3.11.14

"Serius banget bacanya. Biasa aja dong."
dia menyikutku. Tersenyum sambil memperhatikanku yang sedang tenggelam dalam layar handphone miliknya. Aku tertawa sambil membalas tatapannya.

Dia sahabatku. Tidak bisa dibilang sahabat lama, karena kami baru berkenalan kurang lebih 6 bulan yang lalu.
Kami sangat cocok dalam berbagai hal. Musik, karya seni, dan segala hal yang hanya kami berdua mengerti.

"Hujan turun, kantuk pun datang. Abang mau tidur duluan ya neng."
Dia selalu sukses membuatku tertawa dengan segala hal yang dilakukannya. Baik lewat platform, atau di depan mata. Lucunya, seringkali, dia sudah berpamitan untuk tidur. Tapi ternyata ia tetap menemaniku terjaga sampai 2 atau 3 jam kemudian.

Memang rumahku dan dia letaknya sangat berjauhan. Tapi ia selalu mengantarkanku sampai ke depan pintu rumahku tanpa perlu diminta. Waktu mengobrol di perjalanan adalah waktu paling menyenangkan menurutku. Bersahutan dengan kendaraan yang melintas, tertawa dengan lepas. Rasanya tidak ingin kemana-mana, ingin berdua saja.

"Mau kemana lagi ya.... Eh gue laper nih. Makan dulu yuk, yang deket-deket sini aja."
Dia selalu berpura-pura tidak mau mentraktirku. Tapi sesaat aku lupa, Dia malah mengingatkanku dan mengajakku makan. Heran, tapi tak apa. Aku suka.

Dia sosok pribadi yang bebas. Berprinsip semaunya, asal Dia senang.
Dia bepergian tanpa ingat waktu, bagai tidak punya aturan. Akupun tidak berhak untuk mengaturnya. Dia sangat tidak suka jika perempuannya mengikat kebebasannya. Punya hak apa aku jika perempuannya saja sampai ia benci?

Dia tinggal di rumah besar berlantai dua. Rumah yang padahal hanya ditempati oleh dia dan adiknya. Adiknya lucu, mirip sepertinya. Hanya saja adiknya lebih gendut dan pendek.

Dulu dia sangat kurus dan berponi. Aku tertawa tidak berhenti ketika melihat dia yang masih seperti itu.

Dia suka memakai sepatu dari kulit yang tingginya melebihi mata kakinya. Dia merawat sepatu itu lebih lihai daripada merawat perempuannya.
"Ini sepatu yang bisa awet sampe lu nikah nanti. Sampe lu jadi kakek nenek dan diapake sama cucu lu juga masih bisa. Suwer."  itu yang dia katakan tentang sepatu itu padaku. Dengan wajah yang sangat serius. Dia bahkan menyuruhku untuk membeli sepatu yang sama, entah mengapa. Aku membayangkan bepergian dengan sepatu yang sama dengannya...

Terkadang ia memakai sepatu bersol berwarna hitam pekat seluruhnya. Badan, tali, sol, semua berwarna hitam. Entah kenapa aku sangat suka melihatnya.

Dia tidak pernah ragu untuk bertanya tentang hal yang tidak dia tahu kepadaku. Tentu aku senang, dan selalu menjawab semampuku.

Aku suka mobilnya yang berwarna abu-abu tua. Aku suka mesin roda duanya yang dipenuhi sticker mainstream, hahaha.

Jika sedang terjaga, kami seringkali bertukar Voice Note. Entah itu aku menceritakan cerita bodoh kepadanya, entah itu dia menyanyikan lagu sok manis untukku.

"tak terasa gelap pun jatuh, diujung malam dia malu kali ini. Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya."

Itu ketika entah apa yang sedang dia pikirkan.

Ketika dia sudah mulai putus asa menyuruhku untuk tidur, dia menyanyikanku lirik ini sambil tertawa. Aku sangat suka suara merdunya.

"Tidurlah
Malam terlalu malamTidurlahPagi terlalu pagi"


-Kepada Dia yang sangat menyukai kepala radio, dan monyet antartika.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar