17.12.14

sekelebat

"apa yang membuatmu begitu mencintainya?"

aku terdiam. lama berusaha memikirkan jawaban. mengolah kata, merangkainya satu persatu, tapi nihil. Ternyata aku telah jatuh cinta tanpa membutuhkan alasan. Aku mencintaimu dalam sebuah kerumitan yang sederhana... Mengerti? Begitu rumit. Sehingga kubiarkan ia makin merumit. Disitulah kutumbuhkan paradoksnya; ketika ia mencapai titik maksimum, hanya sebuah bongkah sederhana yang akan kau temukan. Namanya cinta.

Bisa sih, kalau kalian mau aku menjabarkan alasan-kenapa dia-dan segala tetek bengeknya. Namun bukankah akan percuma, mendefinisikan suatu perasaan yang membutakan, dimana yang aku pijak, semua beralaskan ketidakrasionalan.

Aku bisa membujuk Sapardi untuk membuatkan puisi yang indah, yang mana isinya adalah keindahan yang menjelma menjadi manusia, bernama kamu.

Aku bisa merajuk Iwan Fals untuk membuatkan lagu bernada pentatonis, dimana eleginya menyenandungkan namamu dengan manis.

Aku pernah mencoba mendefinisikan alasan-alasan ini berdasarkan jumlah bintang yang bertaburan di gelapnya malam. Aku sangat lihai dan lancar melafalkannya; sampai aku kehabisan bintang untuk ditunjuk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar