"Tapi Ca, gimana ya, gue ga marah. Lebih ke kecewa, bingung, sakit. Maunya juga gak gue pikirin. Tapi itu terus ngehantuin pikiran gue Ca, even kadang tergambar jelas hal-hal yang dia lakuin pas malem itu."
"Sekarang mah mau gimana lagi selain nerima kan ya, Lit?"
11.3.16
5.3.16
me- + lacur
"Bangsat." kataku sambil menahan diri untuk tidak meninju cermin di depan mataku. Aku selalu seperti ini, emosi dan marah menjadi-jadi malah ketika sedang sendiri. Klasik, mungkin jika aku terlahir dengan paras yang lebih rupawan aku sudah meraih penghargaan aktris dengan akting terbaik. Aku bisa menahan diri dan terlihat biasa-biasa saja. Bahkan dalam keadaan sakit yang luar biasa. Memang ada beberapa perantara untukku meluapkannya. Seperti dengan menulis seperti ini; atau mengadakan karaoke dadakan di dalam kamarku, walau suaraku sumbang tak merdu. Terkadang dibumbui dengan sedikit asin air mata, jarang-jarang dibumbui dengan manis tawa canda. Ada, yang mungkin kamu belum tahu. Pahit. Pahit, masa gak tahu? itu, yang letak indra perasa sensitifnya ada di belakang lidah. Namun pahitnya aku ini berbeda, jauh berbeda. Rasa pahitnya berawal dari ujung depan lidah, kemudian perlahan menjulur ke sekujur mulut. Kemudian pahitnya merangkak ke kerongkongan, dan terus terjun memenuhi tenggorokanku. Hal ini tentu tidak terjadi setiap hari. Bahkan hanya beberapa kali dalam hidupku; hitungan jari saja.
Sekarang aku akan mencoba menjelaskan analoginya. Pahit ini akan tiba-tiba muncul dalam mulutmu. Tak bisa diundang apalagi dipaksakan. Oh, atau kau mau mencoba memaksakan? Mari, siapkan dirimu untuk pementasan drama bernafaskan menciptakan pahit bersama.
Kamu terlahir menjadi anak yang tumbuh dan berkembang dengan dasar pemikiran yang negatif. Dan tertanam pada dirimu sifat pesimisme. Namun pada suatu saat, datanglah masuk seseorang ke dalam hidupmu. Mengubah segala cara pandangmu terhadap itu. Kamu mulai belajar percaya, belajar berbaik sangka, dan belajar menjadi lebih positif lengkap dengan cara-caranya. Tumbuh prasangka baik tentang orang yang mengajarimu itu, kamu percaya orang yang mengajarkan hal baik selalu adalah orang yang baik.
Menghabiskan waktu bersamanya menjadi menyenangkan dan tidak terasa tak bermakna.
Lalu, datang hari semua yang sudah kamu bangun itu runtuh, jatuh, rata dengan tanah, rata, serata-ratanya. Apa yang telah kamu coba ubah, kamu coba tanamkan, kamu coba maknai, kamu coba percayai, dihancurkan sendiri oleh orang yang sama, yang mengajarimu bagaimana caranya. Pahit, bukan.
Ketika kamu membutuhkan seseorang untuk menjadi pelepas rindu; namun orang itu tak bisa hadir karena alasan yang kamupun tidak tahu, tapi kamu mencoba berpikiran baik tentang itu. Mungkin peluh sedang membasahi wajahnya. Mungkin pedal gas sedang ditahannya karena macet yang membabi buta. Mungkin tawa sedang dilepaskannya bersamaan dengan celetuk lucu dari sanak saudaranya. Tidak, tidak pernah sama sekali aku berpikiran negatif atas ketiadaanmu. Tidak ada bayangan kamu akan melakukan hal sehina ini. Melacur seolah tak tahu konsekuensi.
Sekarang aku akan mencoba menjelaskan analoginya. Pahit ini akan tiba-tiba muncul dalam mulutmu. Tak bisa diundang apalagi dipaksakan. Oh, atau kau mau mencoba memaksakan? Mari, siapkan dirimu untuk pementasan drama bernafaskan menciptakan pahit bersama.
Kamu terlahir menjadi anak yang tumbuh dan berkembang dengan dasar pemikiran yang negatif. Dan tertanam pada dirimu sifat pesimisme. Namun pada suatu saat, datanglah masuk seseorang ke dalam hidupmu. Mengubah segala cara pandangmu terhadap itu. Kamu mulai belajar percaya, belajar berbaik sangka, dan belajar menjadi lebih positif lengkap dengan cara-caranya. Tumbuh prasangka baik tentang orang yang mengajarimu itu, kamu percaya orang yang mengajarkan hal baik selalu adalah orang yang baik.
Menghabiskan waktu bersamanya menjadi menyenangkan dan tidak terasa tak bermakna.
Lalu, datang hari semua yang sudah kamu bangun itu runtuh, jatuh, rata dengan tanah, rata, serata-ratanya. Apa yang telah kamu coba ubah, kamu coba tanamkan, kamu coba maknai, kamu coba percayai, dihancurkan sendiri oleh orang yang sama, yang mengajarimu bagaimana caranya. Pahit, bukan.
Ketika kamu membutuhkan seseorang untuk menjadi pelepas rindu; namun orang itu tak bisa hadir karena alasan yang kamupun tidak tahu, tapi kamu mencoba berpikiran baik tentang itu. Mungkin peluh sedang membasahi wajahnya. Mungkin pedal gas sedang ditahannya karena macet yang membabi buta. Mungkin tawa sedang dilepaskannya bersamaan dengan celetuk lucu dari sanak saudaranya. Tidak, tidak pernah sama sekali aku berpikiran negatif atas ketiadaanmu. Tidak ada bayangan kamu akan melakukan hal sehina ini. Melacur seolah tak tahu konsekuensi.
untuk wanita-wanita jalang itu, mati kamu membusuk di dasar neraka, bangsat.
Banyak yang berkata; lebih baik kamu kosong tapi merasa ada daripada ada tetapi merasa sebaliknya.
Mungkin lebih banyak benarnya, ketimbang salahnya.
Aku tidak mengerti, sedang berdiri dimana sekarang aku ini.
Sedang merasakan apa aku saat ini.
Tidak,tidak ada yang salah memang.
Tidak, mungkin aku yang salah.
Ini di luar kendaliku, di luar kendali siapapun.
Mungkin, saat ini, bahkan untuk mempercayai diriku sendiri akan menjadi sulit.
Semua pikiran baikku tentangmu runtuh dan rata tidak berbekas.
Tidak, sekali lagi, aku tidak menyalahkanmu. Aku tidak pernah menyalahkanmu.
Aku menyalahkan diriku sendiri yang semudah ini percaya.
Semudah ini termakan kepalsuan yang terasa nyata.
Aku bodoh, karenamu, aku sangat bodoh.
Dan mungkin masih ingin seperti itu.
Mungkin lebih banyak benarnya, ketimbang salahnya.
Aku tidak mengerti, sedang berdiri dimana sekarang aku ini.
Sedang merasakan apa aku saat ini.
Tidak,tidak ada yang salah memang.
Tidak, mungkin aku yang salah.
Ini di luar kendaliku, di luar kendali siapapun.
Mungkin, saat ini, bahkan untuk mempercayai diriku sendiri akan menjadi sulit.
Semua pikiran baikku tentangmu runtuh dan rata tidak berbekas.
Tidak, sekali lagi, aku tidak menyalahkanmu. Aku tidak pernah menyalahkanmu.
Aku menyalahkan diriku sendiri yang semudah ini percaya.
Semudah ini termakan kepalsuan yang terasa nyata.
Aku bodoh, karenamu, aku sangat bodoh.
Dan mungkin masih ingin seperti itu.
25.2.16
Mungkin memang suatu masa harus bermuara kepada akhirnya.
Tapi tidak ingatanku tentangmu.
Tentang tawa-tawa itu,
dan perbincangan singkat yang terucap dan terabaikan begitu saja.
Gurat wajahmu yang tegas namun menenangkan,
dan tipis senyummu yang memabukkan.
Aku ingat kala pertama kita bertukar tatap.
Siang hari itu, kau terduduk bersama teman-temanmu.
Sejak hari itu, aku baru meyadari satu hal
Tuhan selalu saja punya kejutan,
Ia menyelipkan keajaiban di tempat yang tak dapat aku bayangkan.
Mungkin dalam tiga, dua, atau bahkan satu tahun ke depan,
kamu akan melupakan aku dan segala tentangku.
Namaku tidak lagi menghadirkan memori di kepalamu,
tak lagi membuatmu tertawa-tertawa seperti sekarang, seperti dahulu.
Ternyata memang aku tidak pernah berhenti mengagumimu.
Tapi tidak ingatanku tentangmu.
Tentang tawa-tawa itu,
dan perbincangan singkat yang terucap dan terabaikan begitu saja.
Gurat wajahmu yang tegas namun menenangkan,
dan tipis senyummu yang memabukkan.
Aku ingat kala pertama kita bertukar tatap.
Siang hari itu, kau terduduk bersama teman-temanmu.
Sejak hari itu, aku baru meyadari satu hal
Tuhan selalu saja punya kejutan,
Ia menyelipkan keajaiban di tempat yang tak dapat aku bayangkan.
Mungkin dalam tiga, dua, atau bahkan satu tahun ke depan,
kamu akan melupakan aku dan segala tentangku.
Namaku tidak lagi menghadirkan memori di kepalamu,
tak lagi membuatmu tertawa-tertawa seperti sekarang, seperti dahulu.
Ternyata memang aku tidak pernah berhenti mengagumimu.
17.2.16
9-13/02/2016.
Lima hari tidak pernah terasa semenyenangkan itu.
Tak pernah terasa selambat--namun sehangat itu.
Selasar-selasar, yang menjadi saksi lalu lalangnya kami.
Tawa, suka, air mata, pertemuan, dan perpisahan.
Ada yang jatuh cintanya, ada pula yang pupus harapannya.
Di selasar-selasar itu kami berjalan. Berlari-larian.
Tak perlu lagi rasanya berkenalan dan saling menanyakan;
karena memang kami, berada disana karena satu tujuan.
Lalu langkah-langkah itu terdiam.
Kala itu senja datang lebih cepat dari biasanya,
dan malampun sudah tak dihiraukan oleh perisaunya.
Mungkin memang hanya di selasar-selasar itu
melukiskan kenangan terasa mudah dan menyenangkan.
Dan di Taman itu, tempat kami membumbungkan harap,
dimana milikku kembali jatuh ke tanah.
Entahlah, Tuhan, aku masih tidak mengerti.
Nasihat-nasihat dan banyaknya perbincangan, sangat disayangkan jika hanya untuk dilupakan.
Saya menikmati seisinya.
Tuhan, bantu aku.
Lima hari tidak pernah terasa semenyenangkan itu.
Tak pernah terasa selambat--namun sehangat itu.
Selasar-selasar, yang menjadi saksi lalu lalangnya kami.
Tawa, suka, air mata, pertemuan, dan perpisahan.
Ada yang jatuh cintanya, ada pula yang pupus harapannya.
Di selasar-selasar itu kami berjalan. Berlari-larian.
Tak perlu lagi rasanya berkenalan dan saling menanyakan;
karena memang kami, berada disana karena satu tujuan.
Lalu langkah-langkah itu terdiam.
Kala itu senja datang lebih cepat dari biasanya,
dan malampun sudah tak dihiraukan oleh perisaunya.
Mungkin memang hanya di selasar-selasar itu
melukiskan kenangan terasa mudah dan menyenangkan.
Dan di Taman itu, tempat kami membumbungkan harap,
dimana milikku kembali jatuh ke tanah.
Entahlah, Tuhan, aku masih tidak mengerti.
Nasihat-nasihat dan banyaknya perbincangan, sangat disayangkan jika hanya untuk dilupakan.
Saya menikmati seisinya.
Tuhan, bantu aku.
16.1.16
Aku baru saja menyadari satu hal.
3 tahun ini, berlalu cepat sekali.
Bukan, bukan cepat yang biasa-biasa saja.
Ini cepat sekali.
Bagaimana cara, satu hari terasa lama, tapi 3 tahun terlalu cepat rasanya?
Jika saja,
hanya jika,
Aku diperbolehkan mengulang masa.
Aku sudah tahu ingin bagaimana.
Mungkin rasa sesal itu sedikit ada; aku merasa kurang tertempa.
Masih manja dan begitu-begitu saja.
Kalau, kalau saja,
Waktu mengizinkanku.
Untuk menarik kembali kata-kataku,
"Aku tidak akan merindukan ini semua. Aku ingin cepat keluar saja, memulai hidup baru di dunia perkuliahanku. Masa SMA-ku payah. Kurikulumku lebih. Pengajarannya berbeda. Sistemnya apalagi."
Nyatanya, aku berdiri 3 bulan sebelum semua ini berakhir.
Dan pikiranku, bekerjasama dengan penglihatanku.
Ia memutar kembali semua yang telah aku lalui.
Dari mulai keringat yang menetes, ketakutan yang menggetarkan,
hingga tawa-tawa yang dilewatkan begitu saja
Ada, ada begitu banyak hal yang aku sesali.
Nyatanya, masa SMA-ku tidak sama sekali.
Jika, jika saja
Tuhan memperbolehkan,
Aku ingin mengulangimu lagi.
Sekali lagi.
Mencoba terjun ke salah satu organisasi yang menerima dengan tangan terbuka,
Mencoba pulih dari luka lebih cepat dari yang seharusnya,
Mencoba membumi dan jatuh cinta dengan sesama,
Jika saja. Aku menyadari hal ini, 2 tahun yang lalu.
Aku akan merindukanmu, dan ini semua.
Apa yang ditinggalkan, akan terluka, dan tak akan lagi sama.
Begitu yang selama ini terjadi, bukan?
Tak bisa dipaksakan, karena memang itulah jalan yang harus dilewati.
3 tahun ini, berlalu cepat sekali.
Bukan, bukan cepat yang biasa-biasa saja.
Ini cepat sekali.
Bagaimana cara, satu hari terasa lama, tapi 3 tahun terlalu cepat rasanya?
Jika saja,
hanya jika,
Aku diperbolehkan mengulang masa.
Aku sudah tahu ingin bagaimana.
Mungkin rasa sesal itu sedikit ada; aku merasa kurang tertempa.
Masih manja dan begitu-begitu saja.
Kalau, kalau saja,
Waktu mengizinkanku.
Untuk menarik kembali kata-kataku,
"Aku tidak akan merindukan ini semua. Aku ingin cepat keluar saja, memulai hidup baru di dunia perkuliahanku. Masa SMA-ku payah. Kurikulumku lebih. Pengajarannya berbeda. Sistemnya apalagi."
Nyatanya, aku berdiri 3 bulan sebelum semua ini berakhir.
Dan pikiranku, bekerjasama dengan penglihatanku.
Ia memutar kembali semua yang telah aku lalui.
Dari mulai keringat yang menetes, ketakutan yang menggetarkan,
hingga tawa-tawa yang dilewatkan begitu saja
Ada, ada begitu banyak hal yang aku sesali.
Nyatanya, masa SMA-ku tidak sama sekali.
Jika, jika saja
Tuhan memperbolehkan,
Aku ingin mengulangimu lagi.
Sekali lagi.
Mencoba terjun ke salah satu organisasi yang menerima dengan tangan terbuka,
Mencoba pulih dari luka lebih cepat dari yang seharusnya,
Mencoba membumi dan jatuh cinta dengan sesama,
Jika saja. Aku menyadari hal ini, 2 tahun yang lalu.
Aku akan merindukanmu, dan ini semua.
Apa yang ditinggalkan, akan terluka, dan tak akan lagi sama.
Begitu yang selama ini terjadi, bukan?
Tak bisa dipaksakan, karena memang itulah jalan yang harus dilewati.
7.11.15
Satu minggu yang lalu.
Aku tidak pernah suka menyombongkan diri,
pun aku bukan orang congkak yang hobi menggembar-gemborkan satu dan lain hal.
Tapi kali ini berbeda.
Aku ingin bercerita, sekalian pamer saja,
tentang ceritaku satu minggu yang lalu.
Yang kuhabiskan bersama ibu, kakak, tante, dan kamu.
Kamu-ku.
Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa didefinisikan, sebab aku belum pernah merasakannya sebelumnya.
semuanya.
Semua bagiannya.
aku yakin kamupun tidak akan tahu apa namanya
perasaan yang tiba ketika melihat pasanganmu tertawa-tawa dengan kakakmu.
Percayalah, itu benar-benar sebuah perasaan yang baru.
Sekarang aku mau bercerita tentang malam mingguku.
Di atas kereta yang bergerak searah, yang kaca-kacanya memantulkan cahaya dari lampu-lampu kota Kuala Lumpur.
Kita berdiri saling mengaitkan tangan, menertawakan hal-hal lucu yang tidak ada di negeri kita berasal.
Kala itu hujan gerimis, awalnya. kita memasuki sebuah pusat perbelanjaan.
dan masih saling bergandeng tangan.
Aku suka waktu kamu mengajakku memasuki sebuah galeri lukisan di sana
Kita sok tahu
tapi tak apa, karena kamu bersamaku.
Lalu dua jam pun berlalu,
ah,
betapa waktu cepat melaju, kala kuhabiskan denganmu.
Kita duduk di atas kereta yang terus melaju
sambil sedikit kebasahan, kurebahkan kepalaku di bahumu.
Aku senang, kamu menerima lagu kesukaanku waktu itu.
St. Patrick's Day-nya Mr. Mayerku.
Kamu yang terlelap sebentar, dan aku yang tersenyum memandangimu.
Ku tutup hari itu sambil terus tersenyum, dan tak melepaskan genggamanku darimu.
dan kucium pipi kananmu yang lucu.
Aku sangat suka kamu
aku
dan Kuala Lumpur milik kita.
Aku tidak pernah suka menyombongkan diri,
pun aku bukan orang congkak yang hobi menggembar-gemborkan satu dan lain hal.
Tapi kali ini berbeda.
Aku ingin bercerita, sekalian pamer saja,
tentang ceritaku satu minggu yang lalu.
Yang kuhabiskan bersama ibu, kakak, tante, dan kamu.
Kamu-ku.
Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa didefinisikan, sebab aku belum pernah merasakannya sebelumnya.
semuanya.
Semua bagiannya.
aku yakin kamupun tidak akan tahu apa namanya
perasaan yang tiba ketika melihat pasanganmu tertawa-tawa dengan kakakmu.
Percayalah, itu benar-benar sebuah perasaan yang baru.
Sekarang aku mau bercerita tentang malam mingguku.
Di atas kereta yang bergerak searah, yang kaca-kacanya memantulkan cahaya dari lampu-lampu kota Kuala Lumpur.
Kita berdiri saling mengaitkan tangan, menertawakan hal-hal lucu yang tidak ada di negeri kita berasal.
Kala itu hujan gerimis, awalnya. kita memasuki sebuah pusat perbelanjaan.
dan masih saling bergandeng tangan.
Aku suka waktu kamu mengajakku memasuki sebuah galeri lukisan di sana
Kita sok tahu
tapi tak apa, karena kamu bersamaku.
Lalu dua jam pun berlalu,
ah,
betapa waktu cepat melaju, kala kuhabiskan denganmu.
Kita duduk di atas kereta yang terus melaju
sambil sedikit kebasahan, kurebahkan kepalaku di bahumu.
Aku senang, kamu menerima lagu kesukaanku waktu itu.
St. Patrick's Day-nya Mr. Mayerku.
Kamu yang terlelap sebentar, dan aku yang tersenyum memandangimu.
Ku tutup hari itu sambil terus tersenyum, dan tak melepaskan genggamanku darimu.
dan kucium pipi kananmu yang lucu.
Aku sangat suka kamu
aku
dan Kuala Lumpur milik kita.
Langganan:
Postingan (Atom)