30.11.14

sepucuk surat untuknya beberapa tahun kedepan yang entah kapan.


Halo!

Masih ingatkah kamu kepadaku? Aku perempuan lugu yang kau temui, hari itu hari Minggu, 10 Agustus 2014. Aku sih, masih ingat jelas. Kamu memakai kaus hitam bergambar arctic monkeys, dengan kemeja warna maroon. Senada dengan sepatu docmartmu yang berwarna maroon juga saat itu. Sedikit eye-catching. Dan aku menggumam pelan karena itu pertama kalinya aku bertemu denganmu, tentunya kita sudah sering berinteraksi di instagram saat itu.
"alita" kataku pelan, dan kamu pun menyebutkan nama panggilanmu yang tersohor itu, dan kita berjabat tangan sebentar.

Tidak lama waktu yang dibutuhkan bagi kita untuk menjadi akrab. Ya, karena sebagian temanmu adalah sahabatku juga. Lucu ya jika dipikir-pikir... Kita bernyanyi ditengah hiruk pikuk kota, tidak memedulikan bagaimana kita di mata penduduk sekitar. Darisana pun sudah terlihat kalau kamu memang dikenal banyak orang, tetapi sulit untuk mengenal orang baru. Aku belum terlalu memedulikanmu waktu itu. Bahkan aku lupa bagaimana akhir dari pertemuan pertama kita tersebut.

Pertemuan kedua kita hanya selang 2 hari, hmm, 12 agustus ya?
Sepulang dari pertemuan pertama kita, aku diminta untuk memasukkanmu ke grup, kau ingat?
dan obrolan kitapun memanjang dari sana. Kamu mengajakku hunting, di daerah jalan baru.
Entah kenapa aku mau-mau saja waktu itu.

Kamu memakai baju olahraga waktu itu, terduduk diatas motormu yang dihiasi stiker-stiker kuning, aku menyebutnya dengan stiker motor mainstream, hahaha.
Kita saling menyapa layaknya sahabat lama. Dan aku sedikit kaget ketika kamu bilang kita hanya akan hunting berdua.

Tempatnya hanya sepetak, dengan tembok merah sebagai latarnya. Pertemuan kita pun singkat, mungkin tidak lebih dari 2 jam. Kamu mengantarkanku sampai ke depan pintu rumahku. Aku benci sekali dengan motormu, yang meninggalkan bekas lebam biru di kakiku.

Obrolan kita pun terus berlanjut, panjang sekali........ Kau ingat PidPid dan PudPud? Hahaha. Bodoh memang kita.
Aku senang berbincang bersamamu. Entah itu di dunia nyata atau hanya lewat layar kaca. Kau lucu, dungu, bodoh. Ingat, saat kita terjaga sampai pukul tiga?
Tadinya kamu sudah izin untuk tidur padaku, tapi sayang sekali gagal. Kita mengirimkan pesan suara dengan lagu-lagu kesukaan kita disana. Payung Teduh, kebanyakan.
Hah, aku sangat merindukan kala itu.

Seingatku, kita pernah kehilangan kontak. tidak begitu lama,

sampai akhirnya kita dipertemukan kembali di suatu sore.

Aku masih sangat menyukai tawamu yang konyol itu.

Dan nyatanya... apa yang kurasa ini tidak pernah selesai.




Bahkan sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar