26.7.18

day 20. A self-made heart break.


Day 20. 
I guess. 
we talked last night. 
for the first time. 
nah, i talked to you last night. weird it wasn't really the best feeling. maybe it's because i saw it coming?

anyway, i haven't got the chance to say.. thank you for existing?
because your existence alone could make me happy.
I just wish someday you got the chance to know it. 
That you made someone else happy.
This is weird. too weird. I should be doing my deadlines instead of mumbling nonsense words like this... you probably won't ever find out anyway. about this. about my feelings.

I'm a flawed human being, with worries and a non-stop working brain. I can't stay self-less. I'm not what i was back in senior high school when being a secret admirer was as easy as having an afternoon nap.

I like you. I really like every little thing about you. 
I really hope someday you'd notice,
I really hope someday you'll find out about this.

Dear God, just this once
will you please give us chance?

19.7.18

41.

Aku tidak pandai menyimpan rahasia,
apalagi tentang perasaanku padamu yang seharusnya tak diketahui oleh sesiapa.
Tapi Tuhan tahu. Aku yang menyebut-nyebut namamu dalam doa. Lagipula aku tak berdaya, Ia maha tahu segalanya.

Angin tahu, aku yang membisikkan tentangmu padanya. Lagipula ia hanya terasa, tak bisa tersentuh apalagi berbicara. Ia hanya pendengar yang bijaksana.

Langit tahu. Aku yang mendeskripsikan keindahanmu padanya. Lagipula, langit hanya diam dan melihatku saja, ia menyambut ceritaku dengan senyum lembut dan tatapan yang menyenangkan.

Matahari suka mencuri dengar. Kupikir tidak apa, kehangatannya menenangkan. Tanpanya, hari-harimu kelabu... aku tidak ingin itu.

Bulan pun minta diberitakan. 
Kupikir tidak apa, ia bisa mencerahkan gelapku yang tidak terpecahkan.
Katanya, memang jatuh cinta padamu itu gaduh bagai gemuruh,
tidak bisa diam-diam.

7.7.18

Too many lessons learned in such short notice


ternyata emang bener, kalo lamanya waktu gaada hubungannya sama seberapa banyak memori yang terbentuk, seberapa dalam perasaan yang nyangkut, seberapa jauh perjalanan yang dilalui.
sama orang-orang ini, gue menemukan banyak hal baru yang belum pernah gue rasa dan gue lalui sebelumnya. Call me names, but this is my first time and i'm not regretting even a second of it.
Kayak, dikasih hadiah sama Tuhan. Bisa bantu-bantu di acara yang tema-nya memang hal yang gue senangi. Hadiahnya masih berbonus-bonus pula, dikasih partner yang sesabar mutiara dan semenyenangkan Azis.

Rasanya masih surreal. Dan gak pengen selesai. Kenapa juga harus sebentar banget sih.. gue masih pengen ngerasain ngantuk-ngantukkan di kereta menuju Sudirman--terus seketika ngantuknya ilang pas udah kaki udah nginjek menara mandiri. Rasanya masih pengen jadi tiba-tiba sok inggris kalo kedatengan pembicara bule, hahahaha. Masih pengen curhat segala macemnya ke muti, masih pengen sharing insights sama CEO ter-humble sepanjang masa, azis. He.

Lagian susah sih gue dilahirin picky gini, mau volunteeran aja harus nyari yang sesuai interest gue dulu. lol. Tapi ya buktinya, perasaan gue masih kebawa sampe sekarang. sampe detik ini. Kan semua yang dikerjain secara ikhlas gabakal kerasa capeknya, ya kan?

Anyway, terima kasih buat eben dan irfan yang menjadi dua orang pertama yang gue kenal di TIA!

dan terima kasih Galang. Rasanya terakhir kali gue ngerasa suka-sukaan lucu gitu pas SMP deh, hehehehe. Kapan lagi cuma dimintain booklet doang gue naksirnya bisa sampe kebawa mimpi.

Semoga masih bisa ketemu banyak wajah yang sama di TIA Oktober nanti. sampai jumpa teman-teman.

22.5.18

Copeland, Coffee, and suddenly i miss you.


accidentally stumbled on  one of your favorite acoustic musician, Copeland.
still remember how happy you were to finally see them again, live in Bandung, few years ago
thought you wouldn't talk about it
but we found a way to keep each other
talking.

like how you always take a shower before going to sleep
no matter how late it is already.
like how you almost always
avoid eye contacts with people
but not me.

after everything, i'm still caught up in whatifs.
what if we worked out.

20.5.18


in many mornings, since February. your name is the first to popped up on my phone screen. and in many nights also, the talks about everything we like in common would likely accompany me to a good night sleep.

in many afternoons, i spent my time daydreaming about what's happening. About the intention. but in many afternoons also, i stopped myself from expecting.

in many evenings, we spent the day talking and watching our favorite movie. in many evenings also, i felt sad that we talk about so many things--but not talk about deeper things. 

in one particular midnight. we spent the weekend going to someplace afar. looking for our favorite books about dying superheroes. you know. that one particular midnight where the day seems like it refuses to end itself.

in one particular day, though, i played with your cats. watching your favorite episodes. met your mom. eating while laughing in your living room.

in the passing time, since i met you. i felt the vast emptiness inside me keep on growing. I know you but i don't know you.

20.4.18

Thursday, 19/4/18.


17.00
Now we're on the bed in your room,
and i'm about to fill her shoes
but you say no, you say no.
Did she take care of you?
or could i easily fill her shoes?
you say no, you say no.

18.30
sometimes silent things could scream the saddest truth, ain't it right.
like the king sized bed for two, in your mother's bedroom.
It was built for two. 
longing for two pair of eyes that gazed into each other deeply.
longing for the warmth of two lovers holding one and another,
but what i saw, in your mother's bedroom,
was a cold king sized bed meant for two.
your mother probably slept on the left side only.

16.00
the picture of you and your little brother, 
hanging on the upper side of the wall on your bedroom.
how it screams to me, 
was how it scares your mother when you're not around
and she's lonely, by her own.

19.00
we're broken
we're all broken
on our own.
the silence is deafening
i wish you could just talk to me about anything.
about how hurt your feeling was
when your world crumbled on your feet
and you're responsible for holding it together.

16.30
We're just inches away
and i smelled exactly just like you.
but why does everything feel so far away?
you're physically here, all here
but i know something isn't right
everything just isn't right.

17.4.18

salam perpisahan untuk gilang gibranthama saman.

 
buka bersama Squaregrapher, 2015.


Halo, Gilang, 
mungkin ini akan jadi terakhir kalinya aku menulis tentang dan untukmu. Mungkin.
Rasanya, melihat postinganmu minggu malam kemarin, benar-benar.... tidak bisa dideskripsikan. Kaget, senang, sedih, bener-bener bingung harus ngungkapinnya gimana. Aku yang biasanya banyak bicara, seketika benar-benar gatau harus ngejelasinnya gimana.

Kamu, akhirnya berani melangkah, jauh lebih jauh, jauh lebih tinggi, dan tanpa ragu-ragu. Mungkin untuk itu aku harus bangga, mungkin. 
Kamu yang dulu sudah barang tentu banyak berubah--ya kan?
Beberapa minggu ke belakang ini aku sering tiba-tiba terpikir tentangmu, 
meski sekelebat. Bukan rindu, aku pun masih tidak tahu mendeskripsikannya bagaimana. Hanya sedikit menginginkan waktu dapat diputar kembali, saat duniaku sesederhana menghabiskan malam minggu bersamamu menikmati kemacetan ibukota. Atau menyesap dua gelas kopi di kafe kesukaanmu, di tengah hiruk pikuknya Jakarta Selatan. Atau menemanimu meeting dengan rekan-rekan lamamu. Atau malam-malam yang dihabiskan menonton film di ruang tamu rumahku.

Gilang, aku pernah mencintaimu melebihi matahari. 
Menyayangimu melampaui sinar-sinarnya kepada bumi. 
Kita pernah saling berjanji dan mempercayai, 
setiap hari, di ujung malam, selalu ada satu sama lain yang menanti. 
Karena itu pula kita bertahan. 
Karena itu pula kita berjuang. 
Walaupun pada akhirnya kamu menyerah, 
dan kita sama-sama kalah.

Gilang, aku selalu tersenyum ketika ingat kamu menganggap aku salah satu manusia paling berpengaruh dalam hidupmu. Karena aku tidak bertepuk sebelah tangan. Kamu akan tetap jadi satu-satunya nama yang akan kuterimakasihi jika suatu saat nanti aku mampu berjabat tangan dengan Elon Musk. Kamu akan menjadi satu-satunya nama yang kuterimakasihi jika suatu saat nanti aku menyandang posisi CEO di perusahaan milikku sendiri.

Gilang, ini akan konyol.. tetapi terima kasih pernah mau menjadi Google, Wikipedia, Ask.FM, Reddit, dan Pitchfork pribadiku.

-------
 
Aku tidak tahu harus merasa apa, kecuali mungkin mencoba bahagia. Kamu pemberhentian paling penuh pelajaran, kita perasaan yang paling aku syukuri pernah kurasakan. Kamu manusia yang mampu mengubahku sampai dasar yang bahkan aku sendiri tidak mampu menjangkaunya. Kamu, seseorang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Terlalu banyak yang kulalui bersamamu.

pusat pariwisata Kota Kuala Lumpur, akhir 2015.
Malam di Kuala Lumpur, kamu yang tertidur di pundakku saat kita berada di sebuah kereta entah menuju mana. dan John Mayer bernyanyi di telinga kita.


Siang di Universiti Kebangsaan Malaysia. Makan siang bersama, keluargaku, dan keluargamu.

you will be my most favorite BBA ever.

Sore di kantor Gojek. Aku yang menjadi pusat perhatian, dan kamu yang menjadi bahan olok-olokan.
Dini hari, aku di kamarku dan kamu di mobilmu. Menangis. Aku yang menenangkan, dan kamu yang kehabisan kesabaran.

Sky Avenue 2015.
Sky Avenue, kamu yang kupaksa, dan alumni-alumni SMAmu yang banyak kau temui.
Atau premier Star Wars bersama teman-teman dekatmu.

Ulang tahunmu yang ke-22. Daitokyo Sakaba. Aku diantara teman-temanmu.
 
ini untukmu yang menangis ketika tahu ada aku di hari ulang tahunmu. Untukmu yang tidak pernah mendapat kejutan sepanjang seumur hidupmu.

-------------------

Jika saja waktu itu aku tidak bertanya tentangmu perihal semesta, dan kamu tidak jatuh pada ceritaku tentang apa saja. Kamu yang terburu-buru, dan aku yang naif. Anak SMA, dan seorang pekerja kantoran. 5 tahun. Tapi rasanya apapun denganmu terasa baik-baik saja.

makasih ya lang udah bikin aku jadi orang yang kayak gini, 
bener-bener nemuin dunia baru. Bener-bener jadi tau ini itu, jadi mau belajar lebih jauh, jadi pribadi yang lebih well-planned, bahkan aku jadi tau apa yang aku mau lakuin sebelum aku mati. Makasih udah ngenalin aku ke dunia start-up, semua cerita kamu dari 0, dari kamu resign perusahaan orang russia di malaysia, dari kamu baru join gojek nyariin tukang pijet sampe ke cgk jam 1 pagi, sampe jadi manager sampe jadi head sampe resign sampe akhirnya ngebangun perusahaan sendiri. Tunggu aku ngelakuin hal yang sama, ya? 

-------------------

Kamu manusia hebat. Dan betapa beruntungnya kamu menemukan penggantiku yang jauh, jauh lebih hebat. Mungkin suatu saat nanti kita masih bisa saling menyapa satu sama lain, saat tanah yang dipijak sudah debu-debu merah. 
Di Planet Mars, kita bertetangga. Dan anak-anakmu bisa bermain dengan anak-anakku. Kita masa lalu yang mampu biasa-biasa saja. 
Kamu manusia hebat. Dan pada akhirnya berani melangkah menuju salah satu tangga tertinggi di kehidupanmu. Bertahan. 
Aku malahan sedikit skeptis, tadinya, tapi rupanya salah. Aku salah besar.

Terima kasih untuk segala pelajarannya lang. untuk sementara aku pincang.


Teruntuk Gilang Gibranthama Saman. 
Aku doakan yang terbaik, semoga kamu bahagia selalu,
bersama wanita yang kamu pilih untuk menemanimu
sampai akhir hayatmu.

terima kasih untuk waktu terbaik yang pernah kurasakan seumur hidupku.

sekali lagi,
semoga kamu bahagia selalu.

--------------

dari wanita hujan kesukaanmu.
kamu dapat salam, dari Senja dan Gema.
Katanya, jangan lupa putar Di Beranda dan Pangeran Kecil di pesta pernikahanmu nanti.