22.6.20

est. 2015.

"Dalam hidup, ketenangan jiwa adalah sebuah kemenangan. 
Mungkin banyak orang seperti saya ini. Hidup dan bernafas setiap hari bersama kegelisahan-kegelisahan. Berusaha menguliti setiap lapisan antara realita dan mimpi-mimpi yang berkelindan. Terkadang mereka adalah dua entitas yang menciptakan sebab dan akibat, terkadang pula mereka terasa seperti entitas kutub yang saling menolak. Atau mungkin juga tidak.
Saya selalu percaya, inilah kodratnya. Jalan yang ditempuh untuk mencapai tenang, kegelisahan-kegelisahan ini memang patut hadir dan mendapatkan ruang. Pun pertanyaan-pertanyaan yang beranak pinak di kepala, satu-satu mencari jawaban atau merelakan saja tanya yang tidak bertemu jawab sambil berdamai dengan yang lalu.
Tidak mudah. Ataukah memang saya yang tidak pernah cukup?"

17.6.20

circling the drain, counting the drops.
would it be the same as the chances we'd end up happy?
is it impossible, will it be bearable?
and it goes on
and it goes on
and it goes on.

1.5.20

Beberapa tahun yang lalu, frasa "Lembo ade" menjadi sangat familiar di telinga saya. Kalau boleh self-proclaim, nama-nama penghuni Arsitektur 2014 yang memegang kendali Ekskursi telah saya kenali dengan cukup apik. Tidak tahu apa-apa, yang jelas, Lembo Ade menjadi kata-kata yang hampir setiap hari melintas di linimasa Twitter, atau cerita di Instagram, atau mungkin seringkali tidak sengaja diceletukkan oleh Jaung saat kita sedang menjalankan ritual menonton film random bersama (walaupun Jaung bukan anak Ars juga, sih.) Yang saya tahu, kata-kata ini adalah "hadiah" yang dibawa pulang dari Ekskursi Bima, di tahun tersebut.


Sekitar satu bulan yang lalu, saya berbincang cukup banyak dengan Rakha. Pandemi ini memang aneh, bukannya memotivasi saya untuk belajar lebih banyak tentang teknologi... malah menjadikan saya haus informasi perkara Arsitektur. Dipikir-pikir lucu juga, dulu saat masih bersama Rakha, boro-boro tertarik ngomongin bangunan -- yang ada malah tertawa dengar bangunan favoritnya adalah Menara Babel. Kami bertukar referensi, dan sampai lah saya di sudut bagian Netflix yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, Grand Design.

Saya rasa, ada dua kutub ekstrem yang tercipta ketika memperhatikan pola karya arsitektur -- terpukau akan filosofinya, atau sebal dengan rasa-rasa pretensiusnya. Saya tertawa cukup lama ketika kami mendiskusikan sebuah rumah yang facade-nya tersusun oleh kaca-kaca pantul -- bagaimana kesalnya para tetangga pemilik rumah itu.

Walaupun hanya sekelibat perbincangan, saya jadi semakin sadar bahwa manusia ini isi kepalanya masih ada-ada saja. Dan saya pun terbawa menuju tulisannya mengenai Lembo Ade.

Kelapangan hati, lapang dada, kesederhanaan, penerimaan kekurangan,
dua kata itu membuat saya berpikir banyak. Pantas saja membekas lama di kepala mereka.

-----
"Lembo ade, saya masih banyak inginnya, saya masih banyak menuntutnya, saya masih banyak ekspektasinya. Lembo ade."

Rian.

I made you a playlist, few months ago.
it's filled up with songs that you like
or that reminded me of you
or the ones we used to sing on your motorcycle, in my bedroom, or anywhere we've been in.
either way, it's just one of the many ways to show you that i cherish your existence.

I never told you, about what is it in you that makes me crazy over you.

I guess it's your brown eyes, and how it's always suddenly gone when you laugh.
Or how your mind works, it's bizzare, i never found someone that thinks the way you do.
How you translate your surroundings into well-rounded but fun (most of the time, bitter) opinion

It's weird to see you look down on yourself
when all you have is unpolished perfection, buried deep within you
i wish someday you could see yourself the way i see you
that you're capable of so much more.

i like the way you're always stubborn over things.
Like if you want things to be done that way, it has to be
no matter what happens.

Most of the time, i miss how good you smell,
your scent stays with you,
that's why it's always nice, and kind of sad,
to hug you at every ends of our meetings.

maybe i'm too unworthy to receive all kinds of your perfection
i just thank you for ever being present in my life
you saved a spot in me.

12.4.20

sudah satu bulan rupanya.

12 Maret 2020.

Siang itu dibuka dengan cuaca yang berawan, cukup berangin, dan menyenangkan.
Berbeda dengan kencan-kencan sebelumnya, hari itu, aku yang menentukan perjalanan kita.

No. 1: Makan Fried Chicken Master di Blok M Plaza.
Hari itu kiosnya penuh sekali. Mungkin salah kita, tiba tepat pada jam makan siang. (yap, tentu saja dia mengolok-olokku dengan menyanyikan bait reff "Jam Makan Siang" milik Baskara. Sampai saat ini aku tidak tahu kenapa dia memiliki sentimen pribadi pada Bas). Tapi ya tidak apa-apa, toh kita jadi punya lebih banyak waktu untuk berbincang, sambil menunggu pesanan datang. Waktu itu, yang kuingat, kamu bercerita tentang bocah-bocah SMA teman bermain futsalmu, serta bapak tetangga yang menyebalkan. Ketika pesanan datang, aku tersenyum melihat wajah puasmu yang mengaminkan kelezatan potongan-potongan ayam itu. Benar, kan? Worth it! Mungkin ini akan kujadikan makanan perayaan kita berdua!

No. 2: Menonton "Mekah, I'm Coming!" Di Blok M.
Kamu bukan tipikal orang yang senang menonton film random di bioskop. Saat mengajakmu menonton film ini, aku sedikit takut kamu menolak. Aku juga baru kali ini, tertarik menonton film "receh" lokal. Kita sempat salah tempat, (ini salahku!) tapi untungnya masih bisa masuk sebelum terlambat. Kamu sempat bercerita tentang pameran mobil antik yang membuatmu tertarik di sela-sela waktu kita berlari-larian. Dan ternyata filmnya menyenangkan! aku juga rindu bersandar di bahu-mu, hehe. Lalu kita sholat Ashar di Surau Blok M yang terkenal itu, sambil menikmati sore di rooftopnya.


No. 2a: Makan Mie Aceh di Kantin Blok M yang direkomendasikan oleh Ibumu.
Semangkuk Mie Aceh tumis dan dua gelas Es Teh Tarik terenak yang pernah kucoba. Sekali lagi, entah karena memang juara pada kelasnya, atau karena dengan kamu aku mencobanya. Yang jelas, terima kasih banyak atas rekomendasinya, tante mamahnya Bahri! enak! Walaupun, setelah makan Mie Aceh ini kita sempat tersesat dengan bodohnya, lupa jalan menuju parkiran. Aku marah padamu untuk beberapa waktu, saat kamu sandung di tangga keluar. Bodo amat, kesel!

No. 3: Ngobrol di Taman Suropati dan liat-liat kaset di Jalan Surabaya

No. 4: Naik ke puncak Monas di malam hari dan menikmati Jakarta. *delayed*
Waktu tepat menunjukkan pukul 18.30 ketika kita sampai di sekitaran Monumen Nasional. Kita sholat Maghrib bergantian. Sialnya, hujan turun deraaaaaaaaaaaaas sekali malam itu. Berdua terjebak di musholla kecil tempat peristirahatan wisatawan. Aku tahu kamu lelah sekali, dan kebingungan. Sama, aku sangat bingung waktu itu. Tapi kita tertawa dan menghabiskan waktu mengelilingi YouTube, kamu bercerita mengenai masa-masa perkuliahan yang tiba-tiba kamu ingat.

Pukul 20.30
Hujan baru berhenti, itupun tidak sepenuhnya. Kita memutuskan untuk berjalan di bawah satu payung kecil milikku, menerobos gerimis-gerimis kecil di dinginnya Kota Jakarta. Sesekali kita berebutan, dan seperti biasa aku merasa bangga ketika celetukanku berhasil membuatmu tertawa. Monas terbilang tidak terlalu sepi dan tidak terlalu ramai malam itu, mengingat hujan yang sangat besar.



Haaaaa. Aku senang sekali waktu kita akhirnya bisa sampai di puncak Monas. Menikmati hening dan menusuknya udara malam hari itu. Katamu, biasanya, tempat ini penuh dan ngantrinya bikin gila. Tapi mungkin semesta mengerti kita butuh menyelesaikan hari ini dengan sempurna. Rasanya lebih dari sempurna.

------

Mungkin apa yang kita miliki memang jauh dari kata lengkap atau baik-baik saja, tapi aku akui, waktu yang kuhabiskan denganmu teramat menyenangkan. Terlalu banyak hal-hal yang pertama kali kulakukan, tempat-tempat yang pertama kali kudatangi, dan memori-memori yang kusayangi.

Terima kasih banyak Rahadian Bahri.

5.3.20

Malam itu ditutup dengan semangkuk bubur di hadapanku, dan sepiring nasi goreng di hadapanmu.
Bisa dibilang salah satu bubur terbaik seumur hidupku,
mungkin karena kepingan-kepingan udang yang diberikan banyak sekali
atau mungkin cumi-cumi
ah, mungkin karena dipesan dan dimakan di sampingmu.

Jatinegara panas sekali hari itu, rasanya menusuk kulit,
Ingin menceburkan diri ke kolam renang, kataku padamu.
Sebenarnya aku sedikit kesal padamu, yang bisa-bisanya menghembuskan rokok di hari yang super terik seperti itu. Tapi ya, sudahlah, itu pelarian milikmu. bukan urusanku.

Mungkin memang menghabiskan sore hari di taman-taman yang rindang dengan pepohonan adalah ide yang cemerlang. Aku tidak pernah mengindahkannya sampai kamu spontan mencetuskannya. Berjalan dibawah rerimbunan yang mengelilingi -- bercerita tentang abang-abangmu yang rumit dan menyebalkan, ayahmu yang sedikit masih kelabu di bayanganku, dan ibumu. Ibu yang katamu akan dengn senang hati berbicara denganku mengenai banyak hal.

"Ah ya sudah, pulang yuk, By."

10.2.20

i think to acknowledge what one really wants,
is always the right thing to do.
discovering what i really want.
it's hard, to be with someone that doesn't know what they want
it's even harder to realize i deserve better, than to settle down for less
settling down for someone so clueless

i know, i do deserve better
way way better
i deserve to be with someone that appreciates me
that sees me at my worst and not even thinking to leave even a little bit
i deserve to be with someone that wants me
wants to be with me
wants to make me happy
and wants to be happy together with me.

why is this so hard?
it shouldn't be this hard.