a busy metropolitan city that you can’t get rid of. And when you feel that you just want to be with nobody and leave all of your responsibilities behind."

2.7.15



"...you're: my favorite December.
and i'm January, but we're on the same calendar."

Hai Lola,
baikkah kabarmu?
Tidakkah kau rindu keberadaanku?
Saat kita masih menertawakan kesamaan,
bukan meratapi perpisahan.

Lola,
katamu semua karena ini rahasia kita.

Lola, Lola.
Kau masih saja senang mengumbar janji yang belum pasti.
Seperti saat ini aku terdiam menunggu kabar darimu,
kau bilang iya, nanti, pasti aku beri tahu.

Tahukah kamu, Lola, terkadang aku berpikir
kita adalah sejiwa yang terbagi dalam dua raga.
Begitu banyak kesamaan yang tak disengaja.
Begitu banyak persamaan yang bahkan kita tak menyadari sebelumnya.

Kau gemar mempermaikanku rupanya, Lola.
Aku selalu mengalah dan memilih percaya.

Lola yang tidak suka beradaptasi,
Lola tidak suka memaksakan diri.

Lola,
Kita sama-sama suka hujan,
pun sama tidak suka kehujanan.
Hujan-pun yang mempertemukan kita bukan?

Lola,
Kita sama-sama gila akan merdu elegi, suara waloni
ataupun lengking indah vokal utami.
kau rela menghabiskan sepenuh hari, mencari-cari nada dan kunci.

Lola,
Kita sama-sama tidak suka sepatu putih.
maupun merdu ode ramondo.

Jaga dirimu, Lola.
Jaga selalu.

Sampai aku yang bisa menjaganya untukmu.

Mungkin di pertemuan selanjutnya

Mungkin dengan perantara doa

Mungkin dalam wujud selimut yang kau peluk saat kau nyaris mati beku, seperti waktu itu.

Mungkin tidak sekarang atau nanti

tetapi pasti,

Lola.

5.6.15

Pengar kepalaku
Terbangun dan memandang ke sekeliling kamar.
Mencoba mencari jejakmu yang kupikir tadi malam singgah sebentar.
Aku merasa sudah tidak perlu menengok keluar;
terlalu hingar,
Macam di pasar.

Aku bukan seperti wanita-wanitamu yang mencintai bingar.
Kupikir aku lebih cocok disandingkan dengan kesunyian, dengan sedikit petikan gitar.

Aku pernah mencoba menatap ke dalam mataku sendiri.
Nanar.
Bukan karena kosong,
tapi karena kamu masih berada disana.

Dan hanya ada disana.

2.6.15

Dan aku jatuh cinta,
pada setiap detik yang telah kita habiskan berdua.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap nada yang pernah kita nyanyikan dibawah hujan.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap kata yang kau labuhkan kedalam jiwa, menghangatkanku disaat dunia sedang gila.
Dan aku jatuh cinta,
pada setiap tawa yang lepas dan mengukung bebas, membuat aku terhempas.
Dan aku jatuh cinta.

aku ingin menulis
berbaris-baris
tak jelas diiringi tawa atau tangis

aku ingin sampai
tapi tak kunjung usai
semua terasa hina, sangsai

aku ingin lari
kesana kemari
ingin selamanya, tak ingin sembari


18.5.15

Foxes, Geese, and Black Metal.




Sore itu pukul tiga.
Kamu berlari memasuki warung tempatku terduduk sudah cukup lama.
Kau berbincang dengan teman yang menemaniku saat itu.
Aku hanya mengulum senyum dan langsung memalingkan wajah.

Tak begitu spesial.
Kamu mengenakan celana jeans biru tua,
Warna sepatu yang senada,
dengan kemeja kemerahan.
Jam tanganmu hitam, dengan banyak tali melingkar dibelakangnya.

Duniaku terhenti ketika kamu tertawa.

Kamu jauh lebih tinggi daripadaku. Tubuhmu tegap dan suaramu ramah, lucu.

Dibawah derasnya hujan, kita berbincang tentang nama-nama yang banyak orang tidak kenali.
Aku senang kamu menikmati apa yang kunikmati.

20.4.15

What Ifs are the saddest.

How about a cup of coffee, and small talks with light laughs in a faraway coffee shop?
I'm not a fan of americano, but i'd give it up for an espresso.

How about a pint of alcohol, and weird discussions, about god and if it's true, about universe and if it's parallel, in a small bar with a deep scent of cigarettes?
It's forbidden for me to consume alcohol but darling, you're the one that's so intoxicating.

How about a mug of hot tea, or if you love hot chocolate better, let's have it for two,
and deep talks about our hearts, with long thoughts, and silence inbetween?
Actually it's never silence, we're just too in love with the sound of the raindrops.

How about a botttle of mineral water, in each hand.
taking long walks along the pavement. with our eyes looking straight ahead, but our mind tied with each other's?
It could be a long and winding road, but you'll be the spark that always lit me.

How about me chewing snickers and you smoking your cigarettes, laying on top of highest highland, watching the moon hooking up with the stars?
We'd catch a cold together, and i'll find it cute.

How about as long as we could, not forever?